image
Barangkali, Kamaratih* harus menguji sendiri di depan matamu, Baginda. Manakah yang lebih abadi, percayamu atau setiaku?

Barangkali, Sri Rama, tatapanku kala kau menjemput di Alengka, tak cukup bagimu untuk meyakini segala.

Tak sekali pun kumatikan cintaku padamu, Sri Rama, walau taman di Kerajaan Alengkapura jauh lebih indah dan syahdu daripada hutan belantara yang kita tinggali selama ini. Mungkin saja aku mulai rindu pada Ayodhya, juga padamu, hingga desis tawa ular-ular di Taman Asongka tak dapat lagi terdengar di daun telingaku. Juga bujuk rayu Rahwana yang meminangku berkali-kali.

Masih tetap kunanti hadirmu, suamiku, bahkan ketika Rahwana mendekatiku dan mengancam akan mencabut nyawaku jika tidak menerimanya sebagai suami. Bagaimana mungkin, Baginda? Aku tidak mampu. Aku tidak mampu mencintainya barang seujung kuku. Bukankah jika nyawaku dicabut sekali pun, cinta tidak akan pernah melayang bersamanya? Cinta akan tetap berkobar di episentrum dadamu, di mana pun engkau berada.

Masih tetap kunanti hadirmu, ketika Trijata membujukku agar mau menerima rayuan manis pamannya –si raksasa berkepala sepuluh itu. Masih dan masih saja kunanti dirimu, Sri Rama, ketika tangan-tangan kekar dan menakutkan itu mendekat, mengulurkan sepotong detak yang terdengar merdu.

“Ini, ambillah, Dewi Sinta, agar kau percaya bahwa aku mencintaimu sebagaimana aku mencintai Widowati.”

“Aku bukan Widowati, aku bukan cintamu.”

“Kau titisannya, Dewi, sebagaimana yang selama ini aku yakini. Getar suaramu, tutur lembutmu, bibir ranummu, segala yang serupa Dewi Widowati ada padamu. Ambillah.” Masih disodorkannya sepotong detak itu padaku.

Hari itulah kali pertama kulihat kelemahan di mata sesosok raksasa setengah Brahmana. Sungguh, Baginda, tiada hal yang dapat melemahkan segala makhluk di muka bumi ini, kecuali cinta. Termasuk segenggam cintamu yang kupenjarakan dengan aman di dalam dada.

Hari itulah kali pertama kulihat air matanya, ketika sepotong detak yang ia berikan secara sukarela tak kuraih sedikit pun.

“Jika kau belum mau menerima pinanganku, wahai Dewi Sinta, setidaknya berikan aku sedikit bahagia dengan menerima detak jantungku ini.” Lirihnya, dengan badan yang membungkuk lelah.

Maka karena tak tega, aku menerimanya. Kusimpan sepotong detak jantung itu di balik selendang yang membungkus tubuhku sebagai tanda persahabatan. Semenjak detik itu, ia bersumpah akan menunggu cintaku datang kepadanya kelak, ia bersumpah –tak akan membunuhku. Tak akan pernah lagi membuatku menangis, sebagaimana dahulu ia menculik tubuhku –ketika engkau pergi memburu Marica yang menyamar sebagai kijang kencana.

Barangkali, Sri Rama, itulah sumpah paling mulia dari mulut sesosok raksasa.

Tak dapat kulukiskan dengan baik –betapa banyak bahagia yang kurasa, ketika tahu kau tiba bersama Hanuman dan pasukanmu untuk menyerbu Alengka. Sebentar lagi, hanya sebentar lagi, dan aku akan kembali ke dalam pelukan cintaku. Sebentar lagi kita akan pulang ke Ayodhya dan bahagia seperti dahulu kala, bukankah seharusnya begitu, wahai, Sri Rama?

Seharusnya.

Namun tetap saja bukan.

Tak dapat kuungkapkan betapa sakit yang melanda, ketika kau menolak memelukku karena mengira aku telah ternoda oleh Rahwana. Raksasa itu –yang jantungnya kini masih berdetak dalam genggamanku, tak pernah sekali pun berhasil mencuri –walau secuil, cinta yang kau kuasai.

Jantungnya masih berdetak dalam genggaman, walau jasadnya sudah hancur lebur di ujung panahmu. Ketika api membakar tubuhku, jantungnya masih tetap berdetak, sebelum akhirnya semakin pelan, hingga kemudian menjelma abu.

Sedangkan detak jantungku?

Ia masih ada, masih nyata, menunggu pasangannya –detak jantung milikmu, tiba untuk merengkuh.

Ia masih ada, bahkan ketika kau meragukan kesucianku, membakar seluruh setiaku.

*Dan hujan api itu, Ibu
Hujan api itu tak hendak menjilat bibir ranumku tak hendak memanaskan gelegak berahi suciku pada Rama –menantu pengecut kesayanganmu.
Maka aku ingin menjadi abu
Dari arang yang kaubakar
Dengan amarahmu, Ibu
Aku ingin menjadi ibu
Bagi api Rama
Yang menghanguskan kesetiaanku
Aku ingin….


*583 Kata tidak termasuk judul
*Barangkali FF, barangkali prosa
*kutikan dari: Pembakaran Sinta, prosa dalam Pertempuran Rahasia karya Triyanto Triwikromo, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010
*Dekonstruksi kisah Ramayana
*Kamaratih adalah nama Dewi Cinta, istri dari Dewa Kama (Mitologi Hindu Jawa Kuna)

Posted from WordPress for Android

(Visited 59 times, 1 visits today)

2 Thoughts to “Sepasang Detak Jantung”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *