Gambar: Pexels

Belakangan, semenjak topik LGBT melesat dan menjadi perhatian banyak orang, saya pikir kebahagiaan beberapa pihak menjadi sangat tergantung pada harapan dan persetujuan orang lain. Sebab di antara kelompok yang pro (baik dia sendiri LGBT maupun tidak) dengan tagar #LoveWins #LoveisLove dan sebagainya, tak kalah pula banyaknya kelompok yang kontra (biasanya kaum agamis dan orang-orang yang memang menentangnya hingga ke ubun-ubun). Seorang artis muda dalam negeri yang sekarang kuliah di luar negeri pun tidak luput dari ‘amukan’ kaum kontra sebab si artis muda terang-terangan menyatakan bahwa ia pro dengan LGBT. Ia tampak bahagia sekali ketika Amerika Serikat beberapa waktu lalu sudah memperbolehkan pernikahan sejenis.

Kemudian, apa hubungannya semua itu dengan postingan ini? Hmm. Tadi pagi saya iseng create account  di Medium –sebuah situs menulis luar negeri yang kurang lebih fungsinya sama seperti Kompasiana di Indonesia, untuk menuliskan opini, cerita, curhatan, menanggapi tulisan orang, dan sebagainya tapi bukan blog. Saya pikir ini akan seru, jika saya membaca beberapa tulisan orang luar di sana –setidaknya, saya kan ingin tahu bagaimana perspektif mereka dalam berbagai hal terutama isu-isu yang memang saya minati. Hingga akhirnya ketika memilih editor’s pick, saya tiba di sebuah postingan yang ditulis oleh seorang perempuan bule asal Brooklyn.

Ia seorang lesbian. Mereka –ia dan pacarnya, keduanya sama-sama berpenampilan feminim hingga tak ada halangan bagi mereka berdua jika ‘tampil’ di muka orang banyak, berbeda dengan para lesbian yang pasangannya mungkin tampak tomboy atau berusaha terlihat seperti lelaki, mereka yang seperti itu akan lebih cepat menjadi bahan gunjingan orang sekitar. Saya tak tahu bagaimana penerimaan atau penolakan orang luar negeri –tentu berbeda tiap negara. Tiap orang saja bisa berbeda, apalagi tiap negara. Kemudian, ia berkisah, semuanya tampak baik, hingga suatu hari ia akan menerbitkan buku dan editornya memenggal sebuah kalimat dari ‘tentang penulis’ yang ia kirimkan.

When my UK editor sent me the mock-up of their cover for my new book (each country does a different version), they’d deleted this line from my bio: “She lives in Brooklyn with her girlfriend and a fridge full of cheese.”

Nyatalah sekarang, bahwa kebahagiaan seseorang kerap ditentukan oleh persetujuan orang banyak. Ia hanya berusaha jujur di bio yang ia tuliskan, tapi itu pun harus dipenggal oleh editor karena mungkin masih dianggap tak layak dibaca orang banyak. Saya pikir, entah kenapa, kedengarannya lucu saja. Kecuali itu buku anak, saya akan setuju dengan editornya. Tapi selama itu buku dewasa –ayolah, semua orang dewasa  di dunia ini sudah tahu tentang isu, pro, kontra, konflik tentang LGBT, tapi apa salahnya seseorang berusaha jujur pada dirinya sendiri dan orang banyak.

Saya pikir lagi, tentu masih lebih banyak yang diam-diam menyembunyikan identitas dirinya mengenai ini, persentase yang berani speak up belum sebanyak itu. Karena apa? Sepertinya tidak ada alasan lain, selain menghindari tatapan sinis dari sesamanya. I see humans but not humanity, kata sebuah slogan dari kaos yang banyak dijual online. Kalimat sederhana  tapi mungkin ada benarnya. Saya tak perlu membela atau menyalahkan LGBT, saya rasa. Sebab dalam pola pikir saya, apa-apa yang  dilakukan seseorang adalah yang ia inginkan secara sadar, yang ia tahu konsekuensinya, terlebih seorang manusia dewasa. Saya merasa tak perlu menghujat atau terlalu melindungi seseorang karena kebaikan maupun keberengsekan yang ia perbuat.

Tapi semakin ke sini, saya merasa reaksi publik mulai berlebihan, mulai barbar, dan tidak beretika. Hujatan yang dikeluarkan rata-rata bernada keras, berkalimat kotor, seolah mereka manusia paling baik di muka bumi, dan saya tidak suka gaya yang seperti itu. Menolaklah dengan bijak, selagi masih mampu. Bukannya lebih enak mendengarkan kalimat yang disusun apik ketimbang yang bernada kotor?

Mereka sendiri pun jika dibalas dengan kalimat yang tak kalah kotornya, pasti tersinggung. Beberapa orang pasti kerap berpikir, mau perang ya hayo, dan kemudian debat-debat kusir itu tak ada habisnya.

Manusia kerap mengharapkan sebuah perdamaian bagi dunia, tapi tak bisa memulainya dari diri mereka sendiri.

Kemudian, di postingan tadi, si mbak bule menulis lagi,

I wrote to my editor, “I do believe having positive role models makes a real difference and is part of my overall values.”

Entah kenapa saya tersenyum membacanya.

(Visited 75 times, 1 visits today)

One thought to “Kita Tak Butuh Persetujuan Orang Lain untuk Bahagia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *