(Sekuel From: Teror Hantu di Istana Boneka by: R. Kurniadi)

*

Brak!

            Setumpuk dokumen itu dihempaskan ke meja panjang di ruang meeting, menimbulkan bunyi yang cukup berisik dan membuat seisi ruangan menjadi hening. Wajah Pak Bondan –kepala divisi kami, terlihat semakin kusut dari hari ke hari sejak kasus aneh itu tidak kunjung selesai. Puluhan wanita muda masuk ke daftar pencarian orang hilang selama tiga bulan belakangan ini. Kasus orang hilang sebenarnya bukan kasus baru, kasus yang cukup lazim terjadi malah, namun yang tidak lazim adalah karena mereka yang hilang itu semuanya wanita muda, bahkan rata-rata usianya sama.

“Barusan saya dapat telpon dari kantor pusat, satu wanita lagi baru saja hilang. Kalian ini tidak becus atau sedang malas kerja?!” Suara garang Pak Bondan membuka meeting kami pagi itu. “Ini wanita ke enam puluh enam! Dan kalian belum bisa menemukan jejak pelakunya?!”

“Motif kejahatan di Jakarta itu banyak, Pak. Ada banyak kemungkinan yang tidak bisa ditebak mana jawaban pastinya. Mungkin mereka korban perkosaan yang mayatnya dimutilasi, mungkin juga mereka..”

“Korban mutilasi yang mayatnya dibuang, itu pasti ditemukan!” Pak Bondan menggebrak meja, “sedangkan semua wanita ini, jejaknya satupun tidak ada kepastian!!”

“Maaf, Pak.” Wiryawan, salah satu kerabatku seangkatanku menunduk. Kemarahan Pak Bondan bukanlah hal yang menyenangkan untuk dihadapi, namun selama hampir sepuluh tahun bekerja di sini, aku tidak pernah menemukan kasus serumit ini –terlebih menemukan raut wajah Pak Bonda sekhawatir itu. Enam puluh enam wanita muda di kota ini telah hilang tanpa jejak.

Mataku menatap dokumen-dokumen itu, ada satu arsip yang mencantumkan nama familiar. Nama yang amat kukenal baik. Jessica Hardyanti, 24 tahun. Bagaimana tidak? Ia sahabatku sejak lima tahun lalu, sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri. Ia hanya gadis yatim piatu yang kabur dari orangtua angkatnya, karena hendak dijadikan pelacur jalanan. Mungkin karena wajahnya cantik, tidak jauh dari artis-artis indo yang sering wara-wiri di layar kaca.

Kami bertemu ketika ia kedapatan mencuri sedikit makan di warung padang langgananku. Mereka baru saja menangkapnya, ketika aku masuk waktu itu. Dari sorot matanya, aku tahu Jessica gadis yang baik. Ia hanya terpaksa. Maka aku mengajaknya makan siang bersama hari itu, lalu mencarikannya kos-kosan kecil tak jauh dari kantorku. Jessica menebar banyak lamaran pekerjaan, namun tidak ada yang mau menerimanya. Bahkan minimarketpun enggan menerimanya sebagai kasir karena pendidikannya yang rendah. Hingga suatu hari ia mendatangiku dengan wajah berbinar, “Kak! Aku diterima kerja. Di sebuah toko boneka. Doakan masa trainingku lancar. Nanti aku traktir kakak!” Ucapannya yang penuh semangat itu berkali-kali terngiang di telingaku hingga kini. Karena Jessica tak pernah kembali sejak tiga hari training di toko itu.

Istana Boneka. Sesuai namanya, toko dengan kawasan luas itu berisi banyak boneka-boneka lucu, baik ukuran paling kecil maupun super besar. Aku pernah memantau toko itu dari jauh, namun rasanya tidak ada yang janggal. Tapi semakin lama aku semakin penasaran. Ketika dua minggu belakangan ini aku memantau toko itu dari kejauhan, tampak ada satu orang gadis yang selalu keluar masuk dengan penampilan agak berbeda. Susah untuk dijelaskan, namun aku selalu percaya pada intuisiku sendiri.

“Kalau pekerjaan kalian begini terus, gimana caranya kasus ini bisa terungkap?! Sebar bawahan kalian! Cari pelakunya sampai ketemu, hidup atau mati!” Pak Bondan memutuskan.

“Baik, Pak!” Kami menjawab bersamaan.

“Jika kalian punya informasi baru –sekecil apapun, laporkan saja. Informasi apapun selalu berguna untuk menguak kasus.” tambahnya lagi.

“Maaf, Pak..”

“Ya, Cinthya? Ada apa?”

“Saya rasa, kita harus fokus pada toko Istana Boneka selama seminggu atau dua minggu kedepan.”

“Toko boneka itu? Memangnya ada apa?”

Aku terasa ciut di bawah tatapan Pak Bondan dan seluruh rekan kerjaku. Selama ini aku tidak pernah ragu-ragu mengungkap kasus, tapi kali ini otakku terasa  lebih rumit ketika memikirkannya. Nyawa Jessica dipertaruhkan di sini. Aku bahkan tidak tahu adik kecilku itu masih hidup atau tidak.

“Jessica Hardyanti, saya kenal korban itu, Pak. Sebelum hilang, dia pernah bilang bahwa akan training untuk bekerja di sana. Saya..”

Pak Bondan tampak berpikir, ia bahkan tidak lagi menunggu kalimatku yang masih menggantung, “kalau begitu saya tugaskan kamu di sana.”

“Sa.. Saya, Pak?” Aku kebingungan.

“Saya tugaskan kamu melamar pekerjaan di sana.”

*

            Titah Pak Bondan adalah perintah yang sama sekali tidak boleh dilanggar. Kantor kami punya aturan yang sangat ketat. Bagi kami, waktu nine to five  tidak pernah eksis. Kami bekerja kapan saja. Siang, malam, subuh ataupun dinihari. Kapan ada bukti yang siap mengungkap kasus, akan kami datangi.

Namaku Cinthya Atmodjo, staf senior di kantor organisasi bidang kriminologi yang menangani kasus-kasus rumit –ralat, maksudku kasus rumit yang tidak sanggup diselesaikan dan seringnya dihibahkan pihak kepolisian pada kami. Kami bekerja di bawah kepolisian pusat dan melakukan aktivitas secara diam-diam. Dari luar, tidak ada yang tahu bahwa kami sehari-hari berkutat dengan dokumen-dokumen pembunuh, pemerkosa, orang hilang, atau kanibal yang menyembunyikan korbannya entah di mana.

Dan di sinilah aku sekarang.

Sebelum masuk, pintu kaca Istana Boneka memantulkan penampilanku hari ini. Aku seolah berevolusi menjadi gadis manis dengan dress cokelat muda dan sebuah totebag berwarna senada. Sedangkan untuk bawahan, aku memilih sepatu flat cokelat dengan hiasan bunga di kedua ujungnya. Pak Bondan benar juga, orang luar tidak akan sadar bahwa umurku nyaris kepala tiga, karena jika dipadukan dengan dress warna soft begini, aku lebih terlihat seperti anak remaja.

“Ngelamar kerja juga?” Seorang gadis menegurku tiba-tiba. Ia mengulum senyum lalu menyodorkan tangannya.

“Alica Anastasha, panggil saja Alica.”

“Melanie Dharmadiani, biasanya dipanggil Mel,” aku mengucapkan nama samaran sesuai dengan identitasku yang telah dipalsukan kantor.

“Kamu baru lulus atau..”

“Cuma lulus SMA, nggak kuliah,” aku memasang ekspresi pura-pura tidak enak, padahal sekarang saja aku tengah mengurus tesisku di salah satu kampus negeri.

“Sama, dong?” Alica kembali memberikan wajah bersahabat, “susah ya nyari kerja kalau nggak ada titel sarjana.”

“Hmm, lumayan. Bahkan minimarket aja udah jarang yang mau nerima.” Aku membeo kalimat Jessica yang dulu sempat diucapkannya padaku. “Karena mereka lebih senang mempekerjakan mahasiswa sebagai pekerja paruh waktu.”

“Jadi, kamu melamar di sini untuk..”

Fulltime, aku punya banyak waktu. Sebenarnya, butuh pekerjaan tetap.” Jawabku seketika, masih dengan segunung bualan.

“Kalian sudah datang rupanya,” Seorang wanita berumur sekitar empat puluh tahun menyambut kami yang masih berdiri di depan meja kasir. “Saya Kemala, pemilik toko ini. Sebelumnya, saya minta maaf. Karena sesuatu hal, panggilan kerja kalian saya tunda hingga hari ini. Beberapa hari lalu anak saya mendadak pingsan dan masuk rumah sakit.”

Kami berdua mengangguk maklum, menyalaminya, lalu menyebutkan nama masing-masing. Bu Kemala terlihat agak keras, jarang sekali ia memberikan senyum. Wajahnya lebih sering terkesan datar tanpa ekspresi.

“Kalian akan training selama seminggu. Dari lima belas peserta training, yang akan diterima menjadi karyawan tetap hanya lima orang. Paham?!”

“Iya, Bu.” Kami menjawab bersamaan.

“Oh ya, satu lagi.. Apapun yang terjadi, kalian tidak boleh memasuki ruangan itu.” jari lentiknya mengarah pada satu pintu besi yang tampak kokoh berdiri –seolah menantangku dari kejauhan. Pintu yang terlihat begitu misterius, mungkin menyimpan banyak hal tak terduga di dalamnya.

Aku menyunggingkan senyum penuh arti, satu objek sudah berhasil aku dapatkan. Aku hanya tinggal menyadap segala hal di dalam toko ini dan mencoba mencari cara untuk masuk ke ruang rahasia itu. Lama-lama pintu itu mengingatkanku pada novel Pintu Terlarang karya Sekar Ayu Asmara –pengarang favoritku, sebuah pintu yang tidak pernah boleh dibuka, tapi ternyata menyimpan banyak hal di dalamnya.

*

            “Gimana hari ketigamu?” suara Wirya menyapaku. Aku merapatkan alat komunikasi seukuran dua biji jagung itu ke dalam telinga, lalu menutupinya dengan rambut agar tidak terlihat orang lain.

“Aku masih harus mendapat akses ke ruangan itu. Selebihnya tidak ada yang mencurigakan di sini.”

“Perlu aku datang sekarang bersama timku? Konon kabarnya, Jessica menghilang di hari ketiganya bekerja di sana, kan?”

Nama Jessica yang baru saja disebutkan Wirya kembali mengusikku. Sepasang bola mataku mengarah lagi ke arah pintu besi kokoh itu, mungkinkah Jess ada di sana?

“Pintu itu kelihatannya misterius, ya?” Alica tiba-tiba sudah berdiri di dekatku. Wirya yang mungkin mendengar suara gadis itu dari seberang sana memutuskan tidak bicara lagi, lalu menunggu.

“Iya,” jawabku sekenanya, “apa kamu penasaran juga?”

“Penasaran kadang bisa membunuh kita. Manusia terlalu sering dibunuh rasa penasaran dan kebodohannya sendiri,” entah apa maksudnya, tapi aku menangkap tatapan misterius dari manik matanya. Gadis itu tampaknya bukan gadis sembarangan. Dari awalpun aku curiga bahwa pertemuan kami seolah disengaja.

“Eh, nggak berasa. Ternyata sudah pukul sepuluh malam. Hari ini kita kerjanya full time.” Alica kembali melanjutkan kegiatan menyapunya yang tadi tertunda. Aku sendiri lanjut menghitung total pemasukan hari ini sambil menatap struk-struk salinan satu per satu.

“Aku sudah selesai, kamu mau nunggu Bu Kemala datang?” Alica meletakkan sapu di bagian belakang toko. “Sepertinya aku harus pulang lebih cepat hari ini.”

“Oh, silahkan. Terima kasih, ya, Alica. Aku masih belum selesai dengan struk ini.”

Alica mengangguk, lalu meraih tasnya dari bawah meja kasir. Ia mengucapkan selamat malam sambil melangkah menuju pintu. Tapi sesaat kemudian tatapanku kembali beralih ke arah gadis itu, ia tampak kesusahan membuka pintu kaca di depannya.

“Mel? Kita terkunci! Pintu ini nggak bisa dibuka!” Raut wajah Alica berubah cemas.

“Ah, nggak mungkin dikunci Bu Kemala. Kan dia datangnya masih setengah sebelas. Lagipula, kita…”

“Tanda di depan pintunya berubah jadi close. Siapa yang membaliknya?”

“Tadi aku mengeceknya sendiri, Al. Tandanya masih open.” Keningku berkerut, ekspresiku tak kalah cemas, namun sebenarnya otakku sedang berpikir. Inilah waktunya permainan itu dimulai. Mungkin ini sebagian kejanggalan yang sempat diceritakan Jess di SMS yang dikirimkannya padaku –malam sebelum gadis itu menghilang.

“Mel? Kamu dengar suara itu?” Alica menempelkan telunjuknya di bibir, seolah menyuruhku untuk diam sebentar.

“Suara apa?”

“Dari balik pintu rahasia itu!” Alica melangkah tanpa suara menuju kasir, lalu menarik tanganku, “ayo, kita lihat saja!”

“Nggak ada kuncinya, Al.”

“Pasti ada di sekitar  sini,” Alica membuka laci-laci meja kasir, mencari-cari sebuah kunci yang menurutnya bisa membuka pintu terlarang di hadapan kami. Beberapa anak kunci berukuran agak besar dibawanya sekaligus, kemudian berusaha mencocokkan satu per satu di lubang kunci.

“Al, jangan main-main! Kamu mau apa?” Aku masih meneruskan dramaku, berpura-pura takut padahal sebenarnya merencanakan sesuatu. Jari mungilku kemudian memijit tombol tersembunyi di balik gelang silver yang kukenakan. Tombol darurat yang akan memanggil tim Wirya untuk bersiaga di depan toko, dan jika dipijit dua kali, itu pertanda mereka harus memaksa masuk ke dalam toko.

Aku meninggalkan Alica yang masih sibuk dengan kunci di tangannya, lalu mengecek telepon di atas meja kasir. Dugaanku sama sekali tidak meleset, line telepon terputus. Rolling door di depan pintu kaca pun mendadak menutup dengan sendirinya, membuat Alica berteriak kaget. Semua ini seolah telah direncanakan sebelumnya. Seolah ada orang yang mengontrolnya dari jauh.

“Tya? Are you okay?” Suara Wirya terdengar di sepasang daun telingaku. Alat canggih serupa biji jagung itu benar-benar berguna di saat genting seperti ini.

Show time,” Aku berbisik pelan, sebelum akhirnya menyusul Alica yang sudah berhasil membuka pintunya. “Pintunya terbuka, ada apa di dalam sana?” Aku kembali pura-pura bertanya pada gadis itu, agar Wirya mendengar dari kejauhan. Dengan begitu ia tahu bahwa kami telah membuka pintu rahasia yang kuceritakan padanya kemarin malam. Pintu rahasia yang kami curigai sebagai tempat disekapnya Jessica.

“Aku mendengar suara itu lagi, Mel.” Alica bergidik, kemudian menatapku. Terlihat seperti kode agar aku menemaninya masuk ke dalam.

Ketika lampu dinyalakan, yang kami dapati hanya suasana hening. Namun ruangan itu indah sekali, di dalamnya ada puluhan bahkan ratusan boneka di dalam kotak kaca. Boneka-boneka itu sudah diberi nomer. Urutan terakhir ada di nomer 666. Namun boneka yang tampak utuh dan cantik hanya sampai urutan 66. Aku tercekat menatap nama-nama yang terpajang di depan kotak masing-masing boneka. Nama Jess ada di urutan 65, sedangkan Defriana Ilyas –korban yang baru hilang seminggu lalu itu, ada di urutan 66. Aku tercekat ketika menyadari bahwa semua boneka itu memiliki nama sama dengan puluhan wanita hilang yang tengah dicari kepolisian.

“Mel.. Mereka.. Boneka itu..” Alica membuka sebuah pintu lain, kemudian menemukan sebuah kotak. Tangannya meraih banyak kliping koran yang menyatakan berita orang hilang, juga ada tumpukan foto-foto wanita cantik yang berdampingan dengan foto mereka setelah jadi mayat tanpa mata, rambut, dan sebagian di antaranya hancur berantakan.

“Mata dan rambut boneka-boneka itu.. dari mata dan rambut manusia,” aku menggumam pelan.

“Kita terjebak di sini, Mel! Apa yang harus kita lakukan?” Alica tampak panik, kemudian berkeliling seolah mencari pintu keluar.

“Coba pintu itu,” aku menunjuk sebuah pintu lain yang masih berada di dalam ruangan, “masih pegang kuncinya, kan?”

Alica mengangguk, lalu dengan gemetar berusaha membuka pintu kedua yang baru kutemukan tadi. Sementara itu jariku secepat kilat memijit tombol darurat di bawah gelang sebanyak dua kali. Semua bukti telah ada, dan perempuan di hadapanku ini bisa saja salah satu tersangkanya. Jika tidak, ia tidak akan menyeretku sejauh ini. Tidak sejauh ruang rahasia ini.

“Mel! Melanie!” Alica berteriak ketika mendapati ruangan itu berisi mayat-mayat wanita yang sudah membusuk. Baunya beterbangan dan menusuk indera penciuman. Aku bergidik ngeri, siapapun yang melakukan hal ini, ia telah kehilangan akal sehat. Membunuh puluhan orang untuk dijadikan boneka lalu menyimpan mayatnya di dalam ruangan tertutup hingga membusuk.

“Coba lihat itu, ada yang aneh.” Alica menunjuk sesuatu. Aku melangkah mendekat, melewati tubuhnya begitu saja. Dalam hitungan detik, aku tahu ia tengah meraih sebuah benda tajam –namun tubuhku bergeming. Diam di tempat.

“Maafkan aku, Melanie.” Ia berkata lirih, tepat ketika itu aku berbalik. Namun kapak itu tidak pernah memisahkan leher dan kepalaku, karena Wirya dan timnya menerobos masuk ke dalam ruangan di waktu yang tepat. Dua buah peluru dari pistol Wirya menembus kaki Alica seketika, membuatnya oleng dan memekik kesakitan. Kapak itu terjatuh ke lantai, beberapa tim langsung mengamankannya sebagai barang bukti, sedangkan tiga orang lainnya mengamankan Alica.

Damn, ini sakit jiwa!” Wirya terpana menatap ruangan rahasia di sekeliling kami.

“Wir, aku sudah menemukan Jessica,” lirihku di sela isak tangis, sembari menunjuk boneka nomer 65. “Itu Jessica, dan mayatnya ditumpuk bersama dengan wanita-wanita yang lain di dalam sana.”

“Tya..” Wirya menepuk pelan bahuku. “Setidaknya kamu berhasil mengungkap kematian adikmu itu. Kita tidak gagal, Tya. Mungkin kita hanya terlambat. Dan Tuhan sudah menyusun skenario lain.”

Alica yang masih kesakitan menatapku dengan pandangan tajam, penuh benci. Aku membalasnya tanpa gentar sedikitpun. “Permainan sudah selesai, Alica. Tidak akan cukup hingga boneka ke-666, mungkin.” desisku pelan. Ia menggeram marah, namun tidak punya cukup tenaga untuk menyerangku lagi.

“Alica? Bagaimana hari ini? Apakah boneka barumu sudah jadi?” Terdengar suara merdu dari depan toko. Suara Bu Kemala.

Aku memberi kode kepada semua tim, mereka segera membekap Alica hingga tidak mampu bicara, apalagi berteriak. Sementara aku menunggu di depan pintu besi dan Wirya bersiaga di belakangku.

Ketika Kemala masuk ke dalam ruangan, pistolku langsung menempel di kepalanya. “Permainan mautnya sudah berakhir, Bu Kemala.”

Wirya bergerak cepat dan memborgolnya, sebelum Kemala sempat menyerangku dari jarak dekat. Tak lama, iringan mobil-mobil polisi dengan sirine memekakkan telinga datang menjemput kedua tersangka. Terjadi keributan di sekitar Istana Boneka. Aku melihat puluhan warga berkumpul di sekitar police line yang ‘mengurung’ toko ini. Sementara itu beberapa wartawan harian dan stasiun televisi juga berdatangan, meliput lokasi kejadian serta puluhan mayat dibawa ke rumah sakit terdekat untuk dijemput keluarganya masing-masing.

Aku menatap nanar pada mayat Jessica. Dress biru muda itu, aku membelinya dengan gajiku bulan lalu. Aku masih ingat apa yang dikatakan Jess ketika pertama kali mengenakan dress itu untuk hari ketiganya bekerja di sini. “Kak, aku mirip boneka ya kalo pake dress ini? Tapi aku suka, lho. Makasih, ya, Kak Tya!”

Air mataku jatuh sekali lagi. Jess pergi terlalu cepat, padahal aku belum memenuhi janjiku untuk membiayai pendidikannya hingga sarjana. Ia gadis yang baik dan penuh semangat, namun kini segalanya hanya hidup dalam kenangan. Tumpukan mayat yang hancur berantakan itu sudah selesai diangkut semuanya, menyisakan bau bangkai dan boneka-boneka yang akan diamankan bersama barang bukti lainnya.

“Jess, semuanya sudah selesai. Istirahatlah. Jangan tinggal di sini. Tempat ini… tidak cocok buat gadis semanis kamu..” aku menggumam pelan. Antara sadar dan tidak, aku mendapati bayangan berkelabat di sekitarku. Bayangan yang kemudian menjelma menjadi sosok Jessica. Ia tersenyum tulus sekali, masih mengenakan dress biru muda yang kuhadiahkan padanya. Perlahan ia mengangguk, lalu melambaikan tangan dan mengucapkan terima kasih.

Sebelum akhirnya menghilang.

Permainan ini sudah selesai.

Benar-benar sudah selesai.

*

(Visited 26 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *