Seharusnya curhatan ini saya tulis di twitter atau path. Tapi rasanya akan jadi sampah kalau di path, karena mungkin akan sedikit panjang. Sedangkan twitter, kebetulan sedang saya deactive sementara. Mengapa? Saya sedang muak sama berita-berita politik usai pilpres. Bukan cuma perkara pilpres, sih, sebenarnya. Saya sendiri juga sedang dalam keadaan tidak begitu baik, alias lagi jetlag, maka saya pikir sebaiknya saya tidak menambah beban dengan membaca kultwit-kultwit politik atau link-link penuh provokasi antarakubu di timeline.

Saya sedang butuh hiburan usai mengerjakan dua draft yang bisa dibilang cukup berat. Pertama, tugas negara. Kepala saya penuh dengan teor-teori. Saya tidak suka ini, tapi harus saya kerjakan kalau saya tidak mau berakhir jadi pengangguran. Yang kedua draft novel pribadi, yang kali ini dikerjakan agak serius dan ditunggu editor dari penerbit. Saya tidak pernah menulis novel dengan deadline sebelumnya –tapi kali ini berbeda. Mbak editor itu berbaik hati menunggu saya selesai, maka akhirnya saya sanggupi. Meski keduanya harus saya kerjakan dalam bulan yang sama –sama-sama di bawah tekanan. Masing-masing draft punya pengawasnya sendiri. Draft novel, beberapa orang teman ‘mengawal’ saya mengerjakannya. Dari bantai outline hingga sekarang proses edit terakhir sebelum dikirim ke editor. Saya bersyukur untuk itu. Setidaknya, saya tidak sendirian dan kebingungan. Ada yang mengarahkan saya harus bagaimana. Begitu pula dengan tugas negara.

Dan sekarang efeknya, usai keduanya rampung dan tinggal tahap finishing, saya mendapati pikiran saya kacau sekali. Menulis fiksi dan nonfiksi sekaligus dalam satu bulan yang sama dan kejar-kejaran sama waktu –sungguh bukan ide bagus. Saya capek fisik dan pikiran. Saya jarang tidur belakangan ini, ditambah pikiran saya awut-awutan sehabis dicecar berbagai bentuk data riset. Bahkan novel yang settingnya kampung halaman saya sendiri pun, saya masih butuh riset. Karena ada banyak hal yang bisa berubah dalam rentang waktu sekian bulan/tahun.

Sekarang, saya mendapati diri saya enggan bersentuhkan dengan keramaian sosial media, terutama twitter. Saya mencoba mengalihkan diri pada blog dan Wattpad, di mana saya bisa posting cerita-cerita pendek saja. Bahkan untuk sebuah grup WA yang ramai, saya mulai lelah. Grup yang aktif saya ikuti cuma sebuah grup hore bersama 2 orang teman lain –yang setiap hari isinya membahas hal-hal random dan penuh canda. Karena memang saya butuh sekali hiburan semacam itu. Saya terlalu capek bahas gosip pilpres, quickcount, atau semacamnya. Jadi, sejenak, saya putuskan bahwa saya harus meninggalkan twitter dulu. Terlalu banyak berita panas di sana, panas kayak cuaca Jakarta 😐

Lalu apa?

Beberapa hari belakangan saya merasa lebih sering lapar dan mengantuk :)) ini nggak biasanya. Biasanya saya jarang ngemil/makan, apalagi mengantuk. Saya biasa tidur dinihari. Tapi sekarang berkali-kali ketiduran siang hari.

Sudahlah, sepertinya memang butuh piknik. Kemudian tiba-tiba saja saya ingat banyak hal di masa lalu. Efek kebanyakan diam dan nggak ngetweet sama sekali, jadi keinget yang udah-udah. Kemudian saya baca ebook Lang Leav dan pengin banget punya bukunya. Di saat yang sama, ada paket buku Remy Sylado dilelang Penerbit Nuansa Cendekia dengan harga miring. Kemudian saya merasa ini kamvret moment. Kemudian saya menemukan sebuah foto bagus. Saya ndak tahu juga apa korelasinya lelah, butuh piknik, inget masa lalu, pengin beli beberapa buku, sama foto bagus ini. Tapi sudahlah, namanya juga jetlag.

(Visited 28 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *