Gambar dari sini

Kalau ditanya kapan masa-masa terburuk dalam hidupmu, saya tanpa ragu akan menjawab ketika saya kehilangan ayah saya, lima tahun silam. Saat itu, saya masih berusia 18 tahun, sedang berada dalam perjalanan pulang ke rumah bersama adik, ingin berkumpul kembali bersama orangtua dan adik yang masih kecil, dan kemudian yang terjadi adalah tidak ada suasana tersebut.

Saya masih ingat setiap detilnya. Dari stasiun kami berdua memutuskan untuk naik ojek biar lebih cepat sampai rumah. Ketika masuk ke perumahan, saya mendapati bendera kuning yang terpasang dan berpikir betapa menyedihkan sekali orang-orang yang ditinggalkan oleh orang yang mereka cintai. Waktu itu hari Jumat, menjelang atau setelah salat Isya. Dan ternyata sayalah yang menjadi orang yang ditinggalkan tersebut.

Turun dari motor, kami dihampiri oleh salah satu kerabat dan mengabarkan bahwa ayah sudah tidak ada. Saya langsung menghampiri ibu saya sudah berdiri di depan pintu, menyambut kami berdua dengan isak tangis. Saya memeluk beliau dan menangis bersama.

Dia mengatakan seperti ini, “Udah nggak apa-apa. Papa sekarang udah sehat.”

Lalu saya masuk ke dalam rumah dan melihat ayah terbaring (kalau tidak bisa dibilang terbujur kaku) di atas tempat tidur yang sengaja ditempatkan di ruang keluarga kami. Saya duduk di sebelah beliau dan setengah tidak percaya dengan apa yang terjadi. Saya sempat menyalahkan intuisi saya bahwa keadaaan rumah tidak baik-baik saja, dan saya justru mengabaikannya. Saya sempat hampir pula menyalahkan Tuhan perihal takdir yang cukup perih yang harus saya dan keluarga saya tanggung. Menjadi anak yatim.

Saat itu saya tidak sampai berpikir, ada anak-anak lain yang tidak lebih beruntung dari saya. Ada di antara mereka yang tidak sempat melihat sosok orangtuanya, maupun harus ditinggalkan di usia muda.

Ya, kehilangan ternyata dapat membutakan segalanya. Termasuk membenarkan apa yang sebenarnya sudah salah di awal.

Mengingat kejadian itu, membuat saya menjadi sosok yang rapuh. Kehilangan ayah membuat saya haus akan sosok penggantinya. Saya mencari seorang laki-laki yang bisa menggantikan sosok ayah saya.

Saya mencari dia yang bisa menjaga saya, melindungi, dan merawat saya dalam segala kondisi.

Dia yang mau mendengarkan segala macam keluh kesah saya.

Dia yang mau menukar posisinya ketika kami berjalan di trotoar.

Dia yang mau menghabiskan makanan saya yang tidak habis karena kekenyangan.

Dia yang mau meminjamkan bahunya untuk saya merebahkan diri ketika saya gelisah, lalu tak sungkan menghapus air mata saya ketika saya merindukan ayah.

Dia yang mau jauh-jauh datang ke tempat saya hanya untuk membawakan makanan yang saya ingini.

Dia yang mau sedikit waktunya untuk saya curi demi untuk bersama saya.

Dia yang mampu menjadi sosok yang saya cari sejauh ini.

Beberapa sosok seperti itu memang datang. Sosok yang hanya sempat datang. Tanpa meminta status lebih dari sekadar teman.

Selama itu saya menutupi mata, telinga, dan hati dari kenyataan yang terjadi sebenarnya. Bahwa ada dia yang tidak bisa saya miliki sepenuhnya. Kemudian, waktu berlalu dan menyadarkan saya tentang beberapa hal.

Mereka yang pernah datang, bersama saya, kemudian pergi begitu saja, bisa jadi karena saya mencari mereka dengan alasan yang salah. Saya hanya ingin sosok pengganti ayah, padahal sosok ayah tidak bisa digantikan oleh siapapun.

Mungkin, Tuhan sedang menghukum saya atas ‘kenakalan’ yang sempat saya lakukan dulu. Tapi saya menyadari lagi kalau saya ingin menemukan seseorang yang tepat, setidaknya saya tidak boleh menggunakan alasan yang salah.

Saya ingin menemukan seseorang itu untuk melengkapi hidup saya, bukan untuk menjadi sosok pengganti ayah.

*

Bella Zoditama
@bellazoditama
bellazoditama.wordpress.com

*

Bagi yang ingin mengirimkan guest post, boleh banget. Silakan kontak ke @kopilovie atau petronela.putri@live.com 🙂

(Visited 34 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *