Beberapa hari yang lalu Jakarta dihebohkan dengan berita terorisme. Sebuah tempat umum yang ramai di kawasan pusat ibukota –tepatnya di gerai kopi milik Amerika, beberapa bom meledak. Polisi lalu turun dan menyebar, menembak beberapa pelaku pengeboman hari itu juga, hingga mengamankan Jakarta setelahnya.

Berbagai reaksi muncul dari masyarakat, baik di Jakarta maupun di tempat lain.

Malam itu, ketika asyik membahas isu terorisme yang amat mengagetkan tersebut di halaman media sosial, seorang teman mengirimkan foto salah satu jenazah pelaku pengeboman tanpa diblur. Saya menegurnya, mengatakan sebaiknya hapus foto itu. Ia mengira saya takut, padahal bukan itu alasannya. Sama seperti alasan netizen menolak publikasi foto jenazah korban bencana/kecelakaan tanpa blur, saya pun merasa foto tersebut tak sepantasnya diunggah, sebab kita harus menjaga perasaan keluarga almarhum.

Jika almarhum memang bersalah, dan rakyat di seluruh negeri ini marah padanya, maka setidaknya biarkan Semesta alam yang membalas segala kejahatan beliau. Mengapa kita harus ikut jadi orang jahat dengan menyebar foto itu. Bisakah kita bayangkan bagaimana reaksi ibunya, istrinya, atau bahkan anaknya jika melihat foto itu disebar orang di dunia maya, kemudian dicaci pula?

Teman saya lalu bilang, “lho, dia kan teroris!”

Saya hanya menjawab, “itukah yang diajarkan Tuhanmu? Menghukum manusia dengan cara seperti itu?”

Saya tak suka jadi manusia sok suci, karena kenyataannya saya memang bukan orang baik. Saya mengatakan itu bukan atas nama agama, tapi lebih ke logika dan kemanusiaan.

Lalu hari ini saya membaca berita di sebuah portal online, ada kisah lain. Jenazah pelaku pengeboman lainnya ditolak warga sekampungnya sendiri, sampai mereka membuat spanduk, “kami menolak jenazah teroris!”

Saya semakin ingin tertawa. Seperti itulah cara kita menghukum sesama manusia rupanya. Hingga orang-orang yang konon katanya punya tuhan jadi bertindak seolah merekalah Tuhan atas negara dan dunia ini, bisa menyiksa penjahat yang bahkan sudah almarhum. Jika Tuhan ada, saya ragu Beliau akan setega itu, tapi manusia bisa kok setega itu. Padahal, kan, menurut kepercayaan banyak umat agamis, derajat Yang Kuasa itu jauh, ya, di atas manusia.

Alangkah lucunya manusia sekarang, mereka mempelajari agama, berteriak pada orang banyak untuk mengamalkan kebaikan, beribadah rutin serta tepat waktu, namun masih terpikir dalam kepala mereka untuk menganiaya orang yang mereka anggap jahat.

Bukankah semua aliran kepercayaan apa pun bentuknya selalu mengajarkan kebaikan? Atau Tuhan di masa sekarang mengajarkan manusia fana untuk menyiksa sesamanya sendiri yang dianggap berbuat kesalahan?

Semoga bukan begitu 🙂

Sepertinya saya harus lebih banyak baca buku di taman daripada baca lini masa, ya. Kelamaan kelakuan manusia semakin kurang sehat. Kita kerap merasa sebagai yang paling baik dan benar, hingga menghalalkan segala cara. Termasuk cara paling kejam sekalipun. Padahal, kekejaman bukan cara yang baik dan benar.

How sad 🙂

Posted from WordPress for Android

(Visited 56 times, 1 visits today)

One thought to “Cara Manusia Menghukum Sesamanya”

  1. Begitulah manusia kan, terkadang kita lebih suka menghakimi ketimbang introspeksi. Seperti misalnya ketika kita mencela para terduga koruptor dengan membabi buta, sementara kita diam saja melihat teman-teman kita nyontek pas ujian bahkan jangan-jangan ikut menjadi salah satu pelakunya. Kalo kata Multatuli si Penulis Max Havelar itu, manusia adalah makhluk yang bersaing, dia lebih terang melihat kesalahan orang lain, karenanya bahkan dalam pujian dia akan tetap berusaha mencela.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *