IMG_20160731_093230

Hari itu hari Minggu. Usai perjalanan melelahkan dari Keraton dan nonton Cabaret Show sampai malam, serta mengobrol bersama seorang kawan yang datang menyambangi, saya dan Ica kemudian bangun agak kesiangan. Harusnya, rencana hari Minggu adalah ke Prambanan dan Ratu Boko di kawasan Sleman, tapi kemudian saya berubah pikiran. Itu hari Minggu, hari libur, bagaimana seandainya candi menjadi lebih ramai daripada yang kami duga? Kami tak akan bisa mendapatkan foto-foto yang bagus. Perjalanan ke sana pun butuh waktu yang agak lama, sebab lebih jauh jarak tempuhnya. Karena kecurigaan kecil saya itu, akhirnya kami memutuskan ganti jadwal. Hari itu kami akan ke De Mata Trick Eye Museum di kawasan XT Square.

Dari halte Malioboro 2, kami naik TransJogja 2B, dan turun di RS Hidayatullah. Dari sana bisa langsung menyebrang dan masuk ke kawasan museum. Pagi itu, kami mengira bahwa datangnya kepagian, estimasi museum buka pukul 10. Ternyata ketika tiba di depan pintu museum, banyak sekali rakyat sudah berkumpul –saya berasa pengin orasi depan Monas (heh!) 😛 dan duduk-duduk santai menunggu loket tiket dibuka.

Ternyata ada tiga jenis museum di sana, yang satu adalah museum 3D, yang kedua adalah 4D, dan yang ketiga lebih dikenal sebagai De Arca atau yang isinya patung lilin. Pernah lihat orang berfoto bersama patung lilin Albert Einstein misalnya? Nah, aslinya museum semacam ini ada di Thailand, tapi sekarang sudah ada di beberapa kota di Indonesia, di Jogja yang pertama kali. Tadinya, saya dan Ica ingin menjelajahi semua, sebab ada tawaran harga khusus untuk tiket terusan (tiket terusan maksudnya tiketnya sepaket untuk 3 museum, harganya jelas lebih murah dibanding beli tiket satu-satu). Tapi melihat keramaian tersebut, saya menyarankan kami mencoba yang 3D terlebih dulu. Kalau memang memungkinkan, baru bisa disambung dengan museum sebelah-sebelahnya.

IMG_20160731_094107
Kapan lagi bisa mejeng jadi cover buku, yekan?

Tiket masuk 3D/4D museum harganya masing-masing Rp 40.000,- dan yang mahal itu sebenarnya masuk De Arca sebab dibanderol Rp 60.000,- kalau sepaket akan lebih murah, hanya kena Rp 120.000,- saja per orangnya.

Yang mengejutkan, ketika kami baru memasuki museum, banyak orang (tepatnya ibu-ibu dan anak-anak) berlarian ke sana ke mari, berlomba mengambil spot bagus untuk berfoto. Satu hal yang saya sebel dari kebiasaan buruk orang Indonesia, ditebalkan dan ditegaskan kembali, kebiasaan buruk alias bad habit, adalah nyelak alias malas ngantre. Bahkan untuk berfoto di depan masing-masing gambar pun, seringkali antrean saya dan Ica diserobot ibu-ibu yang ingin berfoto atau menyuruh anaknya berpose. Mereka tak segan-segan maju dan menyelak begitu saja tanpa rasa berdosa, kemudian dengan asyiknya berpose. Saya membayangkan bagaimana jika turis asing yang melihat itu, benar-benar memalukan. Beberapa kali saya mengalah memberikan giliran foto saya kepada (lagi-lagi) ibu-ibu dan kolega-koleganya. Malahan, dari pandangan mata saya, anak muda seusia sayalah yang banyak mengalah di sana. Jika saya bertemu dengan orang yang usianya kurang lebih sama, mereka lebih paham antre dan mempersilakan saya berfoto lebih dulu, tanpa menyerobot sedikit pun.

IMG_20160731_101427
Jadi tarzanwati. hahaha.

Entah, mungkin mereka sudah diserobot duluan sama ibu-ibu sebelumnya, jadi tahu bagaimana rasanya dipotong antreannya (iya, bisa aja kan, ya? Hahaha). Yang jelas, hari itu kami berperang dengan ibu-ibu. Saya dan Ica yang awalnya kalem dan tidak mau kekeuh memperjuangkan latar foto yang kami minati, semakin ke belakang semakin ganas dan lebih kekeuh. Soalnya kalau nggak begitu, ibu-ibu di sana akan semakin semena-mena.

Tapi berhubung jalan-jalan ke sana mungkin hanya sekali atau beberapa kali setahun, atau mungkin tak akan mampir lagi dalam waktu lama, saya dan Ica nekat capek demi mendapatkan foto di latar yang kami incar. Sempat pula kami bergantian dengan orang lain, agar bisa punya foto berdua. Biasanya hal ini banyak dilakukan bule di objek wisata, akan saya ceritakan lebih dalam di postingan mengenai Prambanan nanti, tapi tidak sedikit pula orang Indonesia yang beramah hati mau memotretkan kita jika kita menawarkan ganti memotret mereka bersama kawan-kawannya.

Waktu yang saya habiskan di 3D museum ini tidak lama, hanya kurang lebih 1,5 jam saja. Selanjutnya, kami naik TransJogja lagi menuju halte kampus UPN di kawasan Sleman (Prambanan masih sononya), untuk mencari letak Dongeng Kopi –sekaligus markas Indie Book Corner, selfpublishing yang ternama itu. 😛 Setelah turun di halte UPN, kami jalan lurus dan lumayan juga –nggak bisa dibilang jauh, tapi juga nggak dekat-dekat amat. Tiba di sana pada jam makan siang.

IMG_20160731_114159
Menu?
Minuman ini namanya Mr. Brown, campuran cokelat dan kopi. Rasanya sungguh enak nian!

Saya dan Ica memesan sandwich serta minuman, kemudian menunggu seseorang menyambangi. Kebetulan Ica punya kenalan di daerah sana, yang katanya bersedia mengantarkan kami berburu sate khlatak di Bantul –satu jam lebih perjalanan dari Jogja kota. Kalau ada yang belum tahu sate khlatak, itu adalah sate yang dimakan Rangga dan Cinta di film AADC 2. Selengkapnya di postingan berbeda 😛 biar kesannya misterius. *aslinya udah capek ngetik postingan ini*

(Visited 283 times, 1 visits today)

2 Thoughts to “Jogja Trip 4: Memainkan Pandangan Mata di De Mata Trick Eye 3D Museum”

    1. Padahal dirimu udah sering banget bolak-balik, ya. Hahaha. mungkin karena sering, tak terasa urgent untuk menyambanginya. Kalau aku krn jarang-jarang, jadi pengin banget mengunjungi, kapan lagi kan? 😛 Tapi inget, om masih utang nunjukin tempat buku yang diskon!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *