Image from @byotenega 's blog

Judul postingan ini terbaca agak sinis, ya? 😛
Well, perdebatan bisnis atau amal ini dimulai ketika saya ngobrol dengan dua teman mengenai sebuah akun online shop (yang tak akan saya sebutkan di sini), yang membuat ‘kampanye’ bahwa setiap pembelian produknya, berarti customer sudah menyumbang sesuatu bagi mereka yang membutuhkan.

Intinya, yang disumbangkan itu berupa sebuah beda, yang menurut kami jauh sekali harganya dengan harga satu buah produk mereka. Perbandingannya jauh, hanya sepersekian persen dana yang disumbangkan dari per produk yang terjual. Tapi pada kenyataannya, ramai-ramai saja warga yang mampir dan membeli.

Seorang teman nyeletuk, “Harga barangnya mahal, tapi yang disumbangkan nggak seberapa. Gue nggak suka shop yang ‘menjual’ amal demi kelancaran bisnisnya. Kalau mereka memang berniat nyumbang, harusnya maksimal, kan?”

Ini membuat saya berpikir, oh iya juga. Apa kadang kita atau orang-orang yang kita temui, bisa saja menjual nama amal sebagai tameng untuk melariskan bisnis? Karena biasanya, banyak orang bersimpati pada suatu hal yang di baliknya ada tujuan amal, ketimbang yang tidak.

Misal, saya disodorkan sebuah kaos polos seharga 200ribu, pasti saya mikir lagi untuk membelinya. Tapi jika kaos seharga 200ribu itu, penjualannya akan didonasikan 100ribu per kaos bagi yang membutuhkan, maka saya –atau mungkin kamu, tak akan berpikir ulang untuk mengiyakan.

Bukan karena kita ingin pamer bahwa kita punya uang lebih dari yang lain, malah kadang bukan karena produknya yang menarik, tapi lebih ke kalau bisa membantu, mengapa tidak?

Ini sama seperti membedakan prinsip sale buku dengan lelang buku. Saya ambil contoh ini, karena saya pernah berkecimpung di dalamnya. Jujur, sebagai mantan panitia lelang, saya benci sekali kalau ada yang menginginkan harga lelang jadi sangat murah, atau kesal kalau lawannya ngebid terlalu sering sehingga harga menjadi terus meninggi. Oh please, lelang itu tempatnya orang beramal, bukan tempatnya orang perhitungan. Kalau mau buku murah, ada tempatnya sendiri. Mungkin di acara obral buku, di basement Gramedia, dan lain-lain.

Amal, selagi kita mampu, mengapa harus perhitungan? Memangnya kalau malaikat perhitungan menghitung amal ibadahmu, kamu rela?

😛

Kadang kita ini memang suka ‘salah tempat’. Kadang terjadi tanpa kita sadari, kadang malah dengan kesadaran penuh 😛

Tak saya pungkiri, saya pun memiliki online shop. Dan Linebookshop –toko maya saya itu, pun pernah bekerjasama dengan akun amal. Tapi tak pernah sekalipun kami, para ownernya, berpikiran untuk memanfaatkan event tersebut demi melariskan dagangan. Itu dua konsep yang berbeda. Jika kami membantu event amal, kami akan fokus menghasilkan uang demi amal. Jika kami sedang berdagang, maka kami fokus untuk mencari sebongkah berlian *LHA* 😀

Jadi begitulah, kira-kira.
Sudahkah kamu melakukan sesuatu di posisi yang tepat? 🙂

Posted from WordPress for Android

(Visited 44 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *