pexels-photo
Gambar dari sini

Belakangan ini, banyak sekali hal-hal ini dan itu yang berseliweran di linimasa, terlebih di seluruh penjuru dunia maya –termasuk portal berita, dan sebagainya. Saya selalu menahan diri, dan sampai hari ini masih selalu berusaha untuk melakukannya, agar tidak mengomentari apa-apa yang saya tak tahu pasti. Beberapa hal yang sedang hot belakangan ini adalah Pilkada DKI dan Pilkada Amerika, tersangka kopi beracun yang sidangnya tiada selesai itu, dan masalah yang memang tak pernah ada ujungnya –kepercayaan, tuhan, agama, apa pun mereka menyebutnya.

Politik, politik, saya tak ingat apakah saya pernah memikirkan hal ini dengan sebegitu seriusnya. Berlomba-lomba para fans, haters, maupun buzzer (katanya) para politikus itu saling menjatuhkan lawan dan mengelu-elukan ‘idola’ mereka (saya beri tanda kutip, sebab buzzer bukan fans, tentunya?). Bukan sebab saya tak peduli pada DKI  Jakarta –kota tempat saya berpijak dan mencari kehidupan setiap waktu, kota yang katanya selalu dan selalu bikin kita tua di jalan (kata orang yang nggak pernah tinggal di DKI, sih, rata-rata. Mungkin mereka hanya tahu Jakarta dari siaran televisi di hari kerja, tapi tak pernah melihat jalanan Sudirman di hari pertama Lebaran, hehe). Iya, saya bukan tak peduli, cuma gimana, ya. Saya kurang tertarik pada perdebatan dan hal-hal yang saling menjatuhkan.

screenshot_2016-09-30-21-22-00
Kira-kira gitulah, ya.

Sempat saya berpikir, bagaimana jika seandainya manusia hidup akur berdampingan. Kalau salah mbok ya ngaku salah, kalau benar silakan membela diri. Seandainya semua orang punya kesadaran untuk itu, barangkali tak ada kejahatan serius di dunia ini. Kalau pun terjadi, maka kasusnya takkan berbelit-belit dan merepotkan orang banyak. Dan seandainya lagi, tambah pikiran saya, bagaimana jika semua orang adalah sama –dalam hal kepercayaan maupun status sosial. Mungkin takkan ada perang antar agama, dan takkan ada orang saling bunuh atas nama agama seperti yang sejauh ini seringkali terjadi. Walau risikonya kita semua akan jadi robot bernyawa –menjalani hari-hari yang itu-itu saja hingga kiamat dan hari penghakiman tiba –jika memang ada, menyembah hal yang satu saja, dan setiap hari melemparkan senyum yang juga sama saja lebarnya kepada tiap orang yang kita jumpai di jalan-jalan.

Hidup akan begitu monoton dan membosankan, tentu saja. Tak ada gejolak, sebab semua orang punya kesadaran untuk diam dan bertindak baik, punya kesadaran untuk tidak menyerang sesamanya sebab mereka adalah ‘sama’, tak ada perbedaan kecuali wajah. Keterlaluan juga kalau sampai kepala saya ini berpikir bagaimana kalau seandainya semua lelaki punya wajah yang sama, dan perempuan pun demikian. Kita akan seperti barang pabrikan. Hahaha. Tidak, saya tidak berpikir sejauh itu juga, sih.

Tapi dari kehidupan yang –anggaplah, monoton itu, kita akan mendapatkan lebih banyak kedamaian daripada apa yang ada sekarang. Kepala saya terus membayangkan bagaimana jadinya. Sebab memang harus ada bayaran yang kita tebus untuk segala hal, termasuk kehidupan. Ketika kita menginginkan kehidupan yang beragam dan banyak warna, risikonya adalah peperangan, pertempuran, baku hantam. Semua orang ingin agar orang lain menjadi sama dengan dirinya, memuja tuhannya yang ia anggap paling benar semata, melakukan hal-hal yang dianggap baik dalam kepatutan hidupnya, dan segalanya yang ia-ia melulu. Entah perbedaan dalam hidup kita –para fana ini, yang terlalu banyak dan luas, ataukah memang karena pada dasarnya manusia punya sifat egois dalam diri masing-masing, sehingga punya kecenderungan untuk merasa paling benar dan merasa orang lain harus mengikutinya pula. Padahal satu perkara bisa dinilai dari sekian banyak sudut pandang.

Kalau kata Mas Eka Kurniawan, sih..
Kalau kata Mas Eka Kurniawan, sih..

Jika satu pihak yang bertingkah seperti itu (oke, anggaplah dalam hal ini satu kubu saja), mungkin tak mengapa. Tapi yang terjadi adalah semua kubu punya ego masing-masing, sifat merasa paling benar masing-masing, dan versi tuhannya masing-masing. Dan, voila, baku hantam itu tak pernah kita hindari, entah sampai kapan. Padahal agama dibuat oleh manusia, yang sedihnya ternyata menjadi sebab peperangan di masa ribuan tahun setelahnya –juga oleh antar manusia.

Politik pun barangkali demikian. Semua orang ingin menang, ingin berkuasa. Tapi jika seluruhnya berkuasa, siapa lagi yang hendak menjadi rakyat? Rasanya aneh juga kalau sebuah negara punya dua ratus juta presiden, atau dua ratus juta gubernur. Yang bisa menang hanya satu, dan tak ada yang ingin kalah atau mengalah. Diri merekalah yang harus menang. Itu pun tak apa jika memang berakibat baik dan memerintah dengan bersih. Tanpa ada tendensi untuk menyinggung siapa pun, saya kemudian teringat janji seorang petinggi untuk membereskan kasus 13 aktivis 1998 yang hilang tak tahu rimba. Salah satunya idola saya –para aktivis itu, dan saya ingat betul, betul-betul terekam dalam kepala saya, sang petinggi berjanji akan menyelesaikan dan menemukan para korban 1998 itu hidup atau mati, segera.

Kini beliau sudah bertahta, saya menunggu-nunggu kapan para aktivis itu akan dicari, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Mimpi-mimpi buruk sepertinya malah terulang. Diskusi dibubarkan, buku dibakar, orang dengan pakaian tertentu (yang dianggap sebagai propaganda) ditangkap dan diinterogasi aparat. Apa yang sebenarnya kita takutkan, jika kita tak bersalah pada masa lalu? Mungkin masa lalu kelam dan penghilangan atau pembunuhan orang-orang itu adalah dosa turun-temurun para penguasa, sehingga tak ada yang berani mengungkapnya dengan jelas sejelas-jelasnya, mencari para korban hilang –walau hanya tinggal namanya. Tak peduli sebanyak apa keluarga korban yang menanti-nanti, yang menahan rindu.

Kadang saya pikir, apa yang kira cari di dunia ini? Semuanya akan usai, selesai. Entah, kalau mereka ingin hidup seribu tahun lagi seperti Chairil Anwar. Duh, bahkan Chairil yang ingin hidup seribu tahun lagi saja sangat menentang kesewenang-wenangan.

Kemudian saya ingat salah satu kalimat Gie, aktivis 60-an sekaligus pendaki gunung itu.

Lebih baik diasingkan, daripada menyerah pada kemunafikan.

Untuk hari ini, 30 September, dan untuk sikap keras kepala kita yang memang beragam:

panjang umur perlawanan

(Visited 41 times, 1 visits today)

2 Thoughts to “Seandainya dan Demikianlah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *