Hal paling gila apakah yang pernah kalian temui atau kalian dengar dari dunia maya?

Atau bahkan pernah kalian alami sendiri?

Saya pernah mengalami pengalaman yang cukup menakutkan. Saya tidak pernah menceritakannya di ranah maya, karena saya pikir percuma saja. Tapi barusan, ketika saya membaca artikel tentang misteri seorang perempuan ‘fiksi’ bernama Leah Palmer ini, saya merasa harus menulis sesuatu. Terserah banyak atau tidak yang membacanya, terserah bagaimana orang lain menanggapinya. Tapi sepertinya pelaku semacam ini nggak cuma satu dua orang. Mereka ada banyak, mungkin tidak saling kenal, tapi kalau diperhatikan gejalanya kurang lebih sama. So, beware 🙂

Beberapa tahun lalu, saya punya seorang kawan dekat. Dekat sekali, sampai kami pernah dikira kembar. Posturnya mirip saya. Warna kulitnya pun sama. Pakaian, sepatu, tas, kami share semua hal yang bisa dishare. Kami masak bersama, makan sama-sama, jalan-jalan bareng, bahkan saling menginap di kos masing-masing. Saya sayang dia seperti saudara sendiri, bahkan lebih dari sayang saya pada sepupu-sepupu lain. Padahal saya kenal dia setelah dewasa. Dia pun pernah bilang, saya sahabat yang mengerti dia. Blablabla. Semacam itulah.

Dia yang pertama saya datangi waktu ada masalah. Saya menceritakan semuanya, karena dia juga begitu. Semuanya baik-baik saja, sampai suatu hari saya meminjam ponselnya untuk buka forum online. Waktu itu tengah malam. Dia sudah terlalu lelah pulang jalan-jalan, dan mungkin setengah sadar ketika mengizinkan saya meminjam ponselnya. Ada yang kelupaan ternyata. Dia lupa log out dari fake account Facebook yang dibuatnya atas nama saya, menggunakan foto-foto saya, dan lebih parahnya, digunakan untuk menggoda lelaki-lelaki kesepian.

 

This slideshow requires JavaScript.

Kalau saja dia orang lain, saya akan marah. Saya pasti langsung marah. Tapi karena dia sudah seperti saudara, saya lebih ke rasa kecewa. Saya ketakutan. Malam itu saya menginap di kamarnya, tidur di sampingnya. Saya nggak tahu harus bagaimana, jadi saya kontak seorang sahabat saya yang lain. Paginya, setelah saya mengumpulkan bukti-bukti dari ponsel dia semalaman, saya pamit pulang ke kos sendiri. Pagi-pagi sekali, beda dari biasanya, saya langsung keluar dari sana. Harusnya dia curiga, tapi dia tidak merasakan apa-apa. Dia masih senyum, tertawa, bercanda, seperti hari-hari sebelumnya. Saya bilang ada kelas pagi, jadi buru-buru, dan dia percaya.

Saya tidak mengontaknya seminggu penuh, dan saya yakin harusnya dia curiga. Karena kami selalu chat hampir setiap hari. Akun palsu yang dibuatnya atas nama saya, digunakan untuk minta uang pada lelaki-lelaki asing yang entah siapa. Sambil meng-attach foto-foto saya (yang sewajarnya ada di ponselnya, karena kami sering foto bareng, dan dia suka menawarkan menjepret foto saya ketika jalan bareng), dia bilang bahwa dia siap jadi pelacur karena sebelumnya sudah ML sama ‘mantannya’ kemudian ditinggal. Bagian ini paling lucu, dia beruntung isu karangannya ini nggak menyebar ke circle saya di dunia maya. Jadi saya nggak perlu repot-repot lapor polisi. Karena ngarang yang ini sudah keterlaluan.

 

This slideshow requires JavaScript.

Sekali waktu, sebelum saya memergoki akun palsu ini, dia malah pernah berhasil minta uang dari hasil merayu di Facebook. Lelaki separuh baya (ya, ya, om-om gitu deh) ini mengirimkan sejumlah uang ke rekening saya. Rekening asli saya. Dia meminta uang itu pada saya, dengan dalih bahwa itu temannya yang bayar utang, dan dia nggak punya rekening BCA. Bahkan, uang itu digunakan untuk mentraktir saya makan malam. Seolah ia tidak merasa berdosa sama sekali.

Yang membuat saya marah besar, ketika ia merayu lelaki-lelaki hidung belang sambil memelas dan membawa-bawa ayah saya. Dia menceritakan bahwa ‘ayahnya’ sudah meninggal dan dia butuh uang. Padahal ayahnya sehat walafiat, saya pernah bertemu dan ngobrol. Intinya, dia menjual kisah hidup saya demi sejumlah uang. Padahal saya tahu dia tak butuh uang. Saya tahu, dia kerja dan gajinya jauh di atas penghasilan saya sebulan. Apa pun motifnya, saya tak tahu hingga kini. Dia tak mau mengakui, bahkan menangis berkali-kali agar saya memaafkan, ngeles bahwa bukan dia yang melakukan itu. Tapi semua bukti mengarah ke dia, dan dia tidak sanggup membuktikan bahwa bukan dia pelakunya.

Intinya, kalau dia nggak salah, dia nggak akan minta maaf. Ralat, minta maaf sampai menangis. Kita nggak perlu takut kalau kita nggak salah, kan?

Itu cuma sepenggal cerita. Barusan saja, ketika saya membaca artikel tentang Leah Palmer ini, saya kaget setengah mati. Kisahnya agak mirip, tapi lebih parah.

ruth palmer

Buat yang malas baca artikelnya, karena memang panjang dan bahasa enggres pula, sini saya bantu rangkumkan.

Intinya, sejak 2012, seorang lelaki bernama Justin (bukan nama sebenarnya) berkenalan via dunia maya dengan seorang perempuan cantik. Namanya Leah Belle Palmer. Leah ini punya dunia yang sibuk, tampak dari aktivitas dunia mayanya, padahal aslinya sosok Leah tak pernah ada. Ada seorang iseng (yang kayaknya belum ketahuan siapa), mencuri foto-foto (kurang lebih 900 foto dalam rentang 2012-2015) dari akun Instagram Ruth Palmer. Gadis di foto itu nama aslinya Ruth, akunnya bahkan digembok, tapi bisa-bisanya ada yang mencuri fotonya, dan membuat sebuah dunia baru menggunakan foto itu.

Justin percaya Leah nyata, walau nggak pernah lihat mukanya atau bertemu dia langsung. Tiap kali Skype, Leah ngeles camnya rusak, jadi nggak bisa video call. Si penjahat juga sepertinya memantau kehidupan Ruth dan keluarganya. Karena tiap kali Ruth abis update di instagram dan akun lain, dia langsung mengambil foto tersebut, lalu mengepostnya atas nama Leah Palmer. Sakit jiwa.

Untuk lebih meyakinkan, dia membuat dua akun palsu lain. Akun ibu Leah dan akun seorang sahabat Leah. Keduanya berpatokan pada keluarga dan teman dekat Ruth Palmer sendiri. Bahkan dengan beraninya, si penjahat ini memposting foto Ruth bersama suaminya, yang diberi caption ‘ex selfie’. Yap! Suami Ruth Palmer mendapat peran mantan pacar dalam dunia Leah Palmer.

ruth-palmer

Benar-benar rapi, sampai nggak ketahuan selama 3 tahun. Suatu hari kasus ini terbongkar karena seorang teman kuliah Ruth melihat akun Leah. Karena di dunia maya, Leah memang terkenal sebagai seorang fasionista. Dia mengadukan hal ini, Ruth melihatnya sendiri, mengadukan lagi ke pihak Instagram sehingga akun Leah diblokir. Bahkan setelah diblokir, akun lain muncul lagi. Masih dengan nama Leah, dan dengan foto-foto Ruth. Seolah di penjahat nggak punya rasa berdosa atas perbuatannya yang sudah di luar batas itu.

Sakit jiwa?

Ya.

Parah?

Ya!

Tapi biasanya yang sudah kayak gini, akan susah sadar bahwa tindakan mereka salah. Entah mengapa, bagi sebagian orang, mengambil dan mempermainkan foto orang lain menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan. Mungkin ini kelainan jiwa, tapi saya nggak paham sepenuhnya.

Yang jelas, ‘suatu kehormatan’ bahwa foto saya pun pernah dikerjai seorang sahabat baik dengan cara sesakit itu. Mungkin saya bisa mengambil hikmahnya; mungkin dia merasa saya lebih cakep dari dia. Hahaha. Atau mungkin dia merasa kisah hidup saya lebih menarik dari hidupnya. Atau mungkin juga, ini peringatan agar saya tidak gampang percaya pada orang lain, meski dia sudah saya anggap saudara sendiri.

Jadi, apa ceritamu? 🙂

(Visited 99 times, 2 visits today)

9 Thoughts to “Dunia Maya yang Semakin Sakit Jiwa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *