140b5766c53eeea04b32c0ee651854b3ececef24

Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah kawasan Tanjung Priok –tepatnya di depan Polres Metro Jakarta Utara. Di sana, pada 12 September 1984 terjadi kerusuhan sebab Presiden mengeluarkan titah Asas Tunggal Pancasila yang kemudian ditentang beberapa kelompok orang dengan dakwah –karena merasa mereka juga bisa menggunakan Al-Quran sebagai pedoman.

Sabtu (21/5) jelang siang itu, kami berkumpul di pinggir jalan, melihat langsung tempat kejadian sekaligus mendengarkan kesaksian dan penjelasan mengenai tragedi tersebut. Deru kendaraan bermotor terkadang menghalangi suara demi suara yang sedang berusaha menjelaskan sesuatu.

KontraS mendatangkan seorang saksi mata yang kala itu baru berusia 19 tahun. Namanya Bu Nur, yang kehilangan ayahnya dalam peristiwa Tanjung Priok 1984. Ibu paruh baya asal Sumatra itu masih ingat, ia dan ibunya sempat melarang sang ayah untuk pergi keluar rumah. Tapi sang ayah berkeras untuk tetap pergi.

This slideshow requires JavaScript.

Bapak mau pergi. Jangan tanya ke mana. Kalaupun nanti bapak mati, itu mati syahid.

Malam itu, mereka tinggal di rumah, menunggu. Terlihat banyak lelaki dari rumah-rumah lain juga keluar membawa clurit, babu runcing, dan senjata lain yang ‘seadanya’ –tidak sebanding mungkin dengan senjata milik aparat. Tepat pukul sebelas malam, tembakan beruntun meletus. Suasana berubah mencekam, dan tembakan tak kunjung berhenti hingga pukul dua dinihari. Tidak ada yang bisa tidur, walau seluruh lampu rumah dimatikan.

Sejak saat itu, ayah Bu Nur tidak pernah pulang lagi, pun tak ada yang pernah tahu di mana rimbanya. Beberapa orang yang mengenal beliau, mengatakan bahwa beliau sempat diseret aparat dan diamankan bersama banyak orang lain. Begitu juga dengan sanak saudara dari keluarga lainnya, mereka semua pergi dan menghilang tak tentu rimba.

Kawasan tersebut juga ditutup selama beberapa lama, tak boleh ada mobil masuk dan keluar. Tank tentara berkumpul banyak sekali di jalan-jalan, seolah mau perang besar, padahal yang ada dan tersisa di sana hanya warga sipil yang bahkan tak bersenjata.

Jalur hukum sudah ditempuh, upaya untuk menuntut penjelasan tentang kasus Tanjung Priok pun sudah berkali-kali dilakukan, tapi tak pernah ada sentuhan dari pemerintah. Tiga puluh dua tahun berlalu, dan para korban bersama KontraS masih memperjuangkan hak mereka untuk menuntut keadilan yang tak pernah diberikan itu.

Kami belajar untuk mengikhlaskan. Tapi tentu kita tidak bisa ikhlas jika (para korban) tidak diketahui di mana rimbanya!

Para keluarga korban yang ditinggalkan sebenarnya hanya berharap keadilan. Jika memang korban sudah tiada, bukankah hal terakhir yang bisa mereka lakukan adalah berjumpa dengan jasadnya dan menguburkan para keluarga itu dengan baik?

 

(Visited 65 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *