Yak! Tema #KentjanJakarta 25 Mei 2014 kemarin adalah wisata kuliner dan mendadak juga nyerempet jadi jalan-jalan ke Jl. Surabaya. Itu lho, tempat penjualan barang-barang antik, nggak jauh dari daerah Cikini Raya ^^

Awalnya niat gue dan sis @bellazoditama adalah menuntaskan impian sisbel, yaitu masuk Planetarium Jakarta. Tapi ternyata antrean tiketnya sepanjang jalan kenangan, ruang tunggu juga didominasi anak-anak kecil yang berlarian ke sana ke mari. Dan sebelum mati kering di sana serta demi mengalah pada adik-adik kecil itu, akhirnya kami membatalkan niat mulia tersebut. #halah

Kebetulan, hari itu @danissyamra nimbrung. Lumayan, ada yang bawain mie ayam buat sarapan bersama, hahaha. Dan ada Kitkat ijo rasa greentea yang dibawain sisbel sebagai oleh-oleh. Awalnya semua pada happy, begitu udah ngumpul di bawah pohon beringin rindang di belakang gedung H.B. Jassin, langsung sobek bungkusan Kitkat –soalnya Kitkat ini cukup femes belakangan dan katanya enak banget, udah gitu masih terhitung barang impor karena belum ada yang jual di Indonesia. Tapi begitu sisbel dan @danissyamra mamam satu, mendadak ada chat masuk dari seorang teman, “kalian makan Kitkat ijo? Kemarin aku googling, itu kan ndak halal.”

Matik.

:p

#LangsungHening8Tahun

Kitkat ijo dari sisbel. Nyam. Lumayan enak, sih. Tapi menurut gue nggak sedahsyat cerita orang-orang 😐 Sama aja, ah, rasanya kayak yang cokelat.

Next,

Setelah selesai makan dan ngobrol-ngobrol, kita akhirnya memutuskan capcus ke Jl. Surabaya. Nggak begitu jauh, dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 15 menit kalau lagi lemes plus cuaca panas terik dan 10 menit kalau lagi semangat plus cuaca mendung-mendung syahdu.

Tapi, di jalan, Sisbel kemudian teringat eskrim legendaris yang dulu sempat kami incar tapi nggak berhasil ketemu. Kebetulan, hari itu tempat es krimnya buka. Tempatnya sederhana saja, bahkan nyaris nggak kelihatan kayak tempat jualan. Cuma es krim ini memang femes dari mulut ke mulut, dari postingan blog yang satu ke postingan blog lainnya. Mungkin karena sudah berdiri sejak zaman dahulu kala.

Sekilas review gue tentang es krim ini, rasanya memang legendaris sekali. Ini seperti es krim yang biasa dibeliin Papa ketika dulu di rumah. Jujur gue nggak heran sama harganya yang agak mahal. Satu cup kecil aja dihargai Rp 10.000,- 🙂 Tapi sebanding sama rasanya. Kalau dulu di rumah, Papa biasa beli yang bungkusan gede. Semacam family pack, terus dimasukin ke kulkas dan sekali nenggak kita bisa ngehabisin sebungkus sekaligus *keluarga rakus es krim* :p

Back to topic,

Namanya Es Krim Tjan Njan *lidah gue nggak ngerti, deh, gimana cara bacanya ini*

Penjualnya –jujur aja, rada kurang ramah. Dengan nggak sabar, dia nanya kita mau beli rasa apa dan mau beli berapa cup. Akhirnya karena beberapa rasa nggak ada, kita memutuskan ngambil dua cup yang campur 4 rasa (cokelat, kopyor, alpukat, dan vanila) untuk gue dan sisbel, serta rasa cokelat untuk Danis.

ini plang di depan tempat jual es krimnya. itu pun dipasang agak pojokan dan sebenarnya nggak terlalu kelihatan kalau nggak diperhatiin bener-bener.
ini plang di depan tempat jual es krimnya. itu pun dipasang agak pojokan dan sebenarnya nggak terlalu kelihatan kalau nggak diperhatiin bener-bener.
Ini tempat penyimpanan esnya. Serem enough? :p
Ini tempat penyimpanan esnya. Serem enough? :p
Tadaa!! Dan ini es krim legendaris itu. Nikmat dengan sepuluh ribu rupiah saja #Iklan
Tadaa!! Dan ini es krim legendaris itu. Nikmat dengan sepuluh ribu rupiah saja #Iklan
Sebentar, pamer lagi :p Kali ini fotonya bertiga. Itu di atas tutup es krimnya, ada tempat sendok kecil. Imut dan kreatif, cuma sendoknya kelewat kecil. Pas Danis mamam es krimnya, gue takut sendoknya ketelen langsung sama dia #Melipir
Sebentar, pamer lagi :p Kali ini fotonya bertiga. Itu di atas tutup es krimnya, ada tempat sendok kecil. Imut dan kreatif, cuma sendoknya kelewat kecil. Pas Danis mamam es krimnya, gue takut sendoknya ketelen langsung sama dia #Melipir

Berikutnya, setelah selesai beli es krim dan foto-foto eksis bentar, kita ngobrol sambil mamam es krim sambil jalan ke arah Jl. Surabaya. Di sana surganya barang antik banget, sepanjang jalan kita bisa melihat banyak penjaja barang antik dan macam-macam barang dagangan mereka yang bikin ngiler tapi harganya bikin jantungan :p

Gue yang nggak begitu suka-suka amat sama barang antik aja bisa terlena, gimana yang suka banget, ya? Mungkin bisa mimisan liat semua ini. Fufufu. Someday pengin, ah, punya rumah yang perabotannya barang antik semua :p
Nah, ini di salah satu tokonya. Buat yang pengin rumahnya punya aura ala dewa-dewi Yunani ( *-*)9

Selain dua foto di atas, masih banyak lagi barang-barang lainnya. Ada gramophone aka pemutar piringan hitam. Itu, lho, yang suka ada di rumah Opa-opa zaman Belanda. Terus ada mesin tik tua, mesin kasir antik, telepon zaman jahiliyah, patung Buddha, dan lainnya. Sisbel sempat pengin menghamburkan duit di sana, membeli beberapa barang, tapi takut barangnya porak-poranda dirusak adeknya di rumah. Muahahaha.

Setelah selesai muter-muter di sana, kita balik lagi ke arah Cikini Raya, lalu sisbel yang baru gajian berbaik hati mengajak kami makan siang di Resto Dua Nyonya. Dulu sempat lewat daerah sini, tapi belum pernah nyobain cafe/resto di sekitarnya. Kami masuk,  resto tampak nggak begitu ramai. Tapi suasana yang hening begitu justru menurut gue lebih asik ketimbang cafe-cafe hingar bingar yang bahkan bikin suara obrolan kelelep saking berisiknya.

Menu di Dua Nyonya

Di sana gue pesan nasi timbel, sisbel pesan nasi goreng Dua Nyonya. Sedangkan Danis, jah, gue lupa dia pesan apa. Tapi yang jelas makanan di sana lumayan enak :9 range harga makanan beratnya sekitar 30-50ribuan, sedangkan harga minuman 10-20ribuan. Harga cemilan seperti gado-gado atau mpek-mpek Palembang, 20-30ribuan.

Kami menghabiskan waktu di sana sekitar dua jam, sebelum akhirnya melipir santai-santai ke Sevel Cikini di depan gedung @PKJTIM. Sevel kayaknya tempat nongkrong wajib tiap kami ke Cikini. Terlebih buat gue, tempat wajib numpang pipis *disambut mas-mas kasirnya*

Terus apa lagi yaaa~

Kayaknya sepanjang hari itu cuma itu aja, deh, perjalanan kami :p

Tunggu perjalanan #KentjanJakarta berikutnya! 😀 Kalau mau jadi tamu #KentjanJakarta, boleh banget lho. Hahaha. Silakan mention aja untuk janjian jalan bareng. Biasanya kami suka tempat-tempat yang antimainstream seperti museum atau lihat pameran lukisan atau nyobain cafe/resto tertentu, dan sejenisnya.

Tulisan sis @bellazoditama bisa kalian baca di sini

(Visited 67 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *