lovewins
Gambar: forcechange

Isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) barangkali merupakan topik yang tak pernah selesai dibahas hingga hari ini. Berbagai pro dan kontra terus mengalir dari berbagai pihak –di Indonesia sendiri khususnya. Terlepas dari segala polemik yang kerap mewarnai media massa, dari orang yang paling ahli hingga komentar-komentar sok tahu, bagaimanapun kita tahu bahwa setiap orang di negara yang berlandaskan hukum pasti memiliki secuil hak setidaknya untuk merasa aman.

Tidak ada orang yang senang hidup dalam ketakutan dan hujatan. Sepanjang sejarah negeri ini, sering kali kaum minoritas masih takut untuk speak up, sebab jumlah mereka yang sedikit, dan orientasi atau prinsip hidup yang berbeda dengan orang kebanyakan. Mereka seringnya berkelompok dengan kaumnya sendiri, dan bersikap biasa di hadapan banyak orang seolah mereka adalah bagian yang sama dengan mereka semua. Tapi bagaimana jika seandainya sahabat atau kerabat dekatmu mengakui bahwa mereka adalah seorang lesbian, gay, biseksual, ataupun transgender? Mungkin kamu akan kaget pada mulanya, serta merasa tidak percaya. Namun, sebenarnya satu-satunya hal penting yang harus kamu ingat adalah jangan panik dan jangan langsung menghakimi mereka saat itu juga.

Inilah 7 hal yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi pengakuan mereka!

  1. Don’t judge!

Inilah hal yang sering kali dilakukan orang terhadap kaum minoritas; menghakimi, dan hal ini sebenarnya bukan solusi cerdas. Menghakimi seseorang tidak akan menyelesaikan masalah, malah hanya akan menambah rumit masalah hidup mereka. Jadi, sebagai kawan yang baik, usahakan untuk tidak menghakimi pengakuan sahabatmu.

Gambar: supportinasplit
Gambar: supportinasplit
  1. Jadilah pendengar yang baik

Dengan memberanikan diri untuk bercerita padamu, berarti mereka telah menaruh kepercayaan besar. Mereka percaya bahwa kamu adalah salah satu (mungkin dari sedikit) teman yang bisa diajak berbagi mengenai orientasi hidup yang mereka pilih. Dengarkan cerita mereka hingga selesai, jangan memotong apa pun kisah yang mereka tuturkan. Jadilah pendengar yang baik setidaknya untuk sedikit mengurangi kegundahan hati mereka.

  1. Tetap bersikap tenang

Usahakan agar kamu tetap bersikap tenang. Sama seperti masalah pada umumnya, perdebatan pro kontra LGBT ini juga takkan selesai jika dihadapi dengan amarah, kepanikan, dan hal-hal negatif lainnya. Jangan pula terlihat gelisah sehingga membuat temanmu merasa tidak nyaman. Berikan mereka kesempatan untuk bicara dan menjelaskan, tanpa terbawa emosi dan tanpa paksaan. Jika mereka tidak ingin menceritakan satu dua bagian kecil yang masih ingin mereka rahasiakan, jangan memaksa. Hormati apa yang sudah mereka bagikan padamu.

  1. Ingat seberapa pentingnya mereka dalam hidupmu

Ketika kamu merasa marah, bahkan sangat marah, sehingga tidak tahu harus bersikap bagaimana dalam menghadapi mereka, coba ingat-ingat lagi seberapa penting posisi mereka dalam hidupmu. Barangkali selama ini mereka adalah sahabat yang baik dan selalu mengerti kamu, barangkali pula selama ini merekalah yang selalu ada ketika kamu berada dalam kondisi yang sulit. Lalu, pertimbangkan lagi, apakah kamu akan marah, lari, atau menghakimi, ketika kini mereka datang hanya untuk mencoba jujur padamu?

  1. Berhenti memandang LGBT sebagai suatu penyakit dan cobalah lihat dari sudut pandang lain

Dilansir dari Merdeka, dr. Teddy Hidayat, SpKJ (K) –seorang psikiater dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, juga menanggapi pro kontra mengenai cap penyakit yang diserukan orang banyak terhadap kaum LGBT. “Sebelum bicara sakit atau bukan, kita jawab apakah LGBT ini normal atau tidak normal. Tapi sebelum lebih lanjut pendapat ini tidak boleh dibenturkan dengan norma atau kepercayaan, kita harus mencoba menjernihkan pikiran kita melihat, baru mendudukannya,” tutur beliau.

Dari hal ini bisa kita simpulkan bahwa dalam memandang LGBT, kita tidak selalu bisa berlandaskan norma atau kepercayaan semata, cobalah pahami juga sisi psikologis mereka juga. Dengan menjadi minoritas dan berpotensi dijauhi banyak orang saja, sudah merupakan beban bagi kehidupan mereka. Sebagai teman, ada baiknya kamu tidak memandang mereka dengan cara mayoritas. Bagaimana pun, mereka adalah sahabat baikmu, bukan?

Gambar: lifeteen
Gambar: lifeteen
  1. Beri mereka semangat dan jangan menjauhi

Beri semangat bukan berarti mendukung mereka untuk terus menjadi LGBT, lho! Kamu bisa memberi mereka semangat untuk lebih tegar menghadapi hidup dan orientasi mereka. Tidak ada orang yang meminta untuk dilahirkan seperti apa, dan dalam perjalanan hidup mereka selama ini, mungkin saja mereka sudah memikirkan banyak hal hingga akhirnya memilih menerima kondisi tersebut. Jangan juga menjauhi mereka, sebab LGBT bukan penyakit dan tidak menular lewat udara dan kontak fisik, bukan? Intinya, jangan bersikap berlebihan sebab itu hanya akan mengecilkan hati sahabatmu. Buktikanlah bahwa kamu memang sahabat baik mereka, yang selalu menerima juga mendukung bagaimanapun keadaan mereka saat ini. Dengan begitu, sahabatmu takkan merasa sendirian, dan bisa lebih tenang dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

  1. Jangan memaksa mereka untuk berubah

Mungkin banyak dari LGBT yang akhirnya berubah dan mengembalikan orientasi mereka kepada kodratnya (oke, kata sebagian teman, berpura-pura kembali tapi sebenarnya untuk menutupi), tapi kamu tidak bisa memaksakan hal ini terjadi. Karena sejatinya ini adalah kehidupan mereka, maka sahabatmu yang bisa memutuskan apa yang akan mereka lakukan ke depannya.  Jika kamu memaksakan mereka harus berubah dan ‘normal’ menurut versimu, sama saja kamu memaksa mereka menjadi orang lain –tidak menjadi diri mereka sendiri, dan hidup dalam bayang-bayang harapan orang lain juga akan terasa lebih berat untuk dijalani.

Pada akhirnya, yang bisa kamu lakukan adalah menerima mereka sebagaimana adanya dengan besar hati. Ketika kamu sudah bisa melewati fase ini dengan lapang dada, berarti kamu sudah berhasil menjadi kawan yang baik bagi mereka. Sebab memojokkan, menghakimi, dan memaksa mereka berubah sama sekali takkan menyelesaikan apa-apa!

*

Catatan:

*Sudah pernah dimuat di Trivia.id dengan beberapa editan dari editor

(Visited 371 times, 1 visits today)

2 Thoughts to “Inilah 7 Hal yang Sebaiknya Kamu Lakukan Ketika Mengetahui Bahwa Sahabat atau Kerabat Terdekatmu Seorang LGBT*”

    1. 1. Itu hidup mereka
      2. Kamu bisa memberikan saran, tapi tak bisa memaksa mereka untuk segera secepatnya menjadi hetero (maaf, saya sebenarnya kurang suka menyebutkan normal, sebab LGBT bukan penyakit jiwa), sesuai keinginan kamu atau whatever –keinginan seluruh dunia
      3. Yang bisa menentukan ya atau tidak bagi mereka adalah diri mereka sendiri
      4. Agama? Ya, saya tahu semua agama pasti mengajarkan hal-hal baik. Tapi dalih ‘agama tak mengakui’ bukan tak mungkin, bisa membuat temanmu kemudian malah tertutup kepada orang-orang yang dianggapnya tak bisa menerima keadaan dia saat itu sebagaimana adanya.
      Kamu berhak kok memberitahukan mereka bahwa agama kalian mungkin tak mengakui atau melarang keras LGBT, tapi kamu tak bisa menghakiminya atas nama agama.

      Pertama, karena kamu bukan tuhan
      Kedua, karena dia temanmu, seorang teman sih harusnya tak menjadi hakim bagi temannya sendiri.
      Ketiga, ya karena poin di atas –itu hidupnya sendiri, bagaimana pun semua kembali padanya.

      dan demikian, kamu sepatutnya malah memberikan semangat (bukan untuk terus menjadi gay, ya. Tapi mungkin semangat agar lebih sabar menghadapi banyak hujatan orang di luar sana, atau menghadapi masalah pelik yang bisa mereka dapat karena orientasi seksualnya). Ini hal kecil, hanya kalimat dan ucapan, tapi percaya, kalau teman yang memberikannya, seseorang akan merasa lebih berarti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *