Nonton Tarot: Mengapa Orang-orang Lebih Mudah Meniru Ketimbang Terinspirasi?

Jadi beberapa malam yang lalu entah kenapa saya sedang ingin nonton film, tapi nggak ada film yang menarik perhatian saya. Alih-alih buka laptop dan mencari film di folder, saya malah buka Youtube dan mencari film horror. Dari sekian banyak film horror yang nganu terutama film Indonesia khususnya –akhirnya saya ketemu sebuah film judulnya Tarot. Judulnya menarik? Lumayan. Sampai ketika saya tahu bahwa film ini semacam ingin menyama-nyamai film horror Thailand berjudul Alone yang seremnya sialan itu. Karena sebelumnya suka dan berkali-kali menonton Alone, saya tidak asing dengan premisnya –sepasang anak perempuan kembar yang mencintai satu orang lelaki, yang jahat ingin menyingkirkan yang baik, kemudian menguasai lelaki tersebut.

Pertanyaan besar saya yang pertama,

Mengapa orang-orang kebanyakan lebih suka menyama-nyamai, meniru, ketimbang terinspirasi dari hasil karya orang lain?

Okelah, kita tidak bisa bilang bahwa jalan cerita Tarot sama persis dengan Alone, tapi ketika kamu biasa menulis cerita atau membaca buku atau menonton film, kamu akan tahu yang namanya benang merah, satu hal yang membuat kedua cerita menjadi terlihat sama. Dan itulah yang bisa saya tangkap dari Tarot.

Continue Reading

Hal-hal yang Dipikirkan Perempuan Pada Usia 20 Pertengahan

Photo Credit: Pexels

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan bertemu dengan seorang kawan SMA. Saya pikir, saya sudah pernah menceritakan mengenai beliau sedikit di blog pribadi ini –entah, sudah lama sekali mungkin. Intinya, kawan saya itu merupakan salah satu karib saya semasa SMP bahkan hingga kuliah masih berinteraksi beberapa kali. Sempat terjadi drama dalam pertemanan kami, sebab ia introvert sejati dan saya intro-ekstrovert tergantung kebutuhan. Terkadang ada sedikit masalah kecil ketika saya didekati teman baru dan lebih cepat membaur bersama mereka. Tapi, tak apa, meski begitu, saya senang berteman dengannya.

Ia mengajak saya mencoba menulis cerpen pertama kali, dan saya pikir terima kasih yang seharusnya saya ucapkan padanya melebihi ucapan terima kasih di lembaran buku. Karena menulis saya mendapatkan banyak hal –teman baru, komunitas, materi, bahkan royalti untuk menyelamatkan sisa-sisa semester kuliah saya dulu. Saya belum sempat mengucapkannya langsung, sebab rencananya saya ingin memberikannya salah satu buku terbaru yang akan saya tulis entah kapan.

Kemarin, kami bertemu lagi setelah kurang lebih 4 tahun dari pertemuan terakhir. Waktu itu saya pulang ke Padang karena ayah saya sakit (dan kemudian beliau juga berpulang beberapa waktu sesudahnya). Sebelum hari itu, kami tak bertemu kurang lebih 2 tahun –sejak 2011, kelulusan sekolah. Kalau mau ditotal, pertemuan kami sejak 2011 hampir tak ada. Hanya satu dua jam pertemuan saja. Padahal, ada banyak sekali yang mungkin sama-sama ingin kami bagikan. Bagi saya ia teman yang asyik. Ia menemani saya sejak saya kucel dulu, hahaha. Meski agak tomboi, tapi ia pernah jatuh cinta bertahun-tahun pada lelaki yang sama.

Continue Reading

International Women’s Day 2017: Ironi Perempuan Indonesia, dan Rasa Aman yang Terasa Sangat Mahal

Dok. pribadi (Taman Sari, Jogja)

Hari ini masyarakat dunia –termasuk Indonesia, beramai-ramai merayakan hari perempuan internasional. Pada kesempatan ini pula aktivis feminisme beramai-ramai menyerukan suara dan tuntutan mereka. Setelah membaca mengenai kegiatan Women March tempo hari itu, ditambah dengan artikel 10 hal yang salah kaprah mengenai Feminisme yang sudah saya baca di sebuah portal feminis, membuat saya merasa tak ada salahnya untuk ikut menyerukan sesuatu. Saya bukan aktivis, pun tak ingin mengaku-ngaku feminis, tapi anggaplah apa pun yang kerap saya tulis mengenai perempuan khususnya di Indonesia, merupakan wujud nyata suara saya sebagai seorang perempuan saja.

Jika ada yang menganggap saya feminis atau anti patriarki, akan saya anggap sebagai kehormatan tersendiri nantinya.

Well, sejujurnya tak ada yang bisa saya harapkan di Hari Perempuan Internasional 2017 ini selain sebuah tempat yang ramah pada perempuan. Seperti yang kita semua tahu, perjuangan untuk menuntut kesetaraan dan kelayakan bagi perempuan sama sekali belum selesai. Bahkan saya tak yakin ini sudah separuh jalan. Beberapa data menyebutkan bahwa masih banyak perempuan yang menjadi korban KDRT, kekerasan dalam pacaran, perkosaan, pelecehan seksual di tempat umum, bahkan yang (dianggap orang) paling ‘sederhana’, bernama cat calling.

Continue Reading

Pesta Jamuan Makan Mayit ala Natasha Gabriella Tontey dan Selera Seni Orang Indonesia yang Sungguh Bagaimana

Beberapa hari belakangan ini media sosial dihebohkan dengan tagar #MakanMayit yang berupa makan malam sekaligus acara seni karya Natasha Gabriella Tontey (27thn). Acara yang berlokasi di Kemang ini seketika menuai komentar netizen tanah air sebab diunggah dalam sebuah akun gosip yang memang anyar dan komentatornya pun nyelekit.

Intinya, pada acara itu para hadirin dihidangkan makanan-makanan bertema bayi. Ada semacam pudding (atau ya semacam itu) yang berbentuk seperti new born baby yang tengah meringkuk telanjang, makanan yang disajikan dalam perut boneka bayi yang dibelek, dan ada pula makanan berbentuk otak (yang benar-benar kayak otak, ini bikin saya sedikit…. geli). Selain itu suasana tempatnya juga di-setting sedemikian rupa sehingga membangun kengerian. Para hadirin berpakaian serba putih, Natasha Gabriella Tontey sendiri berpakaian ala biarawati dan berpose misterius di foto-foto instagram.

Adanya info bahwa makanan ini juga diolah dari ASI asli seorang kawan Natasha Gabriella Tontey, dan ekstrak keringat bayi or whatever itulah yang kemudian memancing kemarahan ibu-ibu setanah air. Bahkan banyak pula anak muda yang mengecam aksi tersebut. Sebenarnya sebelum hal ini dipamerkan di Jakarta, kabarnya sudah sukses di Jepang. Latar belakangnya sebenarnya unik menurut saya. Natasha Gabriella Tontey ingin mengangkat horror yang tak biasa. Gadis yang berpostur imut ini sepertinya suka yang antimainstream, jadi ia mengangkat ketakutan-ketakutan manusia dari sisi yang lain. Inspirasinya datang dari peristiwa G30SPKI yang menjadi sejarah kelam negeri ini, pun dari kanibalisme Sumanto yang menggegerkan Indonesia bertahun yang lalu.

Ketika saya mencari-cari info mengenai #MakanMayit di Instagram, ada sebuah postingan yang panjang lebar berkata bahwa ia tak mengerti di mana benang merahnya Natasha Gabriella Tontey menghubungkan G30SPKI, kanibalisme, dengan bayi-bayi mungil yang dimakan itu. Tapi yang menarik adalah sebuah komentar lain. Kira-kira begini bunyinya..

…jika pameranmu ini sukses besar di Jepang, bukan berarti akan disambut bahagia juga di sini! Kamu tidak tahu berapa banyak perempuan yang terluka karena #MakanMayit ini.

Dan tak sedikit pula yang mengecam dan langsung menghakimi bahwa Natasha Gabriella Tontey adalah pemuja setan, anti Christ, pengikut Lucifer, dan yang lainnya. Tak heran, sih, sebab di Instagramnya juga banyak foto-foto beraroma kelam. Misalnya di salah satu postingan, ia tengah mengucapkan selamat ulang tahun buat ibunya, tapi memposting kue berbentuk peti mati dengan ukiran salib terbalik dan boneka Barbie telanjang tanpa kepala! Hahaha. Bukan saya membela atau berpihak pada Natasha Gabriella Tontey, tapi menurut saya ia punya cara yang unik dalam mengungkapkan sesuatu, bukan? Ia merayakan pengulangan tahun ibunya dengan foto ‘aneh’ mencekam, alih-alih foto riang gembira seperti yang dilakukan orang kebanyakan. Barangkali orang banyak pula mengecamnya gara-gara ini, namun melupakan sebuah pameo bahwa entah mengapa orang-orang merayakan ulang tahun dengan riang gembira, padahal hari itu ia baru saja kehilangan satu tahun lagi sisa umur yang ada.

Continue Reading

Merayakan 4 Tahun Kepergian

Gambar: Pexels

Saya menuliskan ini tanggal 27 Januari malam, menjelang 28 Januari dinihari. Hari-hari di tanggal seperti ini merupakan saat paling menyedihkan dalam hidup saya empat tahun lalu, ketika tahu bahwa ayah saya ‘pergi’ karena penyakit yang dideritanya ‘hanya’ dalam rentang dua tahun dan berhasil meremukkan hampir seluruh tubuh. Saya pikir, mungkin itu akan jadi salah satu saat yang paling menyedihkan seumur hidup saya nanti. Sungguh 19 tahun yang terasa begitu singkat, dan masih banyak hal yang kami cita-citakan bersama. Ayah ingin saya kuliah sampai S2 bahkan S3, dan segudang harapan lainnya yang mendadak tak ingin lagi saya lanjutkan usai kepergian beliau.

Continue Reading

Solo, Solitude –Istirahatlah Kata-Kata; Sisi Sunyi Wiji Thukul Semasa Pelarian

WhatsApp Image 2017-01-23 at 9.36.51 AM

Akhirnya kemarin saya berhasil menonton Film Wiji Thukul –Istirahatlah Kata-kata, setelah sekian lama menunggu film ini dibuat dan apakah memang akan ditayangkan di bioskop atau tidak. Akhirnya film ini tayang, dan saya ketar-ketir ingin menontonnya dalam waktu dekat karena takut ‘turun layar’. Bukan saya pesimis pada film tersebut, tapi seringkali film yang segmented dan pasarnya tidak umum, tak bertahan lama di bioskop. Namun, di luar dugaan, hari-hari pertama tayang ada kabar bahwa film itu meledak dan studio banyak yang penuh. Menimbang itu, beberapa bioskop lain menaikkan filmnya sehingga malah jadi ‘tambah layar’.

Saya senang, saya menjadi orang yang ikut menonton perjalanan Thukul tersebut. Saya membaca buku-bukunya bertahun yang lalu, membaca biografinya dalam sebuah buku terbitan Tempo, membaca majalah yang membahas beliau. Dan sekarang saya menyaksikan Thukul di layar sinema –meski bukan nyata-nyata Thukul yang memerankan dirinya, sebab ia tak kunjung kembali sejak dinyatakan hilang 1998 yang silam.

Kalau ada yang berharap film ini bermuatan politik, jangan berekspektasi lebih. Sesungguhnya film ini menyajikan sisi sunyi seorang Wiji Thukul selama dalam pelarian ke Pontianak. Bagaimana ia merasa sepi jauh dari istri dan anak-anaknya. Bagaimana teman-temannya berusaha menghibur; mengajak ngobrol, menanyakan buku yang ia baca, dan berbagai jenis hiburan lainnya. Di Pontianak, Thukul menumpang di rumah seorang kawan –kadang berpindah, tapi tak juga hilang rasa rindunya pada Sipon –sang istri, serta Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah, anaknya.

Continue Reading

#JawaTimurTrip 6: Apa Enaknya ke Malang Tanpa Ke Batu atau Bromo?

IMG_0456

Ketika saya pulang dari trip akhir tahun kemarin, banyak yang bertanya,

Sempat ke Batu atau Bromo, nggak, nih? Terus apa enaknya ke Malang tanpa mengunjungi minimal salah 1 dari 2 tempat tersebut? 

Orang-orang kerap mengidentikkan Malang sepaket dengan Batu atau Bromo. Seorang kawan saya pun sampai bilang, sayang banget lo kalau ke Malang tapi nggak ke Bromo. Belum pernah ke Bromo, kan?

Saya menghargai pendapatnya, sama seperti orang-orang yang bilang, sayang banget lo nggak nonton film anu, soalnya box office, meledak di 10 negara! Misalnya, sedangkan saya inginnya nonton sebuah film Indonesia yang meledak di 1 bioskop saja tidak. Nah, saya adalah Taurus keras kepala yang lebih senang melakukan apa yang saya mau ketimbang apa yang disukai orang lain. Saya hidup dengan cara saya sendiri, bukan dari keinginan orang lain. Makanya, sifat ini terbawa-bawa dalam keseharian dan dalam semua hal yang saya lakukan, salah satunya ketika liburan.

Saya pernah kok liburan mainstream –datang ke tempat-tempat yang ramai dikunjungi wisatawan, sering malah. Ketika ke Dieng, ke Jogja, ke Puncak. Tapi ketika ke Malang, saya liburan saat kepala saya mumet parah dan saya hanya ingin liburan untuk menenangkan isi otak. Kak Ayu bilang, kali ini kamu liburan selow aja. Kita jalan-jalan keliling kota. Sebenarnya, apa menariknya keliling kota kecil, kan? Hampir tak ada. Tapi saya berpikir, mungkin saya harus belajar melihat hidup dengan lebih selow, setidaknya 7 hari saja selama trip itu.

Continue Reading

#JawaTimurTrip 5: Perjalanan Sehari Ke Surabaya: Melihat Koleksi Museum Santet, Gerbang Dunia Lain, dan Tur Bareng Bus Sampoerna!

IMG_0926

Tadinya, saya berencana ke Malang saja. Kemudian, suatu hari ada seorang kawan –Om Warm, begitu saya memanggilnya, yang meng-update tentang Museum Santet atau Museum Kesehatan Dr. Adhyatma, MPH yang ada di Surabaya. Beliau yang sempat bertemu saya di Jogja itu mengatakan, bahwa lokasi museum ini dulu adalah ruang kelasnya, dan yang mendirikan museum tersebut adalah dosennya sendiri. Museum Kesehatan –atau yang memang jauh lebih dikenal dengan nama Museum Santet ini memang bukan sesuatu yang baru, tapi sungguh saya penasaran. Dan saya belum pernah ke Surabaya! Jadi, saya pikir mungkin inilah momennya.

Kemudian, yang harus saya pikirkan adalah, apa saya bisa merapel kedua trip tersebut? Saking penasaran, saya bertanya pada Desi –seorang kawan penulis, anak Surabaya. Menurut dia, saya bisa ke Surabaya dengan menumpang kereta atau bus dari malang. Kereta pun hanya Rp 40.000,- saja. Cukup murah, kan? Sayangnya, nggak ada jadwal yang cocok untuk saya. Sebab kereta Surabaya untuk tanggal-tanggal sekian itu baru berangkat pukul 2 siang dari Malang, sedangkan saya mengincar one day trip saja. Tiba dari pagi saja belum tentu puas, apalagi tiba menjelang sore !

Akhirnya Desi bilang, nggak usah beli tiket kereta. Dari Malang kamu naik bus di Terminal Arjosari, ada banyak. Turun di Terminal Purabaya, aku jemput !

Continue Reading

#JawaTimurTrip 4: Keliling Kampung Warna-warni Jodipan, Mengintip Kampung Tridi, hingga Gagal ke Museum Malang Tempoe Doeloe!

IMG_0647

Hari berikutnya! Setelah memutuskan untuk tidak ke Batu –karena pertimbangan bahwa ini adalah long weekend dan jalanan ke Batu itu sedang parah-parahnya, akhirnya saya kesampaian main ke Jodipan. Jalanan ke Batu sebelas dua belas dengan jalanan ke puncak dari Jakarta ketika long weekend. Agak-agak mengerikan membayangkannya, jadi saya memutuskan untuk keliling Malang kota saja. Paginya, sebelum mampir ke destinasi yang direncanakan hari itu, saya dan Kak Ayu sempat sarapan di sebuah toko kue kecil di Jl. Cipto. Namanya Toko Kue Sara. Yang menarik perhatian saya adalah warna bangunannya, tapi kata Kak Ayu kuenya juga lumayan. Akhirnya kami mampir ke sana dan menikmati masing-masing dua potong kue. Lumayan enak, dan masih jadi kenangan yang yummy dalam otak saya sampai hari ini. Hahaha.

Kebetulan lagi, untuk destinasi Malang kota, Jodipan alias Kampung Warna-warni dan Kampung Tridi yang ada di sebelahnya, masih termasuk area Malang kota dan tidak sulit dijangkau. Saya melewati perkampungan ini ketika hendak masuk Stasiun Malang. Dan hari itu kamu memutuskan hendak ke sana. Katanya bagus untuk motret, baik dari atas jembatan maupun dari dalam kampungnya sendiri! Usut punya usut, ternyata Kampung Jodipan adalah proyek CSR sebuah produk cat. Ceritanya, kampong ini merupakan perkampungan kumuh dulunya –beberapa tahun lalu, sebelum berubah warna. Seorang warna kemudian berinisiatif mengubah warna cat rumahnya menjadi lebih cerah. Kemudian, Kampung Jodipan ditawari proyek oleh produk cat, sehingga terciptakan Kampung Jodipan dan Kampung Tridi yang sekarang. Katanya juga, jika dilihat dari atas menggunakan drone, Kampung Jodipan akan membentuk sebuah bulatan matahari.

Untuk masuk ke Kampung Jodipan, masing-masing diwajibkan membayar Rp 2.000,- dan boleh berkeliling ke seluruh tempat tanpa ada batasan waktu. Hanya saja, di Jodipan tidak ada tempat parkir, jadi untuk ke sana mending bawa motor (kalau mobil malah lebih nggak ada space). Parkir motor ada di Kampung Tridi –di samping Jodipan. Mereka memiliki dua pintu masuk yang berbeda dan kedua kampung ini dibatasi sebuah kali. Saya pikir masuk ke Kampung Tridi juga bayar lagi, ternyata tidak. Mungkin karena mereka sudah memungut bayaran untuk parkir, jadi tidak ada pembayaran yang dipungut untuk pribadi.

Continue Reading

#JawaTimurTrip 3: Main ke Candi Badut, Museum Brawijaya, dan Duduk-duduk di Pinggir Jalan Idjen

IMG_0592

Entah kenapa, trip Malang berbeda dengan trip-trip saya sebelumnya. Jika sebelumnya saya memang menargetkan akan ke mana, ketika di Malang saya seperti mengikuti arus. Ke mana saja kaki membawa, saya ikut. Ralat, ke mana saja kaki Kak Ayu membawa, kaki saya ikut. Hari itu, masih ada satu candi yang belum kami datangi, namanya Candi Badut. Tempatnya tidak sejauh Singosari dan Sumberawan, tapi masih termasuk pinggir kota. Saya ke sana bersama Kak Ayu dengan menumpang angkot, kali ini tidak bersama Zahra.

Sama seperti Singosari, Candi Badut juga terletak di kawasan perumahan penduduk dan tidak banyak orang sepertinya tahu bahwa candi tersebut ada di sana. Terlebih, orang di luar kota Malang alias pendatang. Kak Ayu sebelumnya sudah pernah ke sini, sehingga kami tak begitu kesulitan mencari tempatnya. Kemudian, saya sempat mengambil gambar beberapa kali, bahkan membuat vlog pendek di sini, membicarakan tirta atau mata air yang ada di kawasan komplek candi. Untuk kelas candi, tamannya Candi Badut cukup bagus dan terawat. Berbeda dengan Singosari, Candi Badut tampak lebih asri (bagian tamannya ya, kalau candinya kurang lebih sama, hanya satu candi saja di kawasan itu).

This slideshow requires JavaScript.

Konon, Candi Badut sendiri merupakan salah satu gaya bangunan klasik, tepatnya peralihan dari Tengah ke Timur-nya Jawa. Di dalam ruang-ruang candi ini juga ada simbol Siwa yaitu Lingga dan simbol Parwati yaitu Yoni. Biar nggak bingung, sedikit informasi, bahwa Candi Badut merupakan candi Hindu. Bagian sisi luar Candi Badut terdapat ruang-ruang kecil berisi arca. Salah satu arca yang masih tersisa di sini namanya arca Durga Mahisasuramardini. Buat kamu yang pengin tahu lebih banyak, silakan langsung datang dan lihat sendiri gimana penampakan candi ini. Candinya memang nggak terlalu besar, tapi kalau cuaca cerah dan tidak banyak pengunjung, jadinya cukup bagus difoto.

Continue Reading
1 2 3 28