Jpeg
Ilustrasi sekalian ngiklan :p foto dokumentasi pribadi

Zaman sekarang kayaknya udah banyak tips-tips nulis yang bertebaran di dunia maya maupun bentuk cetak yang dijual dalam bentuk buku. Tapi kayaknya tips itu sama seperti imajinasi, tak berbatas. Beda manusianya, beda juga tipsnya. Gue tipe orang yang agak malas bikin tips nulis unuk pemula blablabla –pada awalnya. Bukan karena gue songong nggak mau membagi ilmu yang ada, atau karena gue males ngetiknya, tapi lebih karena gue merasa bahwa tulisan gue sendiri masih ada kurangnya. Bahwa gue juga kadang masih dikasih wejangan sama senior.

Tapi tadi –barusan saja, gue buka grup Facebook, ada yang nanya ‘gimana caranya menulis?’, lalu beberapa penulis dari penerbit yang gue naungi menjawab. Dia sepertinya kurang paham, lalu komen lagi, “aku masih SMP, Kak. Tolong gunakan bahasa yang mudah dimengerti.” Karena dia ternyata nggak mengerti dengan istilah-istilah kayak ‘outline’, ‘editing’, dan sebagainya. Jadi benar-benar dari dasarnya yang dia tanyakan.

Kalau untuk komen di grup FB, honestly gue bingung juga jelasinnya. Apalagi tadi lagi online via mobile. Jadi, akhirnya gue pikir nggak ada salahnya menuliskan ini.

Hal pertama yang perlu kalian miliki untuk menulis adalah peralatan dan ide.

Peralatan bisa 2 macam, tergantung kenyamanan kalian saja:

  • Buku tulis dan pulpen: buat yang suka sama cara nulis manual, ini bakalan asyik. Dulu waktu zaman sekolah, gue nulis cerpen bahkan cerita bersambung di binder. Kemudian gue bawa ke sekolah biar dibaca teman. Rasanya senang, walau waktu itu cuma ada komentar pendek semacam ‘bagus’, atau ‘biasa aja, kurang greget’, atau malah ‘masih jelek, nih’. Komentar yang nggak dalam, tapi bisa bikin semangat untuk memperbaiki atau menuliskan yang baru.
  • Gadget: bisa laptop, tablet, atau ponsel. Jangan salah, banyak penulis yang sudah menerbitkan buku, dulunya menulis lewat ponsel pintarnya. Seorang teman menuliskan novel utuh lewat Blackberry. Selalu ada jalan ketika ada mau. Biasanya begitu.

Ide, sebuah hal yang sulit didefinisikan. Buat gue, ide ini nggak ada batasnya. Kalau ada yang nanya, di mana dapat ide, gue akan jawab di mana-mana. Gue pernah dapat ide bikin novel waktu lagi nongkrong di toilet, pernah waktu nunggu Transjakarta dan melihat abang-abang penjual bubble alias busa sabun lagi menjajakan dagangannya. Pernah juga waktu lagi melamun di kedai kopi. Ide ada di mana-mana, nggak bisa dijelaskan lokasi pastinya. Tapi kalau ribuan bahkan jutaan penulis di dunia ini sudah berhasil ‘menemukannya’ berkali-kali, masa kamu tidak?

Kemudian, kalian butuh outline. Mungkin nggak semua kenal outline itu apa. Secara singkat akan gue jelaskan bahwa outline itu kerangka tulisan atau kerangka karangan. Familiar? Ya, kita belajar ini waktu di kelas Bahasa Indonesia zaman sekolah dulu.

Gue nggak tahu gimana outline versi penulis lain, tapi outline versi gue sendiri isinya terdiri atas:

  1. Judul – Penulis
  2. Keterangan singkat tentang naskah tersebut: genre, tokoh-tokoh utama dan umurnya, latar tempat dan waktu secara umum, misalnya: Jakarta 1979, Singapura 2015.
  3. Premis: ringkasan seluruh isi novel dalam 1 kalimat saja. Hanya 1 kalimat pendek, bukan paragraf. Misalnya: Teror yang menghantui sebuah keluarga setelah pindah ke rumah baru mereka.
  4. Sinopsis (ini beda dengan yang di cover belakang buku, ya! Tulisan singkat di cover belakang buku itu namanya blurb): Sinopsis di outline ini adalah sinopsis lengkap dari awal cerita sampai ending, jangan menutup sinopsis dengan kalimat tanya semacam ‘jadi, bagaimanakah kelanjutan cerita Andi?’. Editor tak mau menerka, editor ingin cerita dan endingnya. Ini penting untuk menilai apakah ceritamu cocok dengan selera editor/penerbit. Naskah yang masuk ke penerbit itu ribuan dan rata-rata ratusan halaman per naskah, nggak mungkin editor membacanya dengan cepat satu per satu. Makanya, mereka butuh gambaran lewat sinopsis.
  5. Pengenalan tokoh utama: memperkenalkan siapa saja tokoh utamamu, bagaimana ciri fisiknya, sifatnya, segala hal tentang dirinya. Biasanya kalau gue, suka pakai foto artis yang gue pikir mirip dengan bayangan tokoh-tokoh yang gue ciptakan.
  6. Pengenalan tokoh pendukung: kurang lebih sama seperti poin 5.
  7. Sinopsis per bab: nah yang ini yang jadi inti dari sebuah outline. Tuliskan cerita per babnya secara rinci, serinci-rincinya, sampai keterangan-keterangan yang remeh. Karena seremeh apa pun ide, kalau nggak dicatat, tetap akan hilang.
  8. Lain-lain: biasanya hal-hal yang tidak bisa dituliskan di atas, maka tuliskan di poin ini.

Lalu setelah outlinemu jadi, yang harus kamu lakukan adalah memastikan PLOTnya tidak bolong. Plot cerita yang baik adalah plot cerita yang rapi. Gimana caranya menilai plot bolong atau nggak? Banyak cara. Misalnya, dalam cerita pasti ada sebab dan akibat. Kalau di outlinemu baru ada akibat, maka cari ide untuk menentukan sebabnya. Misalnya, kamu menceritakan seorang gadis yang bunuh diri. Mengapa dia bunuh diri? Sebabnya, mungkin karena dia korban bullying dan dia nggak tahan lagi sama ejekan orang-orang.

Atau bisa juga kamu cek, apakah timeline novelmu sudah pas atau belum. Misalnya, kamu menceritakan tanggal 15 Maret 2015 ia bunuh diri pada jam 7 pagi di kamarnya, kemudian kamu menuliskan jam 8 pagi ketika ditemukan, mayatnya sudah penuh belatung dan membusuk seperti tidak ditemukan dalam waktu yang lama. Ini kurang masuk akal, karena biasanya butuh waktu bagi mayat untuk membusuk.

Atau cara lainnya, cek apakah hal yang kamu tuliskan masuk akal atau tidak. Ini sih caranya dengan menggunakan logika masing-masing saja. Hehe.

Setelah ada outline, kalian bisa mulai menulis sesuai outline yang sudah kalian buat sendiri. Buat gue sih, outline penting. Bahkan, gue nggak akan mulai menuliskan novelnya kalau outlinenya belum selesai dan belum pas.

Ketika menulis, pasti kadang stuck dan nggak tahu lagi mau menuliskan apa. Nah, saat itulah kamu bisa membongkar outline yang tadi, harusnya di bab ini gue nulis apa, ya? Harusnya scene apa yang cocok untuk bab itu?

Setelah naskah jadi, kalian bisa editing. JANGAN mengedit naskah ketika sedang menulis, karena nggak bakalan selesai-selesai. Mengedit atau menyunting naskah dilakukan ketika naskah sudah selesai ditulis. Editing ada 2:

  • Edit aksara: ini edit penulisan; mulai dari EYD, tanda baca, dll.
  • Edit plot: ini tambahakan dari poin plot tadi. Kalau secara keseluruhan kamu membaca ceritamu dan rasanya masih ada yang bolong, bisa diedit bagian tersebut. Editing plot ini juga menyebabkan outline menjadi sangat penting. Kalau ada outline, bisa dikroscek, bagian mana di bab mana yang mau diubah. Kalau nggak ada, kalian akan kebingungan, scene yang ingin kalian ubah itu tadinya di bab mana. Ya bayangin aja, ngubek naskah 150 atau 250 halaman A4.

Setelah yakin bahwa naskahmu selesai seutuhnya, kamu perlu proofreader. Mintalah beberapa teman atau kenalanmu membacanya, tanyakan pendapat mereka. Apa yang masih kurang menurut mereka, dan bagian mana yang terasa masih janggal.

Btw, ini masih panjang, sih. Tapi sambung nanti aja, deh. Rencananya mau posting 1 contoh outline utuh, ngobrol soal plot, dan soal editing. Kepanjangan kalau dirangkum dalam 1 postingan.

Salam olahraga!

dan jangan lupa mampir!
(Visited 75 times, 1 visits today)

3 Thoughts to “Bagaimana Cara Menulis Outline?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *