PicsArt_05-20-06.43.14

Sebagai perempuan, saya pikir teman-teman seumuran saya sebagian besar (sebagian besar tidak sama dengan semua) menyukai peralatan make up, atau setidaknya bisa menggunakannya dan tahu dasar-dasarnya. Saya pun demikian. Maksudnya, saya tahu beberapa hal dasar dan bisa menggunakannya walau tidak bisa berkreasi dengan make up yang rumit. Tapi setidaknya, saya yang sekarang lebih rapi dan tidak se-lecek waktu kuliah dulu –di mana tiap hari hanya berdandan seadanya bahkan terkadang hanya menyisir rambut sebelum berangkat kuliah.

Setelah selesai dari bangku kuliah, saya bekerja di salah satu perusahaan yang cukup besar –di mana para perempuannya memang seperti punya kebiasaan berdandan cantik. Di sana, make up seolah tak bisa lepas dari keseharian. Sebenarnya tidak masalah juga jika tidak berdandan, tapi kamu akan merasa aneh sendiri berlalu-lalang di antara mbak-mbak modis, dan kelamaan akan terbawa oleh kebiasaan. Dan itu membuat saya tetap berdandan –walau tidak mahir, dan menggunakan sepatu cantik setiap hari. Selepas dari sana, saya masuk ke kantor yang agak berbeda dari kantor lama. Di sini, kebiasaan saya kemudian berubah. Beberapa teman suka menggunakan kuteks, dan saya kelamaan jadi menyukai polesan-polesan warna kuku tersebut.

Dulu sewaktu kecil, saya suka merasa aneh dan agak heran, mengapa Ibu saya suka menggunakan kuteks merah darah. Menurut saya warnanya seram, mengingatkan saya pada sosok ibu-ibu tiri kejam di layar kaca. Imajinasi saya sama seperti anak-anak lain, terkadang lebay. Saya bahkan pernah meminta Ibu saya untuk berhenti menggunakan kuteks warna merah darah karena saya merasa takut, padahal seingat saya itu adalah warna favorit beliau. Dulu saya pikir, kuteks ya cairan merah untuk kuku.

Makanya, ketika saya beranjak besar dan tahu dari keseharian bahwa kuteks itu ternyata ada banyak sekali macam warnanya, banyak peralatan printilannya, dan bisa dikreasikan menjadi berbagai gradasi warna/bentuk gambar (sebutlah semuanya ini sebagai nail art), saya jadi jatuh hati. Saya suka dengan warna-warninya. Terlebih, saya suka sekali jika menemukan warna biru yang sesuai dengan selera saya. Saya menyukai warna biru, tapi susah untuk menemukan warna biru yang saya rasa cocok di kuku. Warna biru muda, tapi kadang terlalu muda. Warna biru tua, terlalu kasar.

Belakangan, saya sedang menyukai merk Maybelline Color Show. Entah kenapa, sejauh saya pernah mencoba kuteks jenis lain (seperti Very Me milik Oriflame salah satunya), tidak ada yang sesuai dengan saya. Rasanya tidak terlalu cocok dan cepat membuat saya bosan. Tapi sepertinya Maybelline tidak seperti itu. Dan kemudian, saya mencoba stiker kuku aneka bentuk dan membeli nail tape atas saran seorang teman.

Dan hingga hari ini, kuteks termasuk hal yang lebih saya sukai ketimbang aneka jenis make up. Saya tidak begitu mengerti foundation, contour, dan beragam alat make up yang lagi ngehits itu, tapi lebih tertarik mendalami nail art dan ingin bisa menggambar kuku sendiri. Dulu teman sekolah saya bisa membuat bendera negara yang berbeda di tiap kukunya, dan saya masih takjub hingga sekarang.

(Visited 78 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *