Posting Cerita Pribadi di Blog: Yay or Nay?

Gambar dari sini

Malam ini saya membahas sesuatu yang seru bersama seorang teman. Ia berkata bahwa belakangan mulai jarang ngeblog. Saya bertanya kenapa. “Aku mulai malas membagikan cerita pribadi di blog, entah mengapa.” Jawabnya singkat.

Membagikan cerita pribadi di blog. Benar juga. Saya kemudian meninjau postingan-postingan blog saya yang terbaru, ternyata kebanyakan isinya berupa opini, catatan perjalanan, sedikit review aplikasi, acara, dan buku. Ternyata saya mulai jarang pula berkisah tentang kehidupan pribadi. Tidak seperti blog lama yang pernah saya hapus kurang lebih tiga tahun lalu.

Beberapa tweets singkat mengenai hal iniΒ  sudah saya rangkum di sini. Tapi saya sengaja membuat postingan lagi di blog ini agar leluasa untuk nyerocos lebih panjang.

Kalau saya tilik ke beberapa tahun sebelum 2016 –terlebih ketika di bawah tahun 2010, saat blog masih jadi tren baru di kalangan netizen. Kala itu, rasanya yang punya blog dan blognya aktif bisa dikategorikan sebagai orang yang keren banget. Percayalah, saya pernah menjadi butiran debu yang mengidolakan beberapa blog yang saya anggap keren, hampir tak pernah kehabisan bahan postingan. Sedangkan kala membuka blog mereka dulu (sekitar tahun 2007-2010), saya masih seorang yang malu-malu dan tidak punya banyak kisah hidup menarik untuk dibagikan. Saya merasa malu jika ada yang membaca tulisan saya. Jadi, setiap kali ingin posting –di blog pertama saya di Blogspot, saya selalu berpikir berulang kali. Tiap kalimatnya saya cerna baik-baik, apakah ini kalimat yang memalukan? Apakah saya akan ditertawakan pembaca? Padahal tidak ada yang aneh. Itu hanya cerita kehidupan sehari-hari. Karena itulah, saya sempat kagum pada pendahulu-pendahulu blogger yang aktif banget, bahkan beberapa di antaranya hingga kini.

Padahal, nah padahal nih, dulu itu kayaknya masih cukup ‘aman’ untuk bereksperimen di blog pribadi. Kala itu masih cukup banyak yang main blog dan menggunakannya sebagai jurnal harian, bukan sebagai yang lain-lain, apalagi ngebuzzer. Setidaknya, mungkin tidak sebanyak sekarang.

Ada satu blog yang sangat saya idolakan. Saya lupa nama blognya. Blog itu dikelola oleh seorang ibu muda, yang hampir setiap hari menceritakan tentang anak perempuannya. Saya sampai membeli buku kumpulan blognya (iya, dibukukan! Dan dijual di Gramedia!). Yang lebih menarik lagi, ia menikah beda agama. Mertuanya kurang menyukai dia, tapi ia dan suaminya adalah pasangan yang manis sekali. Barangkali anak perempuan kecilnya itulah pendamai mereka semua –atas pernikahan yang mungkin kurang dikehendaki itu. Saya selalu penasaran bagaimana perkembangan anaknya, bagaimana kisah ia dan suaminya hari ini, apakah mertuanya bawel hari ini. Saya seperti seorang penggemar yang ketagihan pada kisah hidupnya.

Sehebat itulah pengaruh blog, walau isinya ‘hanya’ kehidupan pribadi seseorang. Tapi bukankah setiap kita punya sisi menarik? πŸ™‚

Namun, semakin bertambahnya waktu, semakin banyak modus kejahatan yang dilakukan karena dunia maya. Paling banyak memang kasus penculikan yang berawal dari kenalan di sosial media. Tapi tak sedikit juga kasus penyalahgunaan foto. Semakin rajin kita memposting foto (entah foto anak, suami, foto keluarga), semakin besar juga risiko foto tersebut untuk dicuri orang. Percaya tak percaya. Misalnya seperti kisah Ruben Onsu yang melapor ke polisi karena foto anaknya disalahgunakan. Itu bisa heboh dan viral karena beliau mungkin public figure. Lalu apa yang bisa kita lakukan jika kita bukan pekerja seni yang punya banyak penggemar? Adakah yang mau sepeduli itu jika terjadi apa-apa nantinya? Tak pernah ada yang tahu πŸ™‚

Saya sering berpikir, sebenarnya memposting foto anak-anak itu lucu. Bahkan lucu sekali.Β  Anak yang manis dan ganteng itu bisa jadi hiburan untuk banyak orang. Saya juga senang melihat foto/video bayi lucu, kok. Tapi risikonya memang nggak nanggung-nanggung.

Itu hanya segelintir contoh. Bahkan bisa juga terjadi hal-hal tidak menyenangkan jika kita memposting cerita pribadi sendiri di blog atau sosial media. Seseorang yang tidak menyukai kita bisa menyalahgunakannya untuk hal-hal yang tidak diinginkan, kapan saja ia mau. Padahal posting cerita pribadi bisa sebagai dokumentasi sekaligus kenang-kenangan –akan lebih seru jika dibaca ulang beberapa tahun lagi, kalau saja zaman tak sesakit jiwa sekarang.

Sempat saya menanyakan ini ke beberapa orang, ada yang menjawab, kalau begitu blognya bisa diprotect, hanya diberikan akses ke beberapa orang, atau ada juga yang berpendapat fotonya diwatermark untuk menghindari pencurian pihak luar. Tapi apa pun itu, saya pikir, kita memang patut waspada.

Tak mungkin kejahatan-kejahatan yang telah lalu dan terjadi pada orang lain membuat kita berhenti menulis blog. Tak mungkin pula membuat kita berhenti memposting foto ciamik di Instagram. Tapi segala hal yang bisa dan patut kita lakukan adalah terus berhati-hati.

Sebab orang jahat ada di mana saja, bukan? πŸ™‚

(Visited 117 times, 1 visits today)

Silakan baca juga...

5 Comments

  1. Halo mbak salam kenal πŸ™‚

    Saya sih bakal terus cerita kehidupan sehari-hari di blog ya karena saya kayak ember bocor, belum tentu semua orang yang punya telinga pengen denger cerita saya =)))

    Tapi sebenernya Indonesia, walaupun masih belum kuat-kuat banget, punya UU ITE yang bisa jadi sarana kalau blog/socmed kita disalahgunakan pihak lain. Ya emang agak rempong sih prosesnya, tapi setidaknya pemerintah memberikan fasilitas ya.

    1. Hooh aku liat vidio juga rame di sana. Dan menurutku lebih simpel tampilannya drpd Youtube walau sekilas mirip. Mungkin karena Youtube udah terlalu ramai dan ada iklannya di awal video.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *