Berapa lama kalian menulis sebuah cerita? Mungkin beda ya antara flash fiction, cerpen, cerbung, atau novel. Semuanya beda jenis dan tentunya beda juga prosesnya. Biar lebih khusus, kita persempit aja, “berapa lama kalian menulis sebuah novel?”

Novel paling cepet yang gue tulis adalah 5 hari.

Itu thriller, ya. Dan cuma nulis doang, nggak termasuk riset atau yang lain. Novel ini bahkan untuk konsumsi pribadi, jadi cuma naskah hore-horean yang dibaca teman dekat, nggak untuk diberikan ke penerbit. Risetnya sendiri malah lebih lama, gue browsing dan baca-baca info terkait tema novel tersebut berbulan-bulan lamanya, sebelum akhirnya terkumpul lalu gue bisa menulis.

5 hari. Gue seneng, tapi cukup tahu diri untuk tidak mengirimkannya ke penerbit 😛 Karena bagi gue, novel yang baik adalah yang prosesnya wajar. Wajar dalam kepala gue maksudnya nggak ditulis buru-buru, terlalu cepat, atau asal selesai karena pengin punya buku baru.

Karena satu dan lain hal, sepertinya gue pernah di posisi ini. Rasanya sangat tidak memuaskan. Novel itu -bahkan bagi gue sendiri, penulisnya, hanya menarik di sebulan dua bulan setelah terbit, setelahnya biasa saja 😐

Ketika menuliskan Bingkai Memori, prosesnya lebih lama. Kalau novel lain gue tulis dalam sebulan dua bulan, BM gue tulis kurang lebih 6 bulan. Dan dari perjalanan outline awal hingga terbit dua minggu lalu, prosesnya genap setahun penuh.

Untuk kategori novel romance, mungkin buat kalian ini lebay banget lamanya, tapi harus gue akui, gue puas sekali dengan hasil BM yang sudah terbit. Prosesnya lama, tapi gue merasa sudah lebih maksimal di sini. 🙂

Kemudian, ngomong-ngomong proses, beberapa penulis yang gue kagumi ternyata juga begitu. Bang Brahmanto Anindito misalnya (penulis Satin Merah dan Rahasia Sunyi, Gagasmedia), pernah bercerita di email, bahwa proses penulisan Rahasia Sunyi hingga terbit itu lama. Risetnya bahkan ketika Bang Bram ada project di daerah Kerinci, lalu ditulis dan diproses penerbit selama setahun lebih.

Dan Om Remy Sylado, salah satu idola gue sepanjang zaman, konon kabarnya juga punya proses yang lama setiap kali menulis 🙂 bahkan risetnya aja (katanya lagi, nih) bisa tahunan. Tapi ketika buku-bukunya terbit, gue merasa itu harta karun banget. Kenapa? Karena sebuah tulisan yang risetnya maksimal, akan lebih padat ketimbang yang risetnya lemah dan prosesnya terburu-buru. Nggak ada yang enak dari hal instan, kecuali indomie goreng rasa rendang.

Bang Eka Kurniawan juga menuliskan salah satu bukunya selama kurang lebih 5 tahun. Beberapa orang menertawakannya. Nulis aja 5 tahun, kayak buat skripsi. Tapi tak apa, kalian hanya bisa tertawa, tapi mungkin belum bisa menulis sesuatu ‘setinggi’ yang dia tuliskan ^_^ manusia lebih gampang menertawakan memang, hehe.

Kalo Tante Djenar Maesa Ayu, pernah ngetweet bahwa dia belum juga menyelesaikan novel Ranjang yang sudah ditulisnya selama 6 tahun. Berkaca dari sini, gue seringkali berpikir, sebuah tulisan berbobot jarang ditulis dalam waktu singkat. Perlu banyak ramuan untuk menyatukan beberapa hal di dalam satu tulisan komplit, dan itulah yang terjadi dalam proses.

Daaann, gue pengin banget punya novel seperti mereka. Setidaknya sekali aja seumur hidup, gue pengin banget punya novel yang isinya padat dan dikenang pembaca sepanjang zaman. Novel yang bagus dan yahud mungkin adalah novel yang dikenang bahkan hingga penulisnya sudah tidak ada. Ceriteranya masuk ke dalam diri pembaca.

Biarin kalo ada yang mau menertawakan. Biarin kalo ada yang bilang ini cita-cita muluk. Manusia harus punya mimpi dan punya usaha untuk terus eksis, kan? 😛 hahaha. Dan gue tegaskan, mereka yang menulis lama seringkali bukan karena malas, tapi mungkin risetnya yang rempong. Jangan menyamaratakan. Politik sama rata sama rasa nggak berlaku di sini.

Pernah mendengar kalimat seperti ini –entah siapa yang bilang, lupa.. bukankah tulisan yang baik adalah tulisan yang berproses?

Gue setuju dengan statement di atas, walau kita nggak bisa memukul rata bahwa tulisan yang bagus banget adalah tulisan yang dituliskannya lama. Nope. Tergantung gimana proses kreatifnya juga, bukan selama mungkin waktunya. Tapi jelas, tulisan yang ditulis buru-buru, biasanya bukan tulisan yang padat 🙂 Sekali lagi, sama rata sama rasa nggak berlaku dalam hal ini.

Sempat seorang kenalan dari majalah online menanyakan hal ini, dan kemarin sudah gue jawab. Semoga artikelnya sudah ditulis dan bisa segera gue share ^_^

Mungkin postingan ini kesannya sok tahu, karena gue sebagai penulisnya memang bukan siapa-siapa. Tapi ya, ini sama sekali bukan menggurui. Ini hanya sekedar berbagi 😛

Tralala~

Jadi, berapa lama kalian menuliskan sebuah cerita?

(Visited 36 times, 1 visits today)

One thought to “Proses Kreatif dalam Menulis”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *