Ada sesuatu yang sering gue tertawakan setiap akhir pekan. Di hari biasa, selama 5 hari gue kerja di sebuah kantor yang tentunya menuntut untuk rapi dan sedikit berdandan. Tapi ketika weekend, gue lebih senang dengan style mahasiswi yang bener-bener nggak keliatan ciri cewek kantorannya sama sekali.

Kalo di kantor, gue pake heels dan baju-baju yang bisa dibilang rapi, kadang modelnya aneh-aneh. Kalo hangout weekend, sekedar ngopi, gue pake kaos mahasiswa, bahkan ada ada quotes lulusnya, plus bawahan jins dan flat shoes. Nggak ada eye liner, lipgloss, dan lainnya.

Di sinilah kita bisa melihat bagaimana ‘kejamnya’ orang Indonesia menilai penampilan. Ketika gue berdandan rapi, jangankan taksi mewah yang lirik-lirik berharap dipanggil di pinggir jalan, lewat mal aja diuber sales kartu kredit. Ini nyata, bukan songong. Tapi ketika gue berpenampilan mahasiswi, mereka –sales-sales itu kayaknya ragu, lalu enggan menyodorkan brosur.

Cuma memang sih, rata-rata orang Indonesia lebih suka menilai penampilan luarnya. Padahal kadang berbeda jauh dari yang sebenarnya.

Misalnya ini,

image

Nggak ada yang menyangka, kan?
Pasti nggak 🙂
Bagaimana mungkin orang yang keliatan alim bisa sekejam itu?

Padahal, sejatinya kitalah yang sering ‘kejam’ menilai orang lain. Hehe. Biasa. Namanya juga manusia. Ini semua hal-hal dasar yang membuat kita terlihat sebagai manusia. Seringnya gampang menilai, gampang menghakimi, gampang tegoda, dan gampang-gampang lainnya.

Ndak apa-apa, asal bukan gampangan. *LHO* 😛

Eh, tapi nggak apa-apa kalo buat gue. Gue jadi bisa memainkan banyak peran. Rasanya seperti dalam novel. Hari ini jadi pekerja kantoran, besok jadi mahasiswi yang nongkrong di kedai kopi, lusanya jadi penulis yang datang ke acara kepenulisan.

Hidup itu seru, ya, ternyata.

Posted from WordPress for Android

(Visited 19 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *