Foto: dok. pribadi

Tempo hari saya bertemu seorang teman, kemudian mendapatkan sebuah –apa ya, namanya, saya juga tidak tahu harus menyebut benda ini sebagai apa, tapi ia menyebutnya zine. Berkata bahwa saya harus membacanya, tapi kebetulan waktu itu saya punya antrean buku-buku yang menanti untuk dilahap, jadi baru pagi ini zine tersebut berhasil saya selesaikan.

Zine.

Z i n e.

Nama yang menarik, tapi sejujurnya hampir tidak pernah saya tahu sebelumnya. Ternyata ketika saya telisik dan saya baca lagi –ditambah referensi dari blog orang, saya jadi tahu bahwa zine itu adalah kependekan dari magazine.

Apa itu zine? here we go. ‘zine’ sebenarnya adalah kependekan dari ‘magazine’ atau majalah. Dibacanya ‘ziin’ bukan ‘zain’, dimana konteks dan isinya tidak terdapat dalam majalah mainstream, atau bahasannya berbeda dengan majalah lainnya. Zine sendiri cukup umum dibelahan dunia sana, dan sekarang sedang berkembang disini. Biasanya zine memiliki penyebaran yang tidak terlalu luas dan pada umumnya diterbitkan secara independen. Sirkulasi pendistribusian suatu zine biasanya tidak besar, non komersil, tidak professional dimana para pembuatnya memproduksi, mempublikasikan dan mendistribusikannya sendiri.

Dari sana pula akhirnya saya paham, bahwa di luar negeri sudah banyak orang yang membuat dan menyebarkan zine. Jenisnya pun beragam, sesuai topik yang dibahas, entah politik, olahraga, musik, maupun agama/kepercayaan tertentu. Zine yang ada di tangan saya sekarang berjumlah 42 halaman, dan tidak ada gambar di dalamnya. Jadi, ini agak melenceng dari bayangan saya soal majalah.

Zine ini berjudul SAMSARA –Perjalanan Menuju Hiperborea, setidaknya begitulah yang saya baca pada sampulnya. Ketika saya membuka halaman-halaman pertama, yang saya jumpai adalah penjelasan singkat mengenai arti zine bagi seorang ‘aku’ –yang dalam hal ini mungkin penulisnya sendiri.

Tidakkah engkau pernah mendengar, seorang mengatakan bahwa satu hari hidup seorang penjelajah seringkali lebih penuh terisi dengan kenangan dan kejutan dibandingkan hidup sebulan atau setahun dari seseorang yang mengabdikan seluruh waktu hidupnya untuk bekerja dan hidup sesuai aturan?

Saya akui itu benar, benar sekali. Saya punya penyangkalan, tapi saya tidak akan menuliskannya panjang-panjang, sebab itu hanya akan mengubah review singkat nan sederhana ini menjadi forum debat. Jadi, mari kita lanjutkan saja ulasannya. Tangan saya bergerak ke halaman berikutnya, di mana sebuah cerita –entah nyata, entah fiksi, baru saja dimulai.

Seorang lelaki bertindak sebagai ‘Aku’. Ia bercerita bagaimana ia dan teman-temannya sesama pencuri, umumnya punya cara sendiri agar tidak ketahuan. Mereka melakukan itu bukan untuk memenuhi tuntutan kehidupan, melainkan untuk memenuhi rasa senang dari diri mereka sendiri, ada rasa puas ketika ia merasa sudah berhasil mengembalikan nilai barang sebagai nilai guna, bukan nilai tukar.

Jika ini agak rumit, mari kita sederhanakan. Nilai barang sebagai nilai guna adalah tentang sebagaimana layaknya sebuah barang ya untuk dikonsumsi, dihabiskan, bukan sebagai nilai tukar, dalam artian harus dibeli terlebih dahulu. Itulah yang mereka –si ‘aku’ dan kawan-kawannya, perjuangkan.

Kami tidak menolak komoditi, kami hanya menolak membayar untuk mendapatkannya.

Jadi begitulah cara yang mereka lakukan dan halalkan: sebuah pencurian.

Cara yang mungkin ilegal di mata banyak orang dan termasuk ke dalam tindakan kriminal. Padahal rata-rata orang mencuri untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tapi si ‘Aku’ menyangkalnya dengan santai. Menurutnya, pencuri sejati adalah orang yang mencuri di dalam hidupnya, bukan untuk hidupnya. Orang-orang yang terdorong oleh kebutuhan hidup sebenarnya bahkan lebih mau bekerja 9 to 5 di balik meja atau di dalam pabrik untuk menutup kebutuhan hidup –jika mereka punya kesempatan.

Toh pencurian semakin marak semenjak produk-produk dijauhkan dari nilai gunanya sementara mereka yang paling membutuhkan biasannya adalah mereka yang berada di deretan paling akhir dari barisan konsumen. Orang-orang di deretan pertama adalah mereka yang mengonsumsinya dengan alasan prestise atau sebagai pembunuh kebosanan. Apabila orang-orang yang memiliki uang tersebut merasa bosan dengan hidupnya, apabila mereka benar-benar pintar, seharusnya mereka tidak pernah membelanjakan uangnya untuk menghamburkannya dengan belanja. Mereka tidak butuh belanja. Mereka butuh petualangan. Langkah yang harus mereka lakukan cukup hanya dengan meninggalkan kekayaannya, dan mulai belajar mencuri. Hidup akan terasa lebih indah dan menarik.

Sebuah kalimat dari Karl Marx juga sudah berhasil mengubah pandangan si ‘Aku’. Filsuf besar asal Jerman itu pernah berkata. “Guna filsafat adalah untuk mengubah dunia, bukan sekadar menginterpretasikannya.”

Maka dengan landasan itulah si ‘Aku’ ingin memulai petualngan hidupnya, salah satunya dengan mendapatkan barang yang ia inginkan tanpa membayar –sekaligus demi membunuh nilai tukar, lalu mengembalikannya menjadi sebuah nilai guna. Sebab ia yakin, pepatah bersakit dahulu, bersenang kemudian adalah omong kosong. Bagaimana jika tidak ada waktu ‘kemudian’ lagi dalam hidupmu? Kamu akan menghabiskan hidupmu dengan bersakit-sakit saja.

Dan di antara banyak hal, ‘Aku’ sangat menyukai musik, sebab musik adalah makanan terbaik untuk jiwa seseorang. Karena itulah, kemudian cerita berpindah. Entah nyata, entah fiksi, saya tidak tahu. Si ‘Aku’ baru saja keluar dari toko CD/DVD bersama seorang wanita janda cantik bernama Niko. Pacar gelapnya tersebut jelas punya uang, terbukti dari di mana ia mengajak si ‘Aku’ makan malam bersama, tapi si ‘Aku’ tetap saja menjalankan aksinya untuk mencuri di toko CD/DVD tadi. Niko masih tidak habis pikir, bahkan gadis-gadis lain yang dekat dengan ‘Aku’ pun tidak habis pikir untuk apa si ‘Aku’ mencuri padahal ia masih sanggup membeli. Namun, sepertinya si ‘Aku’ ini cukup kekeuh dengan pemahamannya.

Apabila para Marxis berkata bahwa proletariat tak memiliki kontrol atas produk di bawah sistem kapitalisme yang dioperasikan oleh para akumulator kapital, tidak begitu halnya bagi para kriminal yang melihat dunia material adalah miliknya. Bahwa segala materi di atas bumi ini dapat diambil seakan miliknya sendiri. Segratis air hujan dan sinar mentari. Kupikir para proletariat seharusnya mulai belajar mencuri.

Dan begitulah seterusnya hingga penghabisan zine ini. Si ‘Aku’ menuturkan pendapatnya cukup banyak, walau tidak bisa dibilang terlalu dalam, sebab zine ini hanya 40-an halaman, dan lagi ceritanya dibumbui dengan kisah perjalananya bersama teman dan para gadisnya. Untuk mengulas sesuatu yang dalam, mungkin butuh berhalaman-halaman lagi, dan berhari-hari lagi menuliskannya.

SAMSARA berisi sebuah sudut pandang yang berbeda dari masyarakat mainstream. Orang-orang barangkali mengantre di kasir untuk membayar barang yang ingin mereka dapatkan, namun tokoh ‘Aku’ menyelinapkan barang ke dalam pakaiannya untuk mendapatkan yang ia inginkan/ia sukai. Orang-orang pada umumnya menganggap kapitalisme adalah hal biasa, bahwa mereka memang harus membayar untuk mendapatkan sebuah barang, namun ‘Aku’ lebih senang memposisikan barang sebagai kegunaan, bukan menakarnya dengan pundi-pundi uang. Sebab, menurutnya sesuatu akan lebih berarti jika ada perjuangan untuk mendapatkannya..

Ada sebuah contoh menarik.

Henry Miller pernah berkata bahwa penulis tanpa audiensi sama dengan bunuh diri. Pernahkah engkau menulis? Bagaimana sensasi rasa yang kau dapatkan saat seseorang mengontakmu dan berkata sesuatu tentang tulisanmu? Kini bandingkan dengan situasi ini: engkau menulis sesuatu, mendistribusikannya, tapi tak seorang pun berkomentar soal tulisanmu. Percayalah, engkau akan lebih senang saat seseorang tiba-tiba mengirimimu kabar, mengatakan bahwa ia mencurinya dari sebuah tempat karena ia begitu menyukai karymu. Engkau akan merasa dirimu lebih berharga, engkau akan merasa lebih baik di tengah hidup yang kurang menyenangkan ini.

Untuk masalah pencurian, bahkan plagiat, saya terkadang merasa bahwa topik ini tak berkesudahan. Sebagai penulis, tentu saya merasa plagiat adalah sesuatu yang cukup menyebalkan. Bayangkan jika ada orang yang menyalin semua tulisanmu, lalu mengakui bahwa itu adalah karyanya, memajang tulisanmu di webnya tanpa menuliskan namamu sedikit pun. Bagi para penulis, itu menyebalkan sekali. Tapi ketika bicara pembajakan, terkadang ada sensasi lain. Beberapa penulis besar mungkin kesal mendapati bukunya dibajak dan dijual murah di tepi-tepi rel kereta, dekat kampus atau sekolah. Biasanya sasaran pembajakan adalah mahasiswa –terutama, dan tentu saja pelajar, yang belum punya banyak uang untuk membeli buku asli yang harganya semakin tak tahu diri akhir-akhir ini. Sebab seseorang yang sudah punya pekerjaan otomatis punya penghasilan, dan sebisa mungkin memilih buku yang asli, bukan bajakan (serta sedikit belagu soal kualitas, dalam hal ini, saya sendiri demikian. Saya tak suka baca buku bajakan karena kualitas tintanya bikin saya mau mati rasanya hanya demi membaca sebuah cerita). Tapi kembali lagi, bicara pembajakan, kadang di satu titik saya merasa ketika orang-orang ‘mencuri’ karyamu yang asli untuk dibajak dan disebarkan, itu tandanya tulisanmu menarik bagi pasar. Toh namamu tetap dicantumkan di sampul, tidak separah plagiat yang terang-terangan mendepak namamu dari karyamu sendiri.

Hanya saja, ya, kembali lagi. Suara kaum mayoritas selalu benar. Apa-apa yang tidak sesuai dengan aturan adalah haram, adalah ilegal. Sebab kita hidup di bawah sebuah pemerintahan yang punya hukumnya sendiri.

Itulah kegunaan utama para kriminal, merusak sistem ekonomi.

Yak, itulah mungkin guna kriminal, merusak sistem yang ada –tak hanya ekonomi. Sebab tak semua sistem yang ada itu sudah bagus untuk diterapkan, beberapa di antaranya mungkin masih merugikan beberapa pihak, tapi tetapi tetap saja digunakan. Yang kuat, yang berkuasa. Bukan gitu? Hahaha.

Sesuatu yang hadir, biasanya akan berevolusi. Entah berevolusi menuju kehilangan ataukah menuju sesuatu yang lebih kuat.

Dan demikianlah adanya.

(Visited 60 times, 1 visits today)

One thought to “Menyimak SAMSARA dan Sekelumit Cara Merusak Sistem Ekonomi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *