Sabtu (28/5) kemarin, saya bertandang ke Brown Bag, Menteng – Jakarta Pusat, untuk mengikuti kuliah umum HAM bersama KontraS. Hari itu menjelang sore –ralat, bahkan sudah memasuki sore, ketika saya tiba. Agak terlambat, pukul setengah empat. Dan ternyata memang mereka masih bersiap. Sambil menunggu acara dimulai, kami dipersilakan mengambil tempat duduk yang enak sembari melihat-lihat menu untuk memesan. Saya juga diberikan materi kuliah umum kami hari itu. Tiga rangkap fotokopian tiba di tangan saya, yang dua milik bang John Muhammad, dan yang satunya milik Dr. Robertus Robet dari Universitas Indonesia. Sedangkan Haris Azhar tidak menggunakan panduan apa-apa ketika bercerita. Dan pada hari yang bersangkutan pula baru terdengar kabar bahwa Dr. Karlina Supeli sedang tidak sehat dan berhalangan hadir.

Acara dibuka dengan cerita kecil mengenai dompet handmade yang dibuat ibu-ibu dari para korban kejahatan kemanusiaan. Dompet atau pouch tersebut kemudian dijual oleh pihak KontraS kepada publik. Dua orang perwakilan menceritakan sedikit tentang pouch tersebut; Ibu Sanu dan Ibu Ruyati Darwin. Pada intinya, kedua atau semua dari mereka berharap bahwa keadilan masih bisa ditegakkan. Mungkin hal yang kesannya berulang-ulang disampaikan tiap ada perhelatan sejenis. Tapi justru itulah goal yang memang ingin mereka capai pada akhirnya. Dan ini sekaligus menjadi bukti bahwa mereka tak hanya sekadar menuntut dengan teriakan, tapi juga dengan karya.

Tak lama setelahnya ada penampilan pembacaan puisi dari Mbak Indah (pihak KontraS), dan disusul nyanyian pembuka. Saya masih ingat kalimat Mbak Puri waktu itu, bahwa menjadi aktivis bukan berarti tidak bisa menghargai seni. 

Pada pembukaan diskusi, bang John Muhammad menyampaikan sesuatu yang cukup menarik. Sebaran museum di Jakarta paling luas semasa Orde Baru. Ada kurang lebih 45 museum yang tersebar. Sedangkan untuk monumen, ada 29 yang tersebar luas selama pemerintahan Orba. Hal ini tentu agak mengejutkan, sebab baik dalam pembangunan museum maupun monumen, Orba selalu paling unggul, bahkan mengalahkan masa pemerintahan Orla. 77,6% bangunan dibangun pada masa Orba. Atas data tersebut, Bang John kemudian menjelaskan.

“Cara Soekarno dan Soeharto merawat sejarah itu jauh berbeda. Soekarno lebih menyukai patung dan monumen, tapi keduanya multitafsir. Sementara Soeharto tahu, hal yang bisa mencatat sejarah adalah museum, jadi museum digabung dengan monumen. Semua informasi tergabung menjadi satu dan itulah karakter Soeharto dalam penanda sejarah!”

Sampai di sini saya berpikir sebentar. Walau senang main ke museum, walau tahu bahwa mungkin saja isi atau penanda dalam museum sudah tidak sama seperti aslinya, tapi saya tak berpikir Orba akan sejauh ini. Ralat, Soeharto akan sejauh ini. Hingga kemudian saya mendengar penjelasan selanjutnya.

This slideshow requires JavaScript.

“Soeharto cukup pandai menempatkan imej. Ia sadar bahwa ia sedang mendesain kotanya sebagai armada untuk teror. Tapi ia menampakkan kesan yang cukup sederhana dengan tinggal di rumah sederhana di kawasan Cendana. Seolah ia ingin mengatakan bahwa ia tak seperti Soekarno yang tinggal di istana. Padahal toh pada masa itu, rumah di Jl. Cendana itu juga sakral. Tidak sembarang orang boleh lewat, sebab akan mendapat lirikan dari aparat keamanan yang berjaga-jaga.”

Kemudian, saya tahu bahwa banyak sekali pengaruh Orba dan hal-hal yang dilakukan Orba ketika masa pemerintahannya. Seperti misalnya pembangunan Monas (Monumen Nasional) yang mereka selesaikan usai jatuhnya kepemimpinan Orde Lama. Semua orang hanya tahu bahwa Monas direncanakan dan mulai dibangun oleh Bung Karno, tapi hanya sedikit yang ngeh bahwa Monas itu selesai pada masa Orde Baru. Benar-benar selesai dan dibuka, hingga semua isinya bukan Bung Karno banget lagi. Isinya sudah berubah sesuai kebijakan Orde Baru.

Bang John lalu melanjutkan pula tentang Universitas Indonesia yang lokasi dahulunya ada di Salemba, Jakarta Pusat. Ada kecenderungan Orba untuk menjauhkan UI dari Salemba. Hingga kemudian, kampus terkenal ini dipindahkan lokasinya ke Depok sana. Seolah ada keinginan untuk menjauhkan kelompok aktivis mahasiswa untuk ‘menyingkir’ dari jantung kota Jakarta.

Secara politik, perubahan harus ditafsir ulang. Rebut, lalu klaim. Sebab jika ditilik pada kondisi politik kita saat ini, mungkin memang banyak lembaga yang keren di pemerintahan. Tapi sebenarnya jiwanya masih anti demokrasi, Dr. Robertus Robet menambahkan. Itu menandakan jiwa-jiwa Orba masih bergentayangan di sekitar kita, dan tak pernah benar-benar tumbang walau sudah nyaris dua puluh tahun berlalu sejak pemerintahan mereka jatuh.

Cara menafsir ulang dan menghargai sejarah
Di kota Warsawa misalnya, pada saat-saat tertentu ada tradisi kota di mana semua manusia diam sejenak dari aktivitasnya, termasuk kendaraan bermotor pun berhenti di jalan-jalan. Mereka ingin memperingati/mengingat kembali bahwa pada saat itu (tanggal dan jam itu), Warsawa bangkit melawan NAZI. Nah, hal-hal seperti inilah yang mereka –para ‘guru’ kami hari itu, harapkan. Di beberapa titik di luar negeri sana, orang-orang sudah memasang palang penanda atau logam penanda untuk tiap kejadian sejarah yang terjadi. Bagaimanapun, kota punya hubungan yang erat, termasuk menjadi saksi dari tindak kejahatan. Perjuangan usaha mengingat didapat dari usaha masyarakat, bukan dari pengelola negara/kota. Dan kota pun harus terbuka bagi siapapun.

Logam penanda sudah saya lihat di Universitas Trisakti pada saat kunjungan ke TKP Tragedi Mei 1998 minggu lalu, tapi seingat saya tidak banyak (atau tidak ada?) hal serupa di luar Trisakti. Tidak ada yang tahu bahwa di sebuah titik pernah terjadi kejahatan, jika tidak ada penanda yang ‘berbicara’ di tempat kita menginjakkan kaki. Hal inilah yang dihimbau untuk dibangun menjadi sebuah kebiasaan baru. Merebut sejarah yang benar dan memberinya penanda, sehingga hingga kapan pun kita tetap bisa mengingatnya dengan baik.

Kondisi sekarang
“Orde Baru tak pernah benar-benar tumbang!” Berkali-kali saya mendengar kalimat itu, dan barangkali benar adanya. Sebab belakangan ini pula kita menyaksikan beberapa hal mengejutkan yang mungkin kejadiannya mengingatkan kita dengan rezim Orba.

Ketika terjadi kasus bom di Paris, presiden Perancis mengumumkan darurat militer dan 7000 orang tentara diturunkan untuk mengamankan kota Paris. Tapi tahukah kalian, bahwa di Jakarta dan kota-kota di Jawa, ada 35.000 orang tentara setiap harinya? Belum lagi, dengan banyaknya pos atau landmark-landmark militer.

Beberapa kejadian yang terjadi tak lama ini sempat membuat saya merasa heran dan berpikir ulang. Apa mungkin kita ini semuanya sedang dejavu dengan pemerintahan Orde Baru? Di mana kebebasan sepertinya tak pernah ada, dan nyawa manusia yang cuma satu-satunya per orang itu, yaa seperti tak ada harganya saja. Jika benar begitu, mungkin kita sedang berada di titik yang agak menyeramkan. Bedanya, di masa Orde Baru tak ada keriuhan media sosial, sedangkan di masa ini semua kejadian bisa kita pantau dari linimasa. Sehingga pada masa itu kita hanya tahu bahwa perekonomian ‘bagus’ dan harga barang murah, tapi sering tak tahu bahwa di sebuah sudut lain kota ada para aktivis yang dijemput paksa dan dibungkam. Bahkan 13 di antaranya hingga kini belum kembali, tak jelas rimbanya, serta menyisakan banyak tanda tanya.

Beruntunglah kita yang lahir di generasi media sosial. Setidaknya, berita tiba di telinga dengan cara yang cukup cepat. Walau saya masih ragu, ini benar dejavu atau bukan.

*

Catatan:

Materi kuliah umum akan dibagikan di website KontraS, silakan yang mau bisa cek ke web mereka.

(Visited 55 times, 1 visits today)

2 Thoughts to “Kuliah Umum HAM: Perihal Kota, Ingatan, dan Sejarah Praktik Kekerasan di Indonesia”

  1. Soeharto bukan hanya banyak harta tapi juga banyak trik memanipulasi.Mulai dari trik g30 smpai kooptasi kekuasaan.

    Yah mungkin ia terinspirasi kata2 Machiavelli “Pemimpin itu layaknya Leviathan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *