#NulisRandom2015 – Manner dalam Berteman atau Berbisnis

Beberapa waktu lalu, saya ngobrol dengan dua teman. Sebenernya nggak boleh ya ngegosip di bulan Ramadan, tapi adek mah apa atuh, kak. Bukan Nabi, cuma butiran debu. *disorakin*

Intinya, kami membahas seorang teman. Sebut saja namanya Mawar, biar keren, kayak headline Koran Pos Kota gitu. Jadi teman saya yang saty, katanya udah ogah berurusan sama si Mawar ini. Soalnya mannernya jelek, katanya –baik dalam pertemanan maupun bisnis.

Sementara teman yang satu lagi juga katanya udah jengah, dan mulai membatasi. Saya sendiri nggak dekat dengan Mawar, cuma sempat dengar kisah orang-orang yang katanya dulu deket sama dia. Saya sempat heran sama mantan temannya Mawar *cielah, mantan teman* soalnya saya pikir, mengapa dia mendadak jengkel sama Mawar. Saya malah kira dia yang aneh. Beneran, deh. Sebelum saya tahu betul sifat aslinya Mawar. Karena waktu dia bermasalah sama Mawar, si Mawar sedang baik-baiknya dan ramah-ramahnya ke kami bertiga (saya dan dua teman tadi).

Kembali ke topik awal. Ternyata, usut punya usut, si Mawar katanya cuma manis ke orang yang dia butuhkan saja. Setelah urusannya selesai, si teman akan ‘dicampakkan’, dan dia akan nempel ke teman lain yang bisa menguntungkan dia dalam hal lain lagi. Begitu terus siklusnya. Kebetulan dia memang pernah berteman dengan beberapa orang yang saya kenal, dan mereka semua mengisahkan hal yang sama. Bahkan sekarang, kalai ketemu Mawar, mereka dicuekin. Mawar akan buang muka dan beralih ke teman lain.

Panjang amat, Neng. Apa sih inti postingan ini?!

Intinya, saya hanya sedang berpikir, kira-kira bagaimana manner yang baik dalam berteman maupun berbisnis itu?

Mungkin rules utamanya adalah nggak bermuka dua, kali, ya?

Atau nggak habis manis sepah didaur ulang *LHA*

*ya, zaman sekarang kan semuanya diusahakan recycle, kak. Jangan langsung dibuang, gitu*

Entahlah, saya juga tidak paham bagaimana manner yang baik itu. Tapi saya selalu berusaha baik-baik saja dengan semua orang. Cara paling gampangnya adalah dengan berkaca. Kalau saya mau jahatin orang, saya akan berpikir, kalau saya di posisi dia, pasti saya juga nggak suka digituin. Ya sudah, jangan dilakukan.

Itu simple-nya, lho 🙂

Lalu bagaimana dengan si Mawar tadi?

Sesuka hidup dialah, dek 😛 kalau dia masih tetap begitu, sih, siapa juga yang betah.

Tapi memang nggak bisa dipungkiri, ada beberapa orang yang cara bersikapnya akan membuat kita berpikir ealah, Gusti, ada banget orang kayak begini di bumi?!

Akan selalu ada.
Kakak ulang, dek.
Akan. Selalu. Ada.

Hehe.

Posted from WordPress for Android

(Visited 30 times, 1 visits today)

Silakan baca juga...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *