Image from here

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat mendapat cerita dari beberapa teman mengenai masalah mereka, dan kebetulan intinya sama. Rata-rata, mereka (semuanya perempuan) mengeluhkan bahwa pasangannya (para lelaki itu) bermasalah, tapi mereka tidak berani bicara atau menegur atau memberikan pendapat bahwa mereka tidak suka perlakuan si lelaki, karena takut dimarahi, takut ribut-ribut, atau parahnya malah dtinggalkan. Permasalahannya sendiri ada beragam; mulai dari pacar yang tempramental, pacar yang terlalu cuek dan nggak peka, pacar yang masih suka meladeni kecentilan wanita lain. Beragam sekali, sih.

Hal simpel yang pertama kali selalu saya tanyakan tentu saja: mengapa kamu tidak bicara? Setidaknya dengan bicara, kamu takkan tersiksa karena memendam rasa jengkel sendirian.

Tapi jawaban yang saya dapat adalah, karena mereka takut kehilangan. Intinya begitu. Mereka takut pada reaksi si lelaki, dan belum bicara pun, para perempuan ini umumnya sudah membayangkan reaksi yang aneh-aneh. Bahkan sampai ketakutan akan diputuskan. Mereka terlalu takut pada kehilangan (yang itu pun belum pasti, kan).

Mari sejenak kesampingan para perempuan itu. Suatu kali, saya sedang ngobrol dengan seorang teman lelaki yang juga sudah punya pasangan. Ia mengakui blak-blakan, dengan sangat santai, bahwa terkadang ia masih suka berbohong pada pacarnya sendiri. Tapi ia mengatakan, ia hanya berbohong untuk hal-hal yang (dianggapnya) kecil. Misalnya, kalau si perempuan tak suka teman saya itu keluyuran sampai larut malam, maka teman saya akan membohonginya ketika si teman memang sedang di luar pada malam hari. Ia mengaku saja bahwa  ia sudah di rumah dan akan tidur. Katanya, dengan begitu, ia bisa menekan pertengkaran, karena perempuannya tidak akan mengomel lagi.

Pernah saya singgung begini, “bohong memang selalu dimulai dari hal kecil, kan? Nanti lama-lama jadi kebiasaan.”

Teman saya itu tertawa, katanya mau bagaimana lagi. Kalau ia tidak melakukannya, mereka mungkin akan sering ribut karena ‘hal kecil’ itu.

Kemudian kami tertawa dan mengalihkan obrolan ke tema lain. Masih urusan lelaki dan perempuan. Ia bilang pada saya, mana ada lelaki yang sudah punya pasangan tapi berhenti melirik wanita lain? Nggak ada. Hampir semua lelaki suka melihat wanita selain pasangannya. Yang bikin segar mata. Dan ia nyeletuk juga, ya mumpung belum nikah ini, kan. Daripada pas nanti sudah menikah, terikat sama satu perempuan.

Begitu. Iya, begitu. Mereka sangat menikmati hidup. Dan coba bandingkan dengan kasus di atasnya, tentang perempuan yang bahkan bicara  pun tak berani. Saya kadang merasa, sebagian kaum saya masih sangat pengecut. Bahkan untuk memperjuangkan pendapatnya sendiri mereka tak mampu. Mereka hanya bisa menerima, bagaimana pun perlakuan para lelakinya. Mereka takut kehilangan, padahal para lelaki tak setakut itu kok bakalan kehilangan kita, GIRLS. 🙂

Walau memang, saya akui, ada banyak juga perempuan yang berani. Berani mengatakan tidak, berani bilang ia tak suka pada kebiasaan buruk pasangannya, dan lain-lain.

Karena akan lebih baik bicara, bertengkar sementara lalu berbaikan lagi, daripada menyimpan rasa jengkel selama sisa hidup.

🙂

(Visited 78 times, 1 visits today)

One thought to “Perempuan yang Berani Berpendapat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *