Cara Ngeblog Baru yang Lebih Santai dan Asyik

Sejatinya saya anak yang iseng dan senang mencoba sesuatu yang baru. Beberapa tahun lalu saya  sempat bergabung dan membuat akun Tumblr meski akhirnya hilang karena saya tak sengaja menghapusnya –oke, ini pelajaran, jangan ngedit blog ketika mata mengantuk. Skip! Selanjutnya saya membuat akun Medium –serupa Kompasiana kalau di Indonesia. Saya cukup menikmati Medium dan posting beberapa hal secara berkala di sana.

Tetapi saya tak puas, saya masih mencari-cari alternatif selain blog –sebuah wadah yang mungkin asyik untuk menumpahkan unek-unek dalam kepala. Seorang kawan lalu menyarankan menulis di Opini. Meski, sebelumnya saya mengenal Opini sebatas video 1 menit, dan video itu jadi favorit saya sampai sekarang. Ada di sini. Jujur, sebagai penulis konten, saya sering berselancar di dunia maya untuk mencari berita, dan Opini adalah salah satu portal yang saya sukai konsepnya.

Continue Reading

Bisnis E-book Bajakan, Salah Satu Alasan Pentingnya Mengajarkan Tentang Hak Cipta Pada Generasi Muda

Photo Credit: Pexels

Tiba-tiba saja tempo hari salah satu grup saya yang berisi beberapa orang bloger membahas topik mengenai e-book bajakan. Pembahasan mengenai e-book bajakan ini bermula ketika seorang penulis yang cukup terkenal misuh-misuh tentang pembajakan –kemudian warganet menyerangnya kembali dengan sebuah tweet lamanya yang ketika itu sedang-ingin-belanja-kaset-bajakan.

Di Instagram ada banyak banget!

Seperti yang kita tahu, warganet kita memiliki ketajaman komentar yang sulit dibantah. Dan dengan cepat, tema itu merambah grup-grup chat yang saya ikuti. Kebetulan, salah satunya kemudian membahas e-book bajakan. Yang paling menyakitkan selain karya dibajak, barangkali adalah harga jual e-book bajakan itu sendiri. Sungguh harganya di luar nalar. Sebuah buku cetak yang asli bisa dijual Rp 50.000,- ke atas. Biasanya, harga jual buku asli versi cetak dan versi digital takkan jauh berbeda. Barangkali hal inilah yang menyebabkan banyak orang mau membeli e-book bajakan.

Terlebih, bisnis e-book bajakan tampak seperti jaringan mafia kecil-kecilan yang sudah mendarah daging di negara ini. Yang saya tahu, 1 admin toko online penjual e-book bajakan itu tak pernah sendiri. Mereka punya bandar –mari kita sebut saja begitu, yang biasa mereka panggil sebagai ‘pusat’. Bandar atau pusat inilah yang menyediakan data-data e-book bajakan untuk mereka jual kepada pembeli –plus iming-iming bisa dibayar menggunakan pulsa, jika tidak memiliki rekening bank.

Continue Reading

Menulis Surat dan Buku Harian, Masih Zaman Nggak, sih?

Photo credit: Pexels

Era digital semakin lama semakin berkembang, jenis media sosial bertambah, dan semuanya berlomba-lomba membuat fitur keren nan praktis –plus tentunya menyenangkan pengguna. Misalnya fitur stories mulai ada di mana-mana. Awalnya diciptakan Snapchat, belakangan Instagram, Facebook, Path, bahkan Whatsapp udah mulai sok stories. Meski yang sukses kayaknya cuma Instagram karena mampu bersaing dengan Snapchat meski tak seutuh Snapchat.

Well, di tengah-tengah lingkungan yang seperti ini, saya tiba-tiba saja terpikirkan tentang surat, buku harian, kartu pos, dan segala yang antik-antik itu. Kalau kartu pos, masih ada perkumpulannya sendiri –di mana para anggotanya memang senang bertukar kartu pos secara berkala. Kartu pos, saya juga menyukainya meski di sana  pula kesalahan terbesar saya. Saya berusaha terjun ke dunia mereka, meski saya kurang punya waktu untuk mampir ke kantor pos. Mereka banyak yang berniat baik dan mengirimi saya, sayangnya saya belum sempat membalas. Duh, saya kadang merasa jahat.

Skip.

Continue Reading

Perempuan Jalan Sama Laki-laki, Terus Siapa yang Bayar?

Photo credit: Pexels

Ini mungkin sebuah postingan yang agak out of topic dari yang biasa saya tulis, tapi sungguh membuat saya penasaran –dan memang baru terpikirkan belakangan ini, sih.

Kalau kalian sebagai perempuan, jalan sama lelaki, siapa yang bayar makan/minum/nonton/ whatever kegiatan kalian seharian itu?

Oh, sebentar, mungkin juga sikonnya berbeda-beda. Kalian boleh posisikan hubungan kalian sekadar kenalan biasa, sahabat, atau pacar. Tetapi tidak bagi yang sudah menikah. Saya nggak mau menyentuh ranah rumah tangga –yang notabene biasanya dianggap sebagai tanggung jawab lelaki sepenuhnya. Satu, karena saya belum sampai di tahap sana. Dua, karena itu mulai berat dan serius pula bahasannya.

Continue Reading

Trip Edisi Lebaran: Pulau Harapan

Karena nggak tahu mau menghabiskan waktu ke mana, akhirnya saya dan beberapa teman memutuskan jalan ke Kepulauan Seribu pada lebaran kemarin. Salah satu alasan memilih wisata laut adalah menghindari macet. Meski wisata laut nggak bisa dibilang sepi sebab dek kapal masih seperti isi kaleng sarden, setidaknya lebih cepat tiba di tujuan sebab lautan berbeda kondisi dengan tol Jagorawi.

Saya dan 3 teman berangkat dari Jakarta –tepatnya Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, pukul 8 pagi. Tiba di Pulau Harapan –yang letaknya nggak jauh dan nggak terlalu dekat itu, sekitar pukul 11. Kami langsung diantarkan ke homestay dan diberi jatah makan siang. Setelahnya, ada waktu untuk bersiap sebentar sebelum akhirnya langsung turun ke laut untuk snorkling.

Acara snorkling kami sempat agak drama karena di tengah perjalanan laut itu hujan badai turun. Akhirnya menepi di salah satu pulau sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Untungnya, 2 sesi snorkling nggak batal, tetap dilakukan sampai sore. Sebagai newbie dalam dunia snorkling, saya berkali-kali keselek air laut, tapi gilanya saya sempat ketawa ngakak di tengah laut karena ada 1 perahu yang berhenti di samping perahu rombongan saya –isinya sekelompok laki-laki bertelanjang dada yang snorkling sambil nyetel musik dangdut. Saya jadi sempat lupa bahwa saya takut tenggelam (ya, maklum, namanya juga pemula. Udah pakai rompi tetap takut tenggelam) dan ketawa ngakak sampai harus buka selang & kacamata, keselek air asin, baru lanjut snorkling lagi.

Continue Reading

Catatan Tentang Main ke Pulau

Tempo hari saya main ke pulau. Tidak jauh, hanya salah satu bagian dari Kepulauan Seribu, masih di sini-sininya Jakarta juga. Di sana –seperti layaknya pulau yang lain, tentu kiri kanan lautan luas. Saya mendapati diri saya sudah duduk di atas perahu kecil sekitar pukul 1 siang, bersiap ikut jadwal snorkling. Bukan snorkling yang menarik perhatian saya, tapi justru lautan luas di kiri dan kanan.

Saya duduk di atas perahu, melihat gelombang air laut menari-nari, siap menelan siapa saja yang terjatuh –terlebih yang skill berenangnya amatiran seperti saya. Awan di langit mulai hitam. Saya sedikit cemas, kalau-kalau mendadak hujan. Tetapi saya melihat tour guide rombongan saya santai saja. Ia seolah sudah terlatih hidup di lautan, seperti punya antisipasi untuk segala situasi.

Tak lama, ternyata benar saja.. hujan mulai turun dan menjadi deras. Perahu kami berbelok ke sebuah pulau kecil. Di sana orang-orang berteduh, ada beberapa vila tak berpenghuni yang sudah tua dimakan zaman, tapi tak ada yang tahu pemiliknya. Pulau itu kalau tak salah namanya Pulau Perak, mungkin hanya digunakan para tour guide dari pulau lain untuk membawa rombongan berteduh jika hujan di tengah laut. Karena memang sedang musim liburan, pulau sepi itu menjadi ramai. Ada 1 warung buka dan dipadati pengunjung.

Continue Reading

Semua Hal Memiliki Waktunya Sendiri

Photo credit: dari sini

Beberapa hari ini saya pikir banyak cerita sedih. Selain dengan ulang tahun dan beberapa kado, Mei saya lewati bersama sakit, puluhan butir obat yang menyebalkan, lelah, dan beberapa cerita tak enak dari kawan-kawan. Well, begitulah. Tema utamanya adalah: mengapa sahabat kita ‘pergi’ setelah mereka memiliki pasangan? Meski mungkin tidak semuanya begini, tetapi cerita-cerita yang saya terima temanya begini.

Saya pikir, sebagai manusia, kita akan melewati banyak hal. Banyak hal, pada waktunya masing-masing. Sahabat dan teman pergi atau tidak punya waktu main lagi untuk kita setelah punya pasangan -bahkan calon istri/suami, itu sungguh manusiawi. Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Memangnya siapa yang mau mengorbankan masa depannya demi orang lain –meski kamu temannya sejak kuliah sekalipun? Ada, tapi tidak banyak. Terlebih jika pasangan temanmu tidak mengenalmu dengan baik. Jarak akan datang pada waktunya.

Saya mendengar beberapa cerita serupa, kalimat-kalimat kecewa dan sedih. Tapi saya tidak bisa memberikan penghiburan apa-apa. Saya bilang pada seorang kawan yang sedih ditinggal ‘sahabat’-nya setelah punya suami: ada masanya, semua ada masanya. Kita nggak bisa menyalahkan siapa-siapa. Time flies and people changes. 

Continue Reading

Mengenai Apa yang Dipikirkan Manusia Tentang Kesendiriannya Sendiri

Photo Credit: di sini

Beberapa hari yang lalu saya membaca kumpulan puisi Aan Mansyur, judulnya Sebelum Sendiri. Bukan yang terbaru, sebab tak lama setelah saya memesan buku tersebut, Aan Mansyur kembali menerbitkan buku barunya lagi. Sebelum Sendiri cenderung tipis –dan agak di luar bayangan saya (mengenai ukurannya, sih). Diksinya masih khas Aan Mansyur banget, yang suka nyeletuk pendek-sederhana-tapi ngena gitu.

Hanya saja, karena ini bukan buku pertama beliau yang saya baca, saya jadi membanding-bandingkannya dengan judul sebelumnya, misalnya Tidak Ada New York Hari Ini. Sejujurnya pula, saya lebih menyukai Tak Ada New York Hari Ini. Emosinya lebih mengena. Mungkin juga karena puisi itu dibuat berdasarkan perasaan (fiksi) seorang lelaki bernama Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta –jadi puisinya jauh lebih hidup.

Oke, skip. Bukan itu poinnya.

Tetapi setelah saya pikir-pikir, saya rasa semua orang punya sisi kesendirian dalam dirinya. Sama seperti kata Aan Mansyur,

Banyak sekali orang di jalanan. tidak ada manusia. di puisi cuma ada kau & mereka yang tidak memiliki nama.
kalau hidup ialah permainan, aku kalah
setiap hari oleh diri
sendiri.

Nah, itulah. Saya sering merasa seperti ini: setiap kali saya pulang dari traveling ke kota yang lebih kecil dan kembali lagi ke Jakarta, saya kerap ingin merasa sendirian saja. Saya malas bertemu dengan banyak teman –apalagi yang bergerombolan sekaligus. Biasanya saya akan keluar sendiri ke tempat yang tidak terlalu ramai, atau bertemu satu orang teman dalam sehari, membeli kopi, ngobrol seharian dengannya, menulis, membaca buku, dan kemudian kembali lagi ke kamar untuk tidur serta menunggu pagi berikutnya terbit.

Saya pikir, semakin sering saya ke kota kecil, saya jadi menyukai kesendirian. Barangkali juga sebab Jakarta sudah terlalu sibuk dan sumpek. Saya tak menyalahkan Jakarta. Kita tak bisa menyalahkan seseorang karena ia terlahir sebagai perempuan atau lelaki, begitu pun kita tak bisa menyalahkan Jakarta sebab ia menjadi ibukota yang ramai dan sumpek. Sepenuhnya bukan salah Jakarta, sebab ia hanya sebuah kota. Manusialah yang menjadikannya ada atau bahkan kelak tiada –siapa yang tahu.

Continue Reading

[Guest Post] Sejarah dan Perkembangan Street Art di Indonesia

Kamu pernah melihat gambar-gambar seperti di bawah ini?

Photo Credit: di sini

Atau yang ini?

Photo Credit: dari sini

Ya, Inilah yang disebut dengan Street Art. Tidak ada penjelasan secara definitif mengenai Street Art, pengertian secara umum adalah objek visual yang mengandung nilai seni yang dibuat di lokasi publik. Karena ada pelarangan terkait aksi mencoret-coret di tempat publik di banyak negara termasuk di Indonesia maka pembuatan Street Art ini biasanya illegal.

Di Indonesia Street Art identik dengan grafity dan mural, meskipun di beberapa negara ketiga nama ini mengandung arti yang berbeda tergantung dari tema dan desain yang dibuat dan dihasilkan. Street Art biasanya dibuat menggunakan spray, cat tembok atau cat kayu dan media pendukung lainnya seperti kapur, masking tape, dan lainnya, yang dapat menghasilkan sebuah gambar.

Continue Reading

Mengenai Apa yang Saya Lihat Usai Pilkada DKI Minggu Ini

Photo credit: dari sini

Dari mana harus saya mulai tulisan ini? Sebenarnya saya sedang tidak ingin menuliskan apa pun juga, tapi beberapa hal terlalu menggelitik untuk didiamkan begitu saja. Hari Rabu kemarin, Pilkada DKI dilaksanakan, dan seperti yang bisa ditebak sebagian orang, Pak Ahok kalah. Yang menang adalah paslon 3. Mari kesampingkan mengapa mereka menang, mengapa yang lain kalah, adanya isu sembako, tuduhan penistaan agama yang menurut beberapa pihak berlebihan, dan hal-hal anu lainnya.

Pak Ahok kalah dan banyak yang bersedih karenanya. Mungkin beliau adalah sejarah seorang gubernur yang ketika harus turun malah ditangisi rakyat. Beliau gubernur yang saya lihat membuka teras ‘rumah’-nya sebagai tempat untuk rakyat mengadu. Satu-satunya yang saya tahu sepanjang hidup saya yang mungkin belum terlalu lama ini. Entah dulu.

Continue Reading
1 2 3 29