Setelah selesai makan siang di kawasan Kawah Sikidang, bus beralih ke Dieng Theater. Tepat di belakangnya, ada Bukit Ratapan Angin. Butuh sedikit effort untuk mendaki ke atas, walau jaraknya hanya 15 menit. Tapi dibandingkan tanjakan menuju Puncak Sikunir yang harus ditempuh selama 30 menit, saya lebih menyukai Sikunir. Sebab jalan menuju Bukit Ratapan Angin menurut saya lebih curam dan sedikit menggetarkan *halah* 😛

IMG-20160327-WA0189

Karena cuaca sedang bagus dan cerah, tour leader menganjurkan tim kami untuk mendaki dulu ke atas, baru menonton di theater. Pendakian ringan selama 15 menit itu kemudian menghasilkan pemandangan yang indah, ada telaga warna yang tampak dari ketinggian, serta pemandangan tanah Dieng yang masih hijau. Bahkan, saya sempat melihat cabai khas Dieng yang ramai ditanami di sepanjang jalur pendakian.

Bebatuan yang berjejer juga tidak seimbang. Kadang rendah, kadang jaraknya terlalu tinggi. Saran saya sih, menggunakan minimal sepatu lari aka running shoes, bukan sepatu gaya yang kasual. Tapi sebaiknya memang sepatu/sendal gunung, yang memang sudah disesuaikan dengan tempat/jalur semacam itu. Hanya saja, entah kenapa, jalur turunnya lebih enak dan cepat. Sudah disediakan tangga yang rapi, bahkan berasa jalan di jalanan biasa. Sayang, area ini hanya boleh dilalui untuk keluar, bukan untuk masuk.

IMG-20160327-WA0167

Selain itu di Bukit Ratapan Angin juga ada permainan flying fox yang dipatok harga Rp 25.000,00 per orang. Saya tidak berminat mencobanya, atau lebih tepatnya belum berminat. Mungkin karena saya hanya berdua dengan MbokD. Barangkali, saya akan berminat jika nanti saya datang lagi ke sana bersama teman-teman yang lain. Haha.

Setelah selesai dan puas berfoto di atas, kami semua dipanggil turun oleh tour leader, untuk segera menuju Dieng Theater yang letaknya tidak jauh dari sana. Bangunan itu seperti mencolok sekali. Maksudnya, tampak paling berbeda. Kelihatannya jadi bangunan kampus yang besar di tengah pedesaan. Mungkin karena gedung itu satu-satunya yang besar di dekat sana, di antara warung-warung mungil, jalur pendakian curam, bebatuan, dan ketinggian tanah dewa tersebut.

Di dalam sana, kami menonton tayangan tentang Dieng selama 20 menit. Ini jujur, saya harus jujur, bahwa saya sempat ketiduran di dalam studio. Mungkin karena sudah lelah berkeliling seharian dan kebetulan suasana studio ala bioskop itu gelap gulita. Saya seperti dibacakan dongeng. Tapi, entah kenapa saya sudah punya feeling bahwa saya akan tertidur. Jadi, saya sempat mengaktifkan recorder selama tayangan berlangsung, sehingga saya punya rekaman suara dari tayangan tersebut, dan bisa saya dengarkan kapan senggang. Sedangkan tayangan asli berupa gambar tentu tidak saya rekam, karena itu sama saja dengan pembajakan 🙂

IMG-20160327-WA0175

IMG-20160327-WA0171
Di dalam studionya

Destinasi utamanya sepertinya Dieng Theater, tapi saya justru lebih terkesan pada Bukit Ratapan Angin. Sungguh, dari ketinggian, Negeri di atas awan ini terasa semakin magis dan rupawan.

Kalian harus coba naik ke atas sana! 😀

IMG-20160327-WA0199

 

(Visited 73 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *