visit bali
Postingan asli bisa dibaca di sini

Tadi siang melihat postingan FB seorang teman, tentang Bali. Ia berkata, ingin sekali tinggal di Pulau Dewata, sambil membagikan sebuah kiriman yang berisi foto-foto cantik Bali. Ada banyak spot, mulai dari yang paling alami sampai spot buatan nan mewah. Seketika saya teringat lagi pada impian kecil saya.

Saya ingin sekali kerja atau tinggal di Bali. Entah mengapa, saya merasa Pulau Bali adalah tempat yang paling seimbang –setidaknya di Indonesia ini. Jika saya memilih tinggal terlalu Timur karena berharap ketenangan, saya akan mendapat kesulitan akses ini itu, sebab bagian Timur sana tak seriuh Jakarta. Bahkan bisa dibilang, tak ada yang peduli padanya –selain turis-turis yang ingin plesiran mengusir penat, untuk kemudian pergi kembali ke kota besarnya yang megah.

Jika saya memilih ibukota, saya akan mendapat segala kenyamanan hidup, kemudahan akses, namun terlalu sumpek dan cepat penat. Kepala saya terkadang sakit untuk alasan yang tak bisa saya jelaskan. Mungkin hanya lelah melihat jalanan depan kantor yang arusnya tak pernah berhenti, mungkin juga karena kebanyakan makan makanan cepat saji. Kemicinan, kalau kata teman-teman kantor.

Sementara, saya pikir dan tilik lagi, jika saya memilih Bali, di sana lebih seimbang. Dari diskotek sampai pemandangan Kintamani yang indah, dari pusat hiburan yang riuh hingga tempat meditasi yang sunyi senyap, jika kalian butuh. Di Bali, sepertinya hidup bisa mendapatkan dua hal sekaligus, positif dan negatif. Tak selamanya kita harus positif dalam hidup, dalam bertingkah laku, sebab kita ini hanya manusia, bukan dewa. Saya mengakui itu. Terkadang mungkin kita butuh minum, butuh bersantai, butuh berjemur dengan pakaian minim. Itu gaya hidup, sebagian orang mungkin bisa menghindarinya habis-habisan, tapi tak sepenuhnya seluruh manusia bisa. Bagi sebagian orang, bersantai adalah kebutuhan.

Di Bali, kita bisa melakukan keduanya. Dugem bisa, meditasi bisa. Bahkan ada surga bernama Ubud, yang kalau tak salah, hanya berjarak 3 jam dari pusat kota. Katanya. Ubud –sejauh yang saya lihat di film dan saya baca di artikel, benar-benar seperti surga. Rasanya seperti melihat rumah setelah bertahun-tahun tak pulang. Segar.

itu adalah sebagian alasan cetek mengapa saya ingin Bali sebagai tempat tinggal. Selain itu, saya beberapa kali membaca buku tentang adat Bali, terutama fiksi. Dan lumayan tertarik karenanya. Sambil menetap, saya ingin sekali belajar dan tahu banyak tentang budaya mereka.

Hanya saja, sekarang saya belum tahu caranya. Mungkin menikah dengan seseorang yang punya pikiran sama, atau menikah dengan orang Bali, atau menikah dengan orang yang dinas di Bali, atau paling dekat mungkin mencari pekerjaan segera… yang lokasinya memang di Bali sana.

Hahaha, saya tidak tahu juga. Biar Semesta yang mengatur dengan baik, semoga ada konspirasi agar saya bisa stay di sana, entah di tahun berapa.

(Visited 55 times, 1 visits today)

3 Thoughts to “Impian Kecil Tentang Bali”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *