This slideshow requires JavaScript.

Yak, jadi hari Sabtu (25/6) kemarin, saya iseng ikutan jalan-jalan bareng @JktGoodGuide untuk mengisi waktu sore. Karena ini bulan puasa, jadi mereka mengadakan jalan-jalan mengisi waktu ngabuburit menunggu buka puasa. Acara bertajuk #JakartaWalkingTour tersebut dibagi ke dalam beberapa titik, di antaranya; Menteng, Cikini, Jatinegara, Kota, dan beberapa lainnya yang tidak saya hapalkan satu per satu. Saya datang bersama Onty Bety dan mengambil rute Menteng. Sebab, malamnya ada acara lagi tak jauh dari lokasi.

Perjalanan dimulai agak terlambat, lewat sedikit dari setengah empat sore –waktu yang telah dijanjikan. Kami semua bersepuluh termasuk Mas Indra —tour guide-nya. Awalnya agak kesulitan mencari pihak @JktGoodGuide sebab via japri dijanjikan berkumpul di tengah taman tapi saya tidak menjumpai ada orang yang mengumpul di tengah, sehingga kami (saya dan Onty) kemudian agak bingung. Ternyata tour ini tidak seramai yang saya bayangkan (sebab sebelumnya saya ikut jalan bersama KontraS yang notabene pesertanya riuh dan ramai sekali), jadi saya agak surprise ketika tahu bahwa peserta kali ini tak lebih dari sepuluh.

Tapi tak apa, justru karena itulah akhirnya saya bisa menyimak penjelasan Mas Indra dengan baik. Hahaha. Lokasi pertama yang dijelaskan adalah Taman Suropatinya sendiri. Taman Suropati dibuat oleh seorang Walikota di Batavia tahun 1910. Tanaman di sini ditanam tahun 1912. Nama Suropati sendiri diambil dari nama pahlawan nasional, Untung Suropati. Nama lainnya adalah Taman ASEAN sebab di sana banyak tumbuhan dari berbagai negara di ASEAN. Pada zamannya, Bu Megawati juga sering datang ke Suropati, sebab beliau suka tanaman. Lurus sedikit ke arah Museum Naskah Proklamasi, kami bisa melihat Gedung BAPPENAS, yang menjadi loji pertama di Indonesia.

This slideshow requires JavaScript.

Hal ini identik dengan Freemason. Jika kalian pernah mendengar tentang Freemason, maka itulah perkumpulan mereka. Awalnya, Freemason adalah gerakan bawah tanah yang tak bisa lagi sepaham dengan Vatikan (Gereja Katolik). Atas dasar inilah, beberapa orang yang rata-rata terdiri dari para tukang batu akhirnya membentuk gerakan Freemason. Kegiatannya adalah kegiatan sosial pada umumnya, kurang lebih sebenarnya sama saja dengan kelompok sejenis di luar sana. Hanya saja, ketika mereka ‘ketahuan’ oleh Vatikan, kelompok ini dikecam dan dilarang. Mas Indra sendiri mengakui bahwa ia pernah berbincang dengan seorang warga negara Brazil yang merupakan keturunan langsung dari salah satu anggota Freemason. Seluruh keluarganya mengabdi pada kelompok ini, dan menurut beliau, Freemason masih ada. Mereka masih menjaga tradisi lama, misalnya mengadakan pertemuan bersama, masih mengenakan jubah-jubah panjang, dan hal-hal lainnya yang mungkin biasa kita lihat di film-film barat sana.

Bangunan loji itu sekarang menjadi gedung BAPPENAS, terletak pas sekali di seberang Taman Suropati. Di tengahnya ada selingkaran taman bunga dengan patung Pangeran Diponegoro di tengahnya. Itulah titik perhentian ketiga kami. Sekilas, Mas Indra menjelaskan bahwa patung tersebut dibuat atas keinginan Gubernur Sutiyoso kala itu; beliau ingin ada patung-patung di beberapa titik di Jakarta, sesuai nama jalannya. Karena jalanan di Taman Suropati bernama Jl. Diponegoro, maka dibuatlah patung Pangeran Diponegoro. Di Jakarta sendiri baru 3 tempat yang tercapai untuk dibuat patungnya; Jl. Diponegoro, daerah Sudirman, dan Thamrin –walau tidak tepat di Jl. Thamrinnya langsung.

Patung itu juga ternyata bukan sembarang patung, sebab memiliki makna. Seperti yang kita tahu bahwa Pangeran Diponegoro adalah salah satu pahlawan yang juga berperang melawan penjajahan Belanda di Indonesia. Dalam teori patung-patung yang diyakini di dunia ini dikatakan bahwa jika ada patung seseorang menunggang kuda dan kaki kudanya naik dua, itu berarti beliau gugur di medan perang. Tapi patung Diponegoro bertentangan dengan teori tersebut, sebab beliau tidak meninggal dalam perang, beliau meninggal di pengasingan di Manado.

This slideshow requires JavaScript.

Dari sana, kami juga bisa melihat Gereja GPIB Paulus atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gereja Ayam (entah kenapa, rasanya sebutan seperti ini juga ada di kota lain, mungkin di Jogja kalau saya tak salah ingat). Menurut Mas Indra lagi, di sana masih lengkap sakramen dan peralatannya sejak zaman Belanda. Banyak orang-orang luar yang datang ingin meminjam, tapi tak diberikan akses.

Kami semua diajak menyeberang hingga ke depan pagar Gereja Paulus. Dari sana, kami berjalan lurus sedikit hingga bertemu dengan Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Beberapa tahun lalu di sebuah acara di Galeri Indonesia Kaya, saya berjumpa dengan seorang utusan dari museum ini yang datang untuk mempresentasikan tentang museum mereka. Termasuk museum yang tidak terlalu ramai, katanya, jika dibandingkan dengan museum lain yang ada di kawasan Kota Tua. Museum Perumusan Naskah Proklamasi dulunya adalah rumah Laksamana Maeda. Saya tidak tahu apakah zaman sekarang anak sekolahan masih menghapalkan sejarah macam ini; Laksamana Maeda, Rengasdengklok, dll.

Seperti yang kita semua (setidaknya minimal kalian yang seangkatan saya) tahu, bahwa pada Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta sempat ‘diculik’ para pemuda untuk dibawa ke Rengasdengklok -salah satu daerah di daerah Karawang, Jawa Barat. Setelah dari sana, mereka awalnya akan diinapkan di hotel dan di beberapa tempat tapi akhirnya berlabuh di rumah Laksamana Maeda –seorang Jepang yang sangat mendukung kemerdekaan Indonesia. Di rumah yang besar itu, beliau tinggal sendiri dan hanya ada pembantunya -tanpa anak istri. Para pemuda berunding di sana, dan di saja pula dibuat naskah proklamasi. Rumah inilah yang kemudian dijadikan Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Saya suka sekali bentuk rumahnya, masih terlihat seperti aslinya –rumah tua. Tapi sayangnya jam segitu sudah terlalu sore untuk masuk museum. Jadi hanya bisa memotretnya dari depan.

Sebuah fakta unik yang mungkin belum banyak diketahui orang adalah mengenai hilangnya naskah proklamasi yang asli selama 35 tahun setelah kemerdekaan dinyatakan. Ternyata, naskah tersebut ditemukan di kantong celana B.M. Diah oleh istrinya ketika beliau meninggal. Tak ada yang pernah ingat dengan naskah tersebut barangkali pada awalnya –karena terlalu bahagia dengan euforia kemerdekaan yang baru dicapai, tapi beliaulah yang ‘menjaga’-nya tanpa sengaja.

Sudah semakin sore, dan menurut Mas Indra kami harus tiba di lokasi terakhir bertepatan dengan jam buka puasa. Jadi, kami kemudian diajak ke Jl. Cendana –salah satu jalan yang identik dengan presiden kedua negara ini. Di sana ada rumah Soeharto. Keluarga Cendana, begitu orang-orang menyebut keluarga beliau. Dulunya pada zaman Orba, jalanan ini steril dan tidak boleh ada orang masuk sembarangan, karena dijaga ketat pihak keamanan. Pak Harto tidak pernah tinggal di Istana Negara selama 32 tahun menjabat, beliau memilih tinggal di rumah pribadinya.

Kami tidak lama di sana, sih. Kemudian bergerak lagi ke SDN Menteng 01, yang merupakan bekas sekolah Barack Obama selama beliau di Indonesia dulu. Waktu kecil, Obama dikenal dengan nama Barry, bahkan nama belakangnya adalah nama Indonesia karena ayah tirinya orang Indonesia. Barry kecil pernah bercerita kepada salah satu gurunya bahwa ia bercita-cita menjadi presiden, berlawanan dengan cita-cita teman-temannya. Pada zaman itu anak lelaki banyak yang ingin jadi polisi atau bahkan tentara seperti Pak Harto. Tapi siapa yang sangka, Obama kemudian beneran jadi presiden, bahkan presiden Amerika 😀

This slideshow requires JavaScript.

Perjalanan berlanjut ke Galeri Kunstkring, sebuah galeri peninggalan Belanda yang dulunya digunakan untuk menampung barang-barang seni dari luar negeri. Salah satu karya terkenal yang pernah ‘mampir’ di sini adalah karya Van Gogh. Sekarang, Galeri Kunstkring masih bisa dijumpai, tapi ada restoran di dalamnya. Restoran vintage ini adalah salah satu yang tarif per pax-nya cukup mahal di Jakarta selain Lara Djonggrang di Menteng, Dapur Babah di Gambir, dan Shanghai Blue di Sabang.

Nah, setelah beranjak dari galeri ini, ternyata waktu buka puasa sudah dekat. Akhirnya kami bertolak menuju Masjid Cut Meutia yang lokasinya di belakang stasiun Gondangdia. Di sana titik finish tour, dan dari kejauhan tampak takjil sudah mulai dibagikan. Saya jarang ‘nongkrong’ di tempat umum seperti masjid ketika jam buka puasa, biasanya ketika bukber langsung janjian di lokasi (kafe atau resto), tapi sore itu saya dan Onty duduk-duduk di pinggir teras masjid sambil menunggu pesanan Gr*bcar menjemput, tiba-tiba seorang Ibu menawarkan makanannya untuk kami. Ada sisa 2 potong makanan di kotak itu, dan beliau memaksa kami mengambilnya. Akhirnya kami sepakat mengambil satu untuk dimakan berdua. Saya merasa segan, takjub, sekaligus senang dengan itu. Hal-hal kecil yang jarang terlihat mata. Seandainya semua orang di dunia ini bisa bersikap seringan dan seramah itu, mungkin akan lebih menyenangkan rasanya, ya. 😛

Dan demikianlah perjalanan kali ini. Baru pertama kali sih ikutan jalan bareng @JktGoodGuide dan semoga nanti-nanti bisa ikutan lagi untuk perjalanan selanjutnya.

masjid cut meutia
di pelataran masjid
(Visited 138 times, 1 visits today)

2 Thoughts to “#JakartaWalkingTour with Jakarta Good Guide: Menteng”

  1. Disebut gereja ayam mungkin karena ngambil kisah Petrus, yang nyangkal Yesus tapi pas ayam berkokok 3x baru dia sadar kesalahannya. Makanya disebut gereja ayam sebagai pengingat biar gak menyangkal Kristus. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *