Belajar menyeimbangkan hidup, barangkali memang itu tema hidup gue tahun ini. Setelah semua kejadian-kejadian sedih yang bikin muka gue mengenaskan kayak zombie di tahun lalu, sekarang gue belajar lebih tenang. Belajar menyeimbangkan semua unsur dalam kehidupan. Bukan berarti gue langsung berubah jadi manusia setengah bidadari yang serba perfect, gue masih Mput yang dulu. Masih Mput yang slebor, yang heboh, yang rusuh, yang random, yang suka ketemu orang-orang baru, yang nggak bisa puasa beli buku, yang sayang Blekbebi sampai mati, selalu jadi anak manja kesayangan bokap. Sepenuhnya, gue masih gue yang dulu.

Tapi masalah berhasil mengajarkan gue menjadi orang yang sedikit berbeda. Setelah fase-fase mengenaskan yang terjadi baru sekali dalam hidup gue, kayaknya sekarang gue berubah jadi Mput yang lebih cuek, kadang-kadang lebih ‘dingin’ :p Menurut gue ini seimbang, ada saatnya rame, ada saatnya diam. Buat yang nggak kenal gue dengan baik, pasti akan protes bahwa muka gue jutek. Bahkan sekarang bukan cuma muka, sikap juga rada-rada. Tapi, buat yang tahu gimana gue sebenarnya, gue masih Mput yang dulu.

Yang gue maksud dengan menyeimbangkan hidup di sini akan gue mulai dengan membaca, menulis dan menyerap sesuatu yang baru secara teratur. Jangan dikira ini termasuk pada pola makan dan kesehatan. Sebodo amat, gue masih suka gorengan racun yang digoreng pakai plastik itu. Gue masih suka junk food, gue masih suka bakso, masih suka kopi hitam yang pahitnya kayak hidup, masih suka makanan-makanan yang pedesnya kayak dibohongin pacar, masih suka es duren, daaann masih demen sate/gulai kambing TENTUNYA :))

Ehem, jadi maksudnya, mulai sekarang gue akan belajar membaca dan menulis secara teratur. Kalau lagi nggak nulis sesuatu, ya baca buku. Kalau nggak keduanya, minimal baca info baru di Google. Tentang apa aja, asal ada ilmu yang masuk dan otaknya nggak kosong. Kemarin gue baca sebuah buku yang rada nggak biasa, rada nggak sinkron sama selera baca gue selama ini, tapi ternyata gue malah mendapatkan banyak hal baru. Tempo hari juga, gue googling dan baca-baca tentang agnostik, juga mengenai ateis. Banyak hal-hal berat yang ditulis atau dikemas ringan di blog-blog orang, dan ini menjadi lebih menarik ketimbang ngebahas siapa yang bakal menang di Pemilu pemilihan presiden nanti.

Gue akan memulai dengan ketiga hal itu, hal yang paling dekat dengan hobi gue selama ini. Ngapain baca, kalau cuma baca timeline twitter. Wasting time *GAYAMU* 😐 Tapi walau sekarang lagi sibuk banget kayak Ibu Negara (ini istilah Sis @bellazoditama), gue masih menyempatkan diri main Path. KENAPA? Karena Ibu Negara kita aja masih sempat main Instagram, masa gue mau belagu sok nggak sempat main socmed? Nggaklah, gue nggak sesibuk itu juga, sih.

Cara menyeimbangkan hidup berikutnya, akan gue targetkan untuk hal-hal yang nggak gue suka. Misalnya, tahun lalu karena satu dan beberapa alasan bangkay, gue benci banget lagu Adera yang judulnya Lebih Indah.

Benci.

Banget.

Tiap dengar lagu itu diputar –di mana pun, gue akan selalu menghindar. Kalau gue nggak bisa menghindar, maka gue akan pasang headset, kemudian nyetel lagu semacam My Chemical Romance atau Marilyn Manson dengan volume max sampai lagu penuh cintah itu nggak kedengeran lagi di telinga gue.

Tapi kemudian gue tahu, gue nggak bisa selamanya begitu. Maka, dengan beberapa #TreatmentPembunuhPatahHati yang nggak bisa dan nggak akan gue jelaskan di sini, gue jadi nggak ‘takut’ lagi dengar lagu itu. Ini cuma contoh kecilnya. Nggak menyiksa hati sendiri, termasuk salah satu cara menyeimbangkan hidup.

Hal yang paling berat mungkin masalah kehilangan. Tahun lalu banyak sekali kehilangan dalam hidup gue. Karena satu kehilangan, gue paranoid akan kehilangan ‘sesuatu’ yang lain. Gue jadi kayak zombie, lebih cepat kesal, lebih berantakanlah pokoknya. Yang paling berat mungkin kehilangan Papa. Tapi kemudian Semesta –atau Tuhan, atau Gusti Allah, atau siapa saja kalian menyebutNya, entahlah, mengajari gue bahwa akan selalu ada ganti untuk setiap kehilangan. Semesta membuktikan ini dengan memberikan gue orang-orang baru yang semuanya baik dan menyenangkan. Nggak bisa disebutkan satu per satu, tapi mereka ada. Ironisnya, siapa yang bikin gue mewek, tapi malah siapa pula yang kemudian datang dan sibuk menghibur atau bikin ketawa lagi. Hih! Hidup itu kadang-kadang suka bercanda.

Target menyeimbangkan hidup berikutnya, gue lagi suka jalan-jalan. Ke mana saja, asal keluar dari rumah secara berkala. Tidur dan makan atau sekedar membaca di dalam ruangan bantuak anak kabau lapa kadang-kadang menjemukan dan bikin setres akut. Lagian, setelah gue pikir-pikir, dua tahun belakangan gue jarang banget keluar, bahkan jarang nerima ajakan kodpar, sekarang gue mau menikmati hidup, fufufu.

Ibaratnya, hidup nggak cuma masalah selalu berbuat baik atau selalu hura-hura nggak jelas. Begini simpelnya, ketika sedang bahagia, makanlah es krim (atau apa saja yang lo suka) banyak-banyak. Nikmati apa yang bikin lo tertawa saat itu. Tapi ketika lo sedih, patah hati, kesel, marah, lo nggak perlu pura-pura menikmati makanan manis. Silakan cari kopi hitam atau ngebir. Guiness noh, yang paling pahit sekalian. Rasa-rasanya, hidup udah susah, jadi lebih sesak kalau dijalani dengan penuh pura-pura. Pura-pura ketawa di depan orang, pura-pura sanggup menjadi sosok yang diinginkan orang lain, pura-pura baik-baik saja, dan pura-pura lainnya yang bangkay-bangkay itu.

Jadi, mulai sekarang, mari mulai menyeimbangkan hidup. Nikmati apa yang pengin lo nikmati selagi bisa. Kalo nyeselnya nanti-nanti, percuma.

Kata Alm. Om gue, di akherat nggak ada sate kambing :)))

#Sudah100%
#TreatmentPembunuhPatahHati
#TarikSemuaPlesterSampaiHabis
#IsiGelasBirSampePenuh
#IniKruBFG
#BismillahNyemplungSumur

(Visited 31 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *