Media Cetak di Mata Anak Kemarin Sore Seperti Saya

Gambar dari sini

Tahun 2015 kemarin ditutup dengan gemparnya dunia maya, terutama kalangan media, dengan munculnya tulisan seorang senior di portal milik salah satu pihak penerbit berita yang namanya cukup besar (dan berpengaruh) sepanjang sejarah surat kabar dalam negeri.

Tulisan itu berjudul Inikah Senjakala Kami, ditulis oleh Pak Bre Redana. Harusnya tulisan itu bisa saya baca di koran, tapi berhubung saya tidak berlangganan koran dan malah membacanya terlebih dulu lewat dunia maya, maka tulisan anyar tersebut saya cermati lewat genggaman gawai.

Dalam tulisan itu, Pak Bre (saya panggil Pak sebab saya taksir usia saya jauh sekali di bawah beliau), menuturkan kegelisahan, hmm, ralat, lebih terbaca seperti kekecewaan mengenai jurnalis era sekarang ini. Intinya, menurut beliau, jurnalis dulu itu harus menuliskan setiap info di buku catatan, dan mengejar narasumber ke mana-mana jika ingin mendapatkan berita yang diinginkan. Tentu perjuangannya jauh lebih keras dibanding jurnalis zaman sekarang, di mana manusia sudah memiliki gawai yang super canggih. Seorang wartawan bahkan bisa merekam sambil chatting di ponsel pintarnya jika ia mau dan merasa multitasking. Tapi semua juga tahu, bahwa chat di hadapan narsum sungguh bukan etika yang baik.

Dan disinggung juga soal press release. Zaman sekarang itu, ya, press release bisa dipecah menjadi beberapa bagian, kemudian diposting. Tentu saja di media online. Nah, kesimpulan dari saya baca tulisan tersebut, Pak Bre merasa perjuangan jurnalis muda zaman ini tak segetol perjuangan para pendahulu.

Seorang teman yang berkecimpung sejak lama di dunia public relations menuturkan, enak menghadapi wartawan sekarang. Tinggal sediakan press release. Mereka melakukan copy paste dari press release tadi apa adanya. Tidak perlu pusing menjawab pertanyaan, karena mereka tidak bertanya. Dalam press tour ke luar negeri untuk peliputan masalah tertentu, pertanyaan hanyalah kapan free time atau waktu senggang. Mereka ingin jalan-jalan, belanja.

Sebagai salah satu anak muda yang berkecimpung di media, saya paham bahwa di banyak acara biasanya selalu disediakan press release, dan teman-teman jurnalis juga sering menanyakan hal ini. Saya pun kadang pegang press release, kok. Sebab, di kertas itu semua info yang kita butuhkan ada dan cukup lengkap. Jika merasa kurang, kita bisa menggalinya lebih dalam. Cuma mungkin ini yang membuat Pak Bre atau mungkin beberapa senior jadi kecewa. Mungkin dengan adanya benda ini, semua jurnalis muda dianggap jadi malas. Entah, saya tak tahu dan tak mampu menerka apa isi hati seseorang.

Internet menyediakan semua data, tapi dia tidak akan pernah bisa menggantikan proses pertemuan dan wawancara. Wawancara bukanlah penampungan omongan orang, melainkan konfrontasi kesadaran. Pada kesadaran ini terdapat dimensi lain dari jurnalisme, semacam dimensi nonteknis taruhlah moral, etik, dan kemanusiaan.

Harus saya akui ini benar. Ibarat pelajaran sekolahan, internet adalah teori, sedangkan wawancara narsum adalah praktiknya. Jika keduanya dibandingkan, tentu kita akan lebih puas dengan praktik lapangan, sebab kita merasakan semuanya dengan kelima indera yang dimiliki. Bahkan seorang kenalan saya yang wartawan di majalah sana –yang tak akan saya sebutkan merknya, pernah juga hampir digebukin security karena mencari berita yang sensitif kala itu. Mungkin bagi beberapa wartawan yang sering terjun langsung, hal ini sudah biasa dialami. Sensasinya lebih mendebarkan dibanding ngeposting berita dari press release. Hehe.

Tahun segera berganti. Inikah senjakala surat kabar? Sekadar mengingatkan para juragan: di balik cakrawala senja, nilai-nilai di atas tetap diperlukan manusia.

Di kalimat akhir inilah saya kemudian tahu, bahwa Pak Bre tengah gundah mengenai nasib surat kabar. Ditambah lagi, dengan semakin canggihnya segala hal, banyak media cetak yang satu per satu tumbang. Salah tiga nama yang familiar dari media-media yang gugur tersebut adalah Koran Tempo edisi Minggu, Harian Bola, dan Sinar Harapan, koran lawas yang konon kabarnya salah satu media yang berani menuliskan tentang pembantaian sipil di Jawa era 65 dulu.  Hanya saja, saya dengan berat hati harus mengiyakan pendapat beberapa orang, bahwa tulisan Pak Bre kemarin itu agak ‘sendu’ dan terkesan kalah. Saya pikir, harusnya seorang yang lebih lama berkecimpung di dunia media –terutama cetak, akan lebih gagah menghadapi badai daripada para jurnalis muda dan anak kemarin sore (yang kebetulan bekerja di media juga) seperti saya ini. Tapi kalimat-kalimat Pak Bre mengandung kesedihan yang jelas terbaca oleh semua pembaca.

Sempat juga tulisan ini dibalas Mas Irwan Bajang di webnya, bahwa badai senjakala media cetak memang sudah dekat. Ketika saya membaca esai ini, saya merasa Mas Irwan sedikit kejam, haha. Tapi kejam yang ada benarnya juga. Saya sendiri menyimpulkan, bahwa tak ada yang salah dengan teknologi. Dunia tentu akan terus berkembang dengan segala tetek bengeknya. Kita sebagai penghuninya hanya bisa mengikuti, atau kalau mau ekstrem –menciptakan perkembangan baru. Ketika gawai-gawai canggih itu mulai menjadi makanan sehari-hari dan banyak yang dijual murah, orang akan lebih mudah mencari informasi/berita. Dunia maya ini semakin terbuka, semakin luas, apa yang tak sempat kita baca di koran, masih bisa dibaca versi digitalnya.

Teknologi tak selamanya buruk. Teknologi itu buruk jika kita menuhankannya, hingga lupa pada segala hal yang ada di dunia nyata. Tapi kadang malah teknologi membantu sekali, jika kita memanfaatkannya dengan benar. Seperti yang saya ceritakan kemarin di sini, bahwa saya pernah kehabisan majalah Tempo edisi khusus. Untungnya, masih tersedia bentuk digital, sehingga saya tetap bisa membeli lalu membacanya. Itu hal yang mungkin masih kecil, tapi saya yakin teknologi sudah menyelamatkan banyak hal di luar sana.

Ini bukan pembelaan terhadap teknologi sebab saya anak muda. Bukan sama sekali. Saya termasuk pembaca yang lebih mencintai buku fisik ketimbang buku digital, tapi saya tak spontan anti terhadap buku digital. Saya masih membaca versi digital, meski durasinya tentu tak sesering membaca buku fisik. Buku digital hanya saya baca ketika di perjalanan jauh dengan barang bawaan banyak dan tak memungkinkan lagi mengangkut buku fisik yang cukup tebal di dalam tas. Itu contoh kecil kedua.

Saya juga termasuk anak yang ‘menikmati’ media cetak semasa kecil. (Alm) Ayah saya berlangganan beberapa koran nasional dan koran lokal sekaligus di rumah, serta menghabiskan sebagian besar waktu senggang beliau untuk membaca koran-koran itu. Saya pernah baca Jakarta Post, Kompas, Haluan (Padang), Padang Ekspress (Padang), dan mungkin merk lain yang sudah saya lupakan. Saya tak bilang bahwa saya mencerna semuanya sekaligus. Saya tak secerdas itu, tapi setidaknya saya pernah menjadi anak kecil yang diajari dan dibiasakan membaca koran. Saya sering memandangi Ayah menekuni koran-korannya. Tapi seperti yang saya tulis di judul postingan, saya ini anak kemarin sore, anak bau kencur. Dulu saya tak tahu bagaimana perjuangan jurnalis menghasilkan sebuah koran, terlebih koran harian yang ditunggu penduduk Republik ini tiap pagi. Setelah saya terjun ke media, perlahan saya mendengar cerita-ceritanya, dari teman, dari temannya lagi, dan dari membaca artikel –tentu saja.

Saya ini cuma anak kemarin sore, jika dibandingan dengan Pak Bre atau orang-orang yang kemarin-kemarin sempat menimpali postingan beliau, tapi saya cukup mencintai media cetak, lebih dari digital. Tapi lagi, saya juga tak bisa menyalahkan teknologi, sebab ia ada karena perkembangan manusia dan sedikit banyak tetap berguna. Jadi, Pak Bre, jangan bersedih 🙂 bagi ratusan atau jutaan orang di luar sana, media cetak masih yahud, kok.

Mungkin beberapa media cetak sudah tumbang, mungkin juga ini benar sebuah senjakala, tapi saya rasa, bukan sebuah akhir dan kematian.

Ah, sudahlah, saya mulai ngelantur ke mana-mana. Tapi saya senang pernah mengenal hal bernama media cetak, dan senang sekarang bisa menjadi bagian dari dunia media, walau tak saya pungkiri, saya ini anak online.

^__^

(Visited 79 times, 1 visits today)

Silakan baca juga...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *