Tidak banyak hal yang bisa saya ceritakan dari 2016 kecuali satu hal: saya banyak jalan-jalan ke tempat yang tidak pernah saya datangi sebelumnya. Sisanya adalah nganu. Ya, 2016 adalah tahun yang nganu, di mana orang-orang sibuk terprovokasi oleh isu-isu politik dan agama, mengkafirkan sesama dengan amat sangat gampang, dan mungkin tidak berpikir dengan isi kepala mereka dengan baik –bagi beberapa orang, saya ragu mereka menggunakan isi kepalanya bahkan. Hmm.

Saya rindu zaman media sosial dijadikan tempat santai dan pelarian dari hal pelik di dunia nyata. Itu dulu, zaman dulu sekali. Ketika itu, mengucapkan selamat pagi saja butuh banyak space sebab harus mention semua teman yang dikenal jika perlu –tidak perlu menunggu momen lebaran atau tahun baru. Orang-orang berbincang kapan saja mereka ingin, dan tidak pernah ada isu politik yang memecah belah. Kini, isu politik, agama, etnis, dan hal-hal berbau SARA lainnya sangat mudah dijadikan bahan pancingan keributan. Pancing saja bahwa agama A telah menjelek-jelekkan agama B, maka keduanya akan langsung perang. Hal ini membuat saya jengah dan mulai mengurangi main media sosial belakangan. Hanya Twitter yang paling aktif, itu pun tidak sesering dulu. Progress bacaan saya di Goodreads pun menurun, saya merasa gagal dalam membaca tahun 2016 ini. Hehe.

Tahun 2016 saya juga belajar motret dan bercita-cita punya kartu pos hasil jepretan sendiri, yang nantinya akan saya kirimkan kepada teman-teman di pulau atau benua seberang. Mendadak saya ketagihan mengirimkan kartu pos. Rasanya menyenangkan meski keluar beberapa recehan dari dompet buat jajan perangko (belum lagi kalau kirim ke luar negeri, perangkonya berharga dua kali lipat perangko dalam negeri. Hihi).

Resolusi saya di tahun 2017 pun tidak banyak, mungkin ini hanya beberapa di antaranya:

  1. Ingin merapikan kamar, sebab kamar saya itu cukup berantakan. Seorang kawan juga menyarankan saya untuk memelihara binatang lagi. Kali ini yang disarankan adalah ikan. Saya tidak yakin bisa menjadi perawat yang baik bagi hewan-hewan yang disarankan tersebut –pernah ada yang menawarkan pelihara burung hantu, sugar glider, dan lainnya. Tapi saya akan mencoba ikan, sebab konon lagi, tingkat kesulitannya tidak seperti hewan-hewan yang lebih besar lainnya. Selain itu, ikan tidak selemah hamster dan mampu bertahan tanpa makan hampir seminggu penuh. Cocok banget dengan kebiasaan saya yang sering pulang malam/pagi atau bahkan seminggu nggak pulang-pulang.
  2. Tetap traveling ke tempat-tempat baru yang saya inginkan tanpa melupakan bahwa saya juga harus melanjutkan kuliah. Sejujurnya, saya sudah di ujung batas keinginan melanjutkan kuliah. 2016 lalu saya sudah mendaftarkan diri di sebuah kampus negeri, tapi tidak jadi kuliah karena ada kendala di pembayaran. Ketika tenggat pembayaran hari terakhir, saya sedang di luar kota dan tidak membawa satu pun surat/keperluan untuk membayar. Jadi saya pikir 2016 dan kuliah belum berjodoh. Saya juga sering bimbang, lebih baik terus traveling atau berhenti sejenak dan kuliah yang bener. Entahlah.
  3. Pengin punya kosan yang ada dapurnya, biar bisa masak sesuatu dengan lebih leluasa, atau bahkan lebih baik kalau bisa KPR rumah sendiri. Rasanya mungkin jauh lebih puas. Lokasinya tidak harus di Jakarta, bisa saja di kota yang lebih kecil. Tak apa, yang penting kan punya sendiri. Saya sempat melihat tawaran KPR rumah yang terjangkau di Malang. Iya, di Malang adanya! Sebab harga di Jakarta sudah tidak ada yang bersahabat dengan gaji tak seberapa saya ini. Tapi entahlah, saya hanya berkilah pada seorang kawan saya, kalau nanti dapat tawaran kerja di sini, aku pindah deh (ke malang.red)
  4. Belajar lebih selow tidak tidak grasak-grusuk. Nah, kalau misal biasanya saya bawel, entah mengapa saya ingin membatasi kebawelan saya di tahun 2017. Mungkin saya tidak akan banyak bicara lagi. Mungkin lho, ya. Tapi yang pasti, saya ingin menghindari masalah dan sakit hati. Salah satu caranya? Tidak mengajak teman-teman yang PHP + sering janji palsu untuk jalan/liburan lagi. Alasan sombong pertama adalah karena saya orangnya tegas dan konsisten; jalan ya ayo, nggak bilang nggak. Jangan iya, tapi nggak muncul mendadak. Sungguh itu menyebalkan, sama menyebalkannya dengan haid hari pertama dan kamu harus melakukan perjalanan jauh di jalur darat. Iya, rasanya pengin nabok orang. Alasan sombong kedua, saya ogah repot, jadi mending saya nyari temen baru yang janjinya tidak fake. Bukan begitu? Bukan? Oke.
  5. Punya kedai kopi atau toko kue kecil di kota selain Jakarta, soalnya di sini sih saingannya udah banyak dan jauh lebih keren. Lagi-lagi Malang terlintas dalam kepala. Sepertinya seminggu liburan di Malang saya kecuci otak. Malang benar-benar membuat saya terpesona setengah mati. Akan saya ceritakan di postingan blog setelah ini (dan Vlog saya di Youtube, tentunya).
  6. Terakhir tapi semoga terkabul juga; saya bernazar pagi ini –jika saya diterima di sebuah perusahaan incaran saya dalam rentang 2017, maka saya akan menyisihkan gaji dan menjadi orangtua asuh bagi seorang anak yang membutuhkan. Saya tak tahu di mana, yang jelas, saya akan menyisihkan sebagian gaji saya kelak, jika saya memang bisa menggapai perusahaan tersebut (terlalu tinggi untuk ukuran saya sepertinya. Saya tidak yakin, tapi tidak ada salahnya berusaha dan mencoba.).
  7. Menyelesaikan maksimal 2 naskah novel dalam tahun 2017. (ini bukan lanjutan resolusi tahun sebelumnya, kok. Hahaha)

Demikian dan selamat tahun baru 2017

Semoga kehidupan setelah ini akan semakin baik-baik saja, semoga kalian bisa hidup dengan cara kalian masing-masing, bukan hidup sebagai apa yang ingin dilihat orang lain. Jaangan aja. Itu melelahkan, lho.

Hehe.

#JanganLupaPiknik2017

(Visited 36 times, 1 visits today)

One thought to “Resolusi Mput di Tahun Baru 2017”

  1. Resolusimu keren put! Terutama yg no.6 . Saya sampai malu kalah langkah dari dirimu dalam hal itu. Smoga semua resolusinya jd kenyataan & dikabulkan-Nya ya. Amin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *