image

Three gossips | Vector by Bazaar Designs | Edited

Drama dalam karya. Pernahkah kalian merasakan seseorang (entah artis, penyanyi, penulis, atau siapa saja yang dapat berkarya dan dikenal) menjadi semakin meledak pamornya usai mencipta sebuah drama? Entah drama percintaan, drama kehidupan, etc, yang kemudian diketahui publik dan menjadi sorotan setiap hari.

Ya, gue percaya drama akan berpengaruh pada karier seseorang. Misalnya aja artis, ketika ada kasus apapun mengenai hidupnya, maka mukanya akan nampang di layar kaca selama seminggu penuh. Atau kalau dia beruntung karena pintar main sandiwara, bisa sebulan penuh. Ini beda dengan kisah kemalangan seperti meninggalnya seseorang, ya. Maksud gue drama artis di sini, sensasi yang kerap diciptakan untuk meraup perhatian publik. Kalau kemalangan, jelas bukan drama, itu ndak pantas dikategorikan drama.

Begitu juga dengan profesi lain, drama selalu mampu mendongkrak ketenaran. Wong abis bikin heboh, siapa yang ndak kenal? Atau mungkin ada kejadian seperti ini di lingkungan pertemanan juga? Dalam satu kelas misalnya, ada dua geng yang berseteru, otomatis mereka –terutama ketua gengnya, pasti jadi perhatian orang banyak. Menunggu kapan mereka cakar-cakaran, jambak-jambakan, dsb.

Bahkan di dunia serba edan seperti sekarang, ada juga drama yang dibuat-buat. Seperti bisik-bisik tetangga mengenai seorang penulis muda yang katanya merekayasa drama percintaannya biar hits di kalangan pembaca. Bahkan kabarnya menyusun kisah drama lain sejak lama, makanya ketika dia muncul lagi, seluruh dramanya terbongkar, karyanya sukses laris manis walau ndak bisa dibilang menarik. Tapi mengapa? Karena masyarakat kita tipe orang yang haus drama dan ghibah. Nggak yang muda, nggak yang tua.

Yang muda sukanya drama social media, yang tua dan sepuh suka sinetron malam yang membakar-bakar emosi lewat tokoh-tokoh antagonis berwajah ibu tiri. Kalau gue sih capek nonton begituan, mending nonton komedi atau film kartun sekalian. Tapi pada kenyataannya, penggemar sinetron itu memang lebih banyak ketimbang penggemar kartun (untuk umur remaja dan dewasa muda hingga dewasa ke atas, ya. Kalau anak-anak, sih, biasanya pasti nonton kartun).

Hidup sudah penuh drama, tapi biasanya manusia tak pernah merasa cukup, hingga harus menunggu drama-drama lain di layar kaca, di sosial media, atau malahan menciptakan dramanya sendiri demi mendongkrak karya.

Lalu apa kalian bangga?
Karya memang laris, wajah dilirik orang, tapi kebanyakan bukan lirikan salut, hanya lirikan haus gosip atau bahkan (kalau mereka termakan dramamu mentah-mentah) lirikan sinis.

Entah, ya, tiap orang punya cara masing-masing untuk memajukan karyanya –baik cara positif maupun cara negatif, bahkan cara nekat. Gue pribadi, lebih suka hidup tenang aja. Mungkin butuh proses sangat panjang untuk menjadi seorang penulis yang baik, tapi lebih baik melewatinya dengan sabar ketimbang mencari ‘jalan pintas’ menebar drama dan segala macam sensasi agar dikenal orang.

Percayalah, kalian akan lebih bangga dan bahagia jika dikenal sebagai penghasil karya yang baik, bukan sebagai orang yang bermasalah dengan ini-itu.
Percayalah, bahwa tak ada sesuatu yang instan di dunia ini kecuali mie instan, Lafonte dan Super Bubur.
Bahkan makanan instan pun butuh usaha mencari air panas untuk menyeduhnya, apalagi karir dan hidup.

Perjalanan masih panjang 🙂
Kita masih bisa memilih akan jadi manusia seperti apa; orang yang gigih kemudian dikenang pada akhirnya, atau orang yang lebih suka cara instan dan hanya mampu terkenal sebatas sebuah sensasi.

Kalau kamu, maunya jadi apa?
Jangan jawab jadi dokter, itu cita-citanya Susan.
Juga jangan jawab, “aku, sih, terserah Yanti aja.
Jangan.
Itu jawaban Mas Anang.

*angkat buntelan*
*melipir*


*Postingan ZelieMbemNdut bisa dibaca di sini
*Postingan Kak @dinoycute bisa dibaca di sini

Posted from WordPress for Android

(Visited 31 times, 1 visits today)

7 Thoughts to “#NgobrolSeru – Drama dalam Karya”

  1. yayaya, kayak penulis satu itu yang membuat aku juga penasaran. apa sih yang sebenarnya terjadi dan tidak diungkapkan? WE WANT MORE! *wawancara penulisnya langsung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *