image

Beberapa tahun sebelum ini, saya bahkan tidak pernah punya benda yang benar-benar saya sayangi, atau benda yang membuat saya tak bisa tidur karenanya. Hingga suatu hari saya menemukan boneka domba lucu di kamar kos seorang teman. Saya foto boneka itu, lalu share ke media sosial dan berkata bahwa saya sepertinya jatuh cinta pada boneka bayi domba tembem itu. Waktu itu, seorang lelaki yang masih bertitel pacar, menghadiahkan saya boneka yang sama, bahkan ukurannya lebih besar daripada yang saya lihat di kamar si teman.

Boneka itu kemudian menjadi benda mati yang paling saya cinta. Saya kira, itu efek jatuh hati. Mungkin karena yang memberikan boneka tersebut adalah ia yang waktu itu saya akui sebagai pasangan, tapi ternyata tidak. Bahkan setelah kami bubar jalan, saya tidak tega bahkan untuk menyakiti boneka itu sedikitpun. Seorang teman berkata, sebaiknya saya membakar boneka itu supaya saya tidak terus terbawa kenangan. Membayangkannya saja, saya tidak bisa, apalagi benar-benar dibakar. Akhirnya, saya ‘singkirkan’ boneka itu dengan cara sehalus yang saya mampu. Dalam hati, saya minta maaf padanya berkali-kali, walau saya tahu ia hanya benda mati dan bahkan tak bisa memahami apa yang saya katakan. Orang lain mungkin menganggapnya drama, tapi saya tak peduli bahkan jika mereka menganggap saya gila.

Boneka itu berarti, karena kebetulan saya mendapatkannya saat hidup saya sedang naik turun. Saya memeluknya tiap kali tidur malam, tiap kali menangisi penyakit yang sewaktu-waktu bisa mengambil nyawa ayah saya, tiap kali saya merasa hidup saya sedang berat, tiap kali merasa gagal, bahkan di hari ketika ayah saya meninggal. Ia hanya diam dan tidak pernah berkata apa-apa, tapi toh saya masih cinta. Tidak ada kalimat yang bisa menjelaskan alasannya secara rinci. Saya lebih suka menjawab: karena domba ini lucu, seperti bayi. *ini alasan bodoh, karena ia memang boneka bayi*

Ia benda mati yang paling saya cinta, hingga akhirnya saya membeli boneka yang serupa. Karena saya sadar, saya bisa makin gila kalau terus-menerus kurang tidur. Seperti yang sudah saya bilang, saya tidak bisa tidur kalau tidak memeluk boneka itu. Seorang teman bilang, dia sedikit lega ketika melihat saya mendapatkan boneka domba yang baru. Setidaknya, saya tidak kelihatan frustasi lagi. Boneka itu –sama seperti pendahulunya, saya beri baju-baju yang lucu. Bahkan ibu saya membuatkan beberapa pasang kaus kaki rajutan untuknya. Inilah maksud kalimat yang dulu suka saya cuitkan, bahwa hanya orang-orang yang mencintai saya, yang tahu bagaimana saya sangat menyayangi boneka gembul ini.

Boneka ini, benda mati yang paling saya cinta. Sekarang, ia tengah menatap kosong ke arah saya, ketika saya tengah menuliskan postingan ini. Pipinya masih penuh kayak tumpukan baju londrian. Hehe.

image

Jadi, apa benda kesayanganmu?

(Visited 85 times, 1 visits today)

6 Thoughts to “#TantanganMenulis 1: Benda Kesayangan”

        1. UDAH JELAS DIA BONEKA, MASIH DIKASIH NAMA BONEKA. Itu kayak cewek yang dikasih nama Annisa. Udah jelas cewek, masih dikasih nama yang artinya ‘perempuan’. *ditabok annisa2 seluruh dunia :))) *sumpel mbem pake speaker

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *