Mengenai Apa yang Saya Lihat Usai Pilkada DKI Minggu Ini

Photo credit: dari sini

Dari mana harus saya mulai tulisan ini? Sebenarnya saya sedang tidak ingin menuliskan apa pun juga, tapi beberapa hal terlalu menggelitik untuk didiamkan begitu saja. Hari Rabu kemarin, Pilkada DKI dilaksanakan, dan seperti yang bisa ditebak sebagian orang, Pak Ahok kalah. Yang menang adalah paslon 3. Mari kesampingkan mengapa mereka menang, mengapa yang lain kalah, adanya isu sembako, tuduhan penistaan agama yang menurut beberapa pihak berlebihan, dan hal-hal anu lainnya.

Pak Ahok kalah dan banyak yang bersedih karenanya. Mungkin beliau adalah sejarah seorang gubernur yang ketika harus turun malah ditangisi rakyat. Beliau gubernur yang saya lihat membuka teras ‘rumah’-nya sebagai tempat untuk rakyat mengadu. Satu-satunya yang saya tahu sepanjang hidup saya yang mungkin belum terlalu lama ini. Entah dulu.

Continue Reading

Sebuah Postingan Tentang ‘Perpisahan’

Ini postingan sedih. Setidaknya jika pembaca nanti tidak sedih saat membacanya, sayalah yang sedih ketika menuliskannya.

Alkisah, dua tahun yang lalu saya masuk ke sebuah lingkungan kerja yang baru. Di kantor sebelumnya, saya belajar bekerja dengan ketat sesuai apa yang diberikan. Saya tentu boleh bercanda termasuk kepada atasan dan bos besar, tapi pekerjaan tetap pekerjaan. Jika saya tidak pintar memilih kawan, saya bisa celaka sendiri. Sebab dunia kerja adalah pertempuran mengenai masa depan –begitulah umumnya.

Saya tumbuh dalam keyakinan itu bahkan sebelum saya hengkang dari kampus. Saya bekerja di perusahaan pertama sejak berstatus mahasiswi tingkat akhir bahkan sidang penulisan ilmiah di sela-sela kesibukan kantor. Saya meyakini itu, membawanya ke sebuah perusahaan baru –kala itu, tempat saya baru saja diterima. Sebutlah ini perusahaan kedua.

Continue Reading

The Virgin Suicides dan Kegelisahan Anak Perempuan yang Jarang Diketahui Orang Banyak

Photo Credit: Subscene

Tak penting rasanya dari mana saya mengetahui film ini, atau apa yang membuat saya tiba-tiba saja ingin menonton The Virgin Suicides (1999). Sebenarnya, saya sempat punya bukunya, kemudian saya hibahkan kepada orang lain karena saya rasa saya takkan membacanya. Selain karena saya tak suka baca terjemahan (bukannya sombong atau sok fasih berbahasa Inggris juga, sih, tapi karena saya memang tersugesti bahwa sesuatu yang diterjemahkan ceritanya tak lagi sejelas dan se-greget yang asli. Begitu saja), ternyata saya tahu bahwa The Virgin Suicides ada filmnya.

Film berdurasi 1.5 jam ini menceritakan mengenai keluarga Lisbon. Oke, titik sentralnya memang keluarga Lisbon dan kelima anak perempuan mereka yang masih remaja –berumur kisaran 13-17 tahun. Tapi sebenarnya film dilihat dari sisi sekelompok remaja laki-laki yang penasaran dan kemudian mengamati keluarga ini. Jika tidak ditilik secara langsung dan hati-hati, orang luar hanya tahu bahwa keluarga Lisbon adalah keluarga yang bahagia -plus religius! Para anak remaja mereka tertawa, tersenyum, dan ceria di hadapan tetangga maupun teman-teman sekolahnya. Ayah mereka seorang guru matematika di sekolah. Apa yang salah? Tak ada. Semuanya lebih dari cukup.

Photo Credit: chelseagirl

Sampai tiba-tiba suatu hari, Cecilia (13 tahun), putri bungsu mereka mencoba bunuh diri. Psikiater tidak melihat ada keinginan yang benar-benar kuat dalam diri Cecilia untuk mati. Cecilia hanya sedang minta tolong –begitu kata psikiaternya. Kemudian, Tuan Lisbon melunak dan membujuk istrinya mengadakan pesta di rumah, mengundang remaja laki-laki dari rumah-rumah sebelah untuk datang. Harapannya, Cecilia kembali ceria dan berteman. Keempat saudarinya senang dengan pesta ini, sebab rumah mereka sepertinya jarang terbuka apalagi untuk anak lelaki. Tapi miris, malam itulah akhirnya Cecilia memilih mengakhiri hidupnya. Ia tampaknya tahu, bahwa pesta itu tidak tulus diadakan karena ingin pesta, tapi karena mereka hanya ingin ia ceria.

Continue Reading

Mengapa Mput Jalannya (Terlalu) Cepat?

Sudah berulang-ulang mendapatkan pertanyaan tersebut di atas, yang terakhir Sabtu kemarin. Saya keluar dari gang tempat saya tinggal, dan hendak menghampiri driver ojek online yang saya minta tunggu di depan gang. Nah, di depan saya ada mas-mas gang sebelah yang juga hendak ke masjid (waktu itu pukul tujuh kurang), kemudian saya masih asyik berjalan sendirian. Kelamaan, jalan saya semakin cepat dan sejajar dengan masnya. Lalu semakin cepat dan hampir mendahului, tapi masnya menyapa, “cepet banget jalannya, Mbak.” Ia tersenyum ramah.

Saya bukan orang yang senang menanggapi obrolan orang nggak dikenal di tengah jalan –terlebih saya tidak mengenai dia secara langsung. Tapi karena nada bicaranya tak terdengar ‘nakal’ atau iseng belaka, jadi saya jawab sambil terkekeh, “iya nih, Mas. Kalau sendirian kan malas jalan lama-lama.” Dia mengangguk, “Saya kira buru-buru banget, Mbak.”

Continue Reading

Mendengarkan MixTape ‘Pulang’ dari Saturday Corner –Mengenang dan Membayangkan Sebuah Perjalanan

Photo Credit: Ifnur Hikmah

Kemarin sore saya iseng mampir ke sebuah blog bertajuk Saturday Corner –blog kolaborasi seorang kawan dengan kawannya yang lain. Dulu sekali, saya pernah ngobrol dengan salah satu penulisnya untuk kepentingan postingan mereka, dan saya pikir postingan mereka pun unik juga. Ketika saya memilih tab ‘Pojok Apa Ini?’, hal yang saya baca pertama kali adalah…

Apa yang ada di kepala waktu bangun pagi di hari Sabtu?

Mungkin itulah cikal bakal mereka menciptakan sebuah ruang maya bernama Saturday Corner ini. Di dalamnya ada bermacam-macam tulisan; mulai dari ulasan musik, ulasan film, ulasan buku, hingga racauan acak dalam kepala. Selain itu, juga ada mixtape yang dibuat oleh penulis-penulisnya dengan tema tertentu. Seperti yang kita ketahui, mixtape pada dasarnya adalah gabungan atau kompilasi lagu yang kita susun sesuka hati berdasarkan suasana hati atau tema yang ingin kita buat. Awalnya hal ini dilakukan untuk mempermudah seseorang mengarsipkan lagu favoritnya –sebab dulu manusia masih memutar musik lewat kaset lagu, jelas belum sepraktis sekarang yang tinggal klik judul di Spotify, Joox, atau ITunes dan voila! Jadilah satu folder pribadi sendiri. Nggak, dulu mendengarkan musik tak segampang itu.

Photo credit: Saturday Corner

Tapi meski zaman sudah berubah, saya tetap menyukai konsep mixtape ini. Beberapa kali kawan-kawan dekat saya pernah membuat hal serupa –meski saya belum. Menurut saya mixtape punya keunikannya sendiri. Kita bisa mengompilasi lagu yang kita pikir bagus dan easy listening untuk kemudian dibagikan kepada orang lain. Tak perlu berlangganan akun musik apa pun untuk mengaksesnya. Cukup sediakan unduhannya, dan orang akan bisa mendengarkan hasil mixtape-mu di mana pun mereka berada.

Kali ini, saya mendengarkan mixtape bertajuk ‘Pulang’ dari Saturday Corner. Saya tertarik mengunduh mixtape ini hanya karena membaca judulnya. Pulang, apa yang kalian pikirkan tentang pulang? Katanya, seluruh perjalanan pasti bermuara pada satu hal: pulang ke rumah. Tapi apakah sebenarnya pulang itu? Buat saya, pulang tak harus ke ‘rumah’. Rumah saya beri tanda kutip sebab bagi saya rumah itu sendiri tak harus benda yang biasa kita ketahui secara awam. Rumah bisa (si)apa dan di mana saja dalam hidup ini. Terlebih, pulang tak harus ke rumah. Kamu pernah mendatangi suatu tempat dan merasa telah pulang karenanya? Saya sering merasa kepala saya seacak itu. Kerap kali, saya mendatangi tempat baru untuk pertama kali dalam hidup –tapi saya merasa ia begitu tenang seperti rumah. Di sana saya merasa pulang, bahkan merasa ingin kembali lagi suatu hari.

Continue Reading

Nonton Tarot: Mengapa Orang-orang Lebih Mudah Meniru Ketimbang Terinspirasi?

Jadi beberapa malam yang lalu entah kenapa saya sedang ingin nonton film, tapi nggak ada film yang menarik perhatian saya. Alih-alih buka laptop dan mencari film di folder, saya malah buka Youtube dan mencari film horror. Dari sekian banyak film horror yang nganu terutama film Indonesia khususnya –akhirnya saya ketemu sebuah film judulnya Tarot. Judulnya menarik? Lumayan. Sampai ketika saya tahu bahwa film ini semacam ingin menyama-nyamai film horror Thailand berjudul Alone yang seremnya sialan itu. Karena sebelumnya suka dan berkali-kali menonton Alone, saya tidak asing dengan premisnya –sepasang anak perempuan kembar yang mencintai satu orang lelaki, yang jahat ingin menyingkirkan yang baik, kemudian menguasai lelaki tersebut.

Pertanyaan besar saya yang pertama,

Mengapa orang-orang kebanyakan lebih suka menyama-nyamai, meniru, ketimbang terinspirasi dari hasil karya orang lain?

Okelah, kita tidak bisa bilang bahwa jalan cerita Tarot sama persis dengan Alone, tapi ketika kamu biasa menulis cerita atau membaca buku atau menonton film, kamu akan tahu yang namanya benang merah, satu hal yang membuat kedua cerita menjadi terlihat sama. Dan itulah yang bisa saya tangkap dari Tarot.

Continue Reading

Hal-hal yang Dipikirkan Perempuan Pada Usia 20 Pertengahan

Photo Credit: Pexels

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan bertemu dengan seorang kawan SMA. Saya pikir, saya sudah pernah menceritakan mengenai beliau sedikit di blog pribadi ini –entah, sudah lama sekali mungkin. Intinya, kawan saya itu merupakan salah satu karib saya semasa SMP bahkan hingga kuliah masih berinteraksi beberapa kali. Sempat terjadi drama dalam pertemanan kami, sebab ia introvert sejati dan saya intro-ekstrovert tergantung kebutuhan. Terkadang ada sedikit masalah kecil ketika saya didekati teman baru dan lebih cepat membaur bersama mereka. Tapi, tak apa, meski begitu, saya senang berteman dengannya.

Ia mengajak saya mencoba menulis cerpen pertama kali, dan saya pikir terima kasih yang seharusnya saya ucapkan padanya melebihi ucapan terima kasih di lembaran buku. Karena menulis saya mendapatkan banyak hal –teman baru, komunitas, materi, bahkan royalti untuk menyelamatkan sisa-sisa semester kuliah saya dulu. Saya belum sempat mengucapkannya langsung, sebab rencananya saya ingin memberikannya salah satu buku terbaru yang akan saya tulis entah kapan.

Kemarin, kami bertemu lagi setelah kurang lebih 4 tahun dari pertemuan terakhir. Waktu itu saya pulang ke Padang karena ayah saya sakit (dan kemudian beliau juga berpulang beberapa waktu sesudahnya). Sebelum hari itu, kami tak bertemu kurang lebih 2 tahun –sejak 2011, kelulusan sekolah. Kalau mau ditotal, pertemuan kami sejak 2011 hampir tak ada. Hanya satu dua jam pertemuan saja. Padahal, ada banyak sekali yang mungkin sama-sama ingin kami bagikan. Bagi saya ia teman yang asyik. Ia menemani saya sejak saya kucel dulu, hahaha. Meski agak tomboi, tapi ia pernah jatuh cinta bertahun-tahun pada lelaki yang sama.

Continue Reading

International Women’s Day 2017: Ironi Perempuan Indonesia, dan Rasa Aman yang Terasa Sangat Mahal

Dok. pribadi (Taman Sari, Jogja)

Hari ini masyarakat dunia –termasuk Indonesia, beramai-ramai merayakan hari perempuan internasional. Pada kesempatan ini pula aktivis feminisme beramai-ramai menyerukan suara dan tuntutan mereka. Setelah membaca mengenai kegiatan Women March tempo hari itu, ditambah dengan artikel 10 hal yang salah kaprah mengenai Feminisme yang sudah saya baca di sebuah portal feminis, membuat saya merasa tak ada salahnya untuk ikut menyerukan sesuatu. Saya bukan aktivis, pun tak ingin mengaku-ngaku feminis, tapi anggaplah apa pun yang kerap saya tulis mengenai perempuan khususnya di Indonesia, merupakan wujud nyata suara saya sebagai seorang perempuan saja.

Jika ada yang menganggap saya feminis atau anti patriarki, akan saya anggap sebagai kehormatan tersendiri nantinya.

Well, sejujurnya tak ada yang bisa saya harapkan di Hari Perempuan Internasional 2017 ini selain sebuah tempat yang ramah pada perempuan. Seperti yang kita semua tahu, perjuangan untuk menuntut kesetaraan dan kelayakan bagi perempuan sama sekali belum selesai. Bahkan saya tak yakin ini sudah separuh jalan. Beberapa data menyebutkan bahwa masih banyak perempuan yang menjadi korban KDRT, kekerasan dalam pacaran, perkosaan, pelecehan seksual di tempat umum, bahkan yang (dianggap orang) paling ‘sederhana’, bernama cat calling.

Continue Reading

Pesta Jamuan Makan Mayit ala Natasha Gabriella Tontey dan Selera Seni Orang Indonesia yang Sungguh Bagaimana

Beberapa hari belakangan ini media sosial dihebohkan dengan tagar #MakanMayit yang berupa makan malam sekaligus acara seni karya Natasha Gabriella Tontey (27thn). Acara yang berlokasi di Kemang ini seketika menuai komentar netizen tanah air sebab diunggah dalam sebuah akun gosip yang memang anyar dan komentatornya pun nyelekit.

Intinya, pada acara itu para hadirin dihidangkan makanan-makanan bertema bayi. Ada semacam pudding (atau ya semacam itu) yang berbentuk seperti new born baby yang tengah meringkuk telanjang, makanan yang disajikan dalam perut boneka bayi yang dibelek, dan ada pula makanan berbentuk otak (yang benar-benar kayak otak, ini bikin saya sedikit…. geli). Selain itu suasana tempatnya juga di-setting sedemikian rupa sehingga membangun kengerian. Para hadirin berpakaian serba putih, Natasha Gabriella Tontey sendiri berpakaian ala biarawati dan berpose misterius di foto-foto instagram.

Adanya info bahwa makanan ini juga diolah dari ASI asli seorang kawan Natasha Gabriella Tontey, dan ekstrak keringat bayi or whatever itulah yang kemudian memancing kemarahan ibu-ibu setanah air. Bahkan banyak pula anak muda yang mengecam aksi tersebut. Sebenarnya sebelum hal ini dipamerkan di Jakarta, kabarnya sudah sukses di Jepang. Latar belakangnya sebenarnya unik menurut saya. Natasha Gabriella Tontey ingin mengangkat horror yang tak biasa. Gadis yang berpostur imut ini sepertinya suka yang antimainstream, jadi ia mengangkat ketakutan-ketakutan manusia dari sisi yang lain. Inspirasinya datang dari peristiwa G30SPKI yang menjadi sejarah kelam negeri ini, pun dari kanibalisme Sumanto yang menggegerkan Indonesia bertahun yang lalu.

Ketika saya mencari-cari info mengenai #MakanMayit di Instagram, ada sebuah postingan yang panjang lebar berkata bahwa ia tak mengerti di mana benang merahnya Natasha Gabriella Tontey menghubungkan G30SPKI, kanibalisme, dengan bayi-bayi mungil yang dimakan itu. Tapi yang menarik adalah sebuah komentar lain. Kira-kira begini bunyinya..

…jika pameranmu ini sukses besar di Jepang, bukan berarti akan disambut bahagia juga di sini! Kamu tidak tahu berapa banyak perempuan yang terluka karena #MakanMayit ini.

Dan tak sedikit pula yang mengecam dan langsung menghakimi bahwa Natasha Gabriella Tontey adalah pemuja setan, anti Christ, pengikut Lucifer, dan yang lainnya. Tak heran, sih, sebab di Instagramnya juga banyak foto-foto beraroma kelam. Misalnya di salah satu postingan, ia tengah mengucapkan selamat ulang tahun buat ibunya, tapi memposting kue berbentuk peti mati dengan ukiran salib terbalik dan boneka Barbie telanjang tanpa kepala! Hahaha. Bukan saya membela atau berpihak pada Natasha Gabriella Tontey, tapi menurut saya ia punya cara yang unik dalam mengungkapkan sesuatu, bukan? Ia merayakan pengulangan tahun ibunya dengan foto ‘aneh’ mencekam, alih-alih foto riang gembira seperti yang dilakukan orang kebanyakan. Barangkali orang banyak pula mengecamnya gara-gara ini, namun melupakan sebuah pameo bahwa entah mengapa orang-orang merayakan ulang tahun dengan riang gembira, padahal hari itu ia baru saja kehilangan satu tahun lagi sisa umur yang ada.

Continue Reading

Merayakan 4 Tahun Kepergian

Gambar: Pexels

Saya menuliskan ini tanggal 27 Januari malam, menjelang 28 Januari dinihari. Hari-hari di tanggal seperti ini merupakan saat paling menyedihkan dalam hidup saya empat tahun lalu, ketika tahu bahwa ayah saya ‘pergi’ karena penyakit yang dideritanya ‘hanya’ dalam rentang dua tahun dan berhasil meremukkan hampir seluruh tubuh. Saya pikir, mungkin itu akan jadi salah satu saat yang paling menyedihkan seumur hidup saya nanti. Sungguh 19 tahun yang terasa begitu singkat, dan masih banyak hal yang kami cita-citakan bersama. Ayah ingin saya kuliah sampai S2 bahkan S3, dan segudang harapan lainnya yang mendadak tak ingin lagi saya lanjutkan usai kepergian beliau.

Continue Reading
1 2 3 28