img_0256

Akhir tahun 2016 kemarin, saya menutup tahun dengan melakukan solo traveling (perdana) ke Malang dan Surabaya, Jawa Timur. Meski perjalanan ini nggak bisa dibilang murni solo traveling –sebab di tiap kota yang saya singgahi, saya punya teman-teman yang biasanya siap menjemput dan meluangkan waktu untuk menemani keliling kota (antara sombong atau manja, hahaha). Ya tapi gimana, ya, namanya punya komunitas, pasti punya teman-teman dari circle yang sama namun berdomisili di tempat yang berbeda-beda. Saya pikir, hal ini patut dimanfaatkan. Nggak ada salahnya dong jalan-jalan bareng selama orangnya tidak keberatan 😛

Di samping itu, saya juga termasuk jarang ikut nge-trip dari Jakarta beramai-ramai (kecuali tur ke daerah yang susah untuk saya jelajahi sendirian). Bukan gimana-gimana, tapi saya paling tidak suka dengan keputusan yang berubah-ubah, ketika saya ingin ke tempat A maka akan saya perjuangkan. Berbeda mungkin dengan kebanyakan teman saya, yang kalau nggak dapat ke tempat A karena masalah tiket, penginapan, segala macam printilan –bolehlah diganti dengan tembat B saja. Buat mereka mungkin sama saja, sama-sama liburan. Buat saya tidak. Sebab selalu ada yang saya incar dari sebuah kota. Biasanya, lho, ya.

Maka untuk akhir tahun ini, saya senang bisa ke Malang walau tidak membawa satu orang kawan pun dari Jakarta. Sejauh ini saya baru pernah bepergian keluar Jabodetabek bersama seorang kawan bernama Icha. Bersama dia, saya rasa watak saya cocok. Sayangnya akhir tahun lalu, ia baru masuk kantor baru sehingga belum bisa menagih jatah cuti. Akhirnya, saya berangkat sendiri meski sejujurnya ada sedikit takut untuk memulai perjalanan sendirian. Tapi saya pikir, apalah yang patut kita takutkan, di jalan ada banyak orang. Secuek-cueknya manusia, jika sesuatu terjadi, saya percaya minimal ada satu orang saja yang pasti mau membantu saya.

Hal itu saya buktikan sedari tiba di Stasiun Senen. Saya bukan kali pertama naik kereta, tapi hal-hal seperti nomor gerbong sering membuat saya paranoid. Saya spontan bertanya kepada mas-mas terdekat di samping saya, benarkah itu gerbong yang saya tuju. Saya bahkan dibantu menaikkan ransel saya ke kabin oleh mas-mas lain yang duduk di kursi depan saya. Nah, sekarang saya semakin percaya bahwa teori saya nggak salah-salah amat!

Setibanya di Malang, saya dijemput oleh Kak Ayu aka @perihujan_ kalau di Twitter. Kami sudah berteman bertahun-tahun lewat sebuah cara yang cukup unik dan tidak biasa. Kami bisa saling kenal karena mantan saya berteman dengan mantan Kak Ayu. Berkenalan kurang lebih lima atau enam tahun lalu, ketika kami berdua masih bersama lelaki masing-masing –dan tetap berkawan baik meski sama-sama sudah putus dari keduanya. Tuh, kan, pertemanan yang ajaib. Saya suka merasa heran sendiri, bagaimana mungkin kami bisa sedekat ini pada akhirnya. Kak Ayu itu ekstrovert sejati, asyik untuk diajak cerita ngalor-ngidul dan curhat ndak karuan. Beliau orang yang ceria dan tidak betah diam, jadi selalu ada suasana ramai jika dekat Kak Ayu.

Dan akhirnya, itulah kali pertama kami bertemu. Saya tidak tahu apa yang Kak Ayu bayangkan tentang saya secara fisik –wajah, tubuh, dan sebagainya, tapi apa yang saya bayangkan mengenai Kak Ayu semuanya cocok. Hahaha. Bahkan sifat ramainya pun ternyata cocok. Dari Stasiun Malang Kota Baru, kami meluncur ke sebuah kos-kosan tak jauh dari kos-kosan Kak Ayu. Di sana, seorang kawannya menyewakan sebuah kamar untuk saya singgahi selama kurang lebih 6-7 hari. Bahkan harganya pun relatif murah menurut saya. Yah iyalah, namanya juga harga teman. Selain itu, saya berkenalan dengan si empunya kamar, dan secara tidak langsung saya juga mendapatkan seorang lagi kawan baru. Salah satu hal yang paling saya suka dari sebuah perjalanan adalah kejutannya –termasuk mendapatkan kawan baru yang tidak kita sangka-sangka sebelumnya.

Hari pertama kami habiskan untuk ke tempat-tempat yang dekat saja. Sarapan, kemudian ke alun-alun Malang, mampir dulu ke Museum Bentoel, lanjut ke Kantor Pos Malang (ini permintaan khusus dari saya yang agak rewel mau ngirim kartu pos dan Kak Ayu menerimanya dengan senang hati, bahkan ikut memilihkan kartu pos yang hendak saya beli), mamam es krim di Toko Oen, ke Gramedia Malang (destinasi favorit saya adalah toko buku, di mana pun kotanya), kemudian ke Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang, dan malamnya makan di Ayam Goreng Lapangan Tenes. Whoa, hari yang terasa begitu pendek tapi padat dengan perjalanan sana-sini.

Saya tidak akan bercerita banyak mengenai Museum Bentoel, sebab sudah saya ceritakan di salah satu vlog sebelum hari ini. Intinya, Bentoel adalah perusahaan rokok, dan museum ini tidak terlalu ramai. Siang bolong itu, hanya ada kami berdua, sehingga kami bebas eksplor ruangan mana saja dan berpose bahkan merekam vlog tanpa ada suara berisik! Hahaha. Hal yang sangat langka dan jarang saya temui. Biasanya sesepi-sepinya museum, pasti ada beberapa gelintir orang di dalamnya.

This slideshow requires JavaScript.

Tapi itu tidak masalah, hal ini membuat saya bisa bicara lebih banyak di vlog, sehingga lebih banyak yang saya dapatkan. Kemudian, kami menikmati es krim di Toko Oen setelah berputar-putar sebentar di Alun-alun Kota Malang. Es krim Toko Oen punya ciri khas yang mirip dengan es krim di Ragusa, Jakarta Pusat. Sama-sama es krim jadul dengan harga selangit, namun seimbang dengan rasa yang ditawarkan. Ya, intinya dompetmu memang akan sedikit tercekik ketika makan di tempat seperti ini –tapi kamu tidak akan menyesalinya. Hihi. Buat orang Jakarta mungkin ini terkesan tak ada bedanya dengan Ragusa, tapi tak ada salahnya kok dicoba juga. Hmm!

This slideshow requires JavaScript.

Alun-alun Kota Malang merupakan sebuah taman serupa Taman Suropati di Jakarta, namun dua atau tiga kali lebih luas. Saya memang seketika teringat Suropati ketika ada di Alun-alun Malang. Ada rumah burung, ada air mancur, tapi bedanya di Alun-alun Malang juga ada masjid yang cukup besar (tampak dari kejauhan). Hari itu Jumat dan cukup banyak yang berkumpul di Alun-alun. Bagi para umat muslim, itu sekaligus hari untuk melaksanakan Jumat’an, dan Kak Ayu sempat mengingatkan saya bahwa tempat itu (khususnya seputaran masjid) akan ramai sekali. Tapi tidak masalah, sih, seramai-ramainya di sana, saya masih lebih syok kalau melihat Istiqlal ketika shalat Ied. (udah deh, anak Jakarta nggak usah sombong!) Hahaha.

img_0252

Setelah mengambil beberapa gambar di Alun-alun, kami beranjak lagi. Kali ini ke bekas kampus Kak Ayu, yaitu Universitas Negeri Malang. Bukan tanpa alasan kami main ke sini, yang jalur angkotnya tidak bisa dibilang dekat-dekat amat. Ini menurut saya yang pendatang, sih, rasanya jadi sedikit lebih jauh, hehe. Di sini, kami bertandang ke Kafe Pustaka, sebuah kafe yang terletak di dalam kampus UM, tepatnya di samping gedung Fakultas Ekonomi. Menurut Kak Ayu, itu salah satu tempat favoritnya. Di sanalah akhirnya kami berbincang mengenai perkembangan komunitas dan literasi di kota Malang, yang akhirnya saya muat di dalam blog buku saya dua hari lalu.

This slideshow requires JavaScript.

Selang berapa lama, seorang kawan menyusul kami. Namanya Zahra, mahasiswi perantauan asal Makassar yang kuliah di Brawijaya. Zahra ini termasuk salah satu ‘adik kelas’ yang cerdas menurut saya. Ngobrol sama dia tidak akan memberikan kesan bahwa kalian sedang ngobrol dengan anak kuliahan. Duh, saya jadi ingat masa-masa kuliah saya dulu, di umur dia, saya masih punya sedikit sisa-sisa ke-alay-an (tutup muka sendiri). Zahra tidak banyak bicara, ia pribadi yang lebih kalem kalau dibandingkan kami berdua. Kami kemudian asyik mengobrol hingga tidak terasa sudah magrib. Kami bingung hendak makan di mana, kemudian saya mendapat rekomendasi untuk makan di Ayam Goreng Lapangan Tenes belakang stadion, yang katanya sambalnya cihuy.

Tanpa ragu, saya mengajak mereka berdua ke sana. Rasa ayamnya memang cukup enak, saking enak dan laparnya, saya lupa mengambil barang satu dua foto. Untungnya saya masih sempat mengajak wefie sebelum kami berpisah dan pulang.

Kiri-kanan: saya, Zahra, Kak Ayu

Hari kedua kami berencana ke kawasan Singosari untuk menengok Candi Singosari dan Stupa Sumberawan. Di luar dugaan saya, malam itu Zahra menerima ajakan kami untuk main ke candi. Selama kuliah aku belum pernah ke sana malah, Kak, tukasnya sambil tertawa kecil. Kami berpisah di luar restoran ayam goreng dan berjanji bertemu di suatu tempat keesokan paginya.

Sungguh, esok akan jadi hari yang tak kalah panjang!

(Visited 76 times, 1 visits today)

4 Thoughts to “#JawaTimurTrip 1: Menutup 2016 Dengan Keluyuran Ke Malang – Surabaya”

    1. Iya, saya coba bakso cak kar, kok 😀 di hari kedua. saya ceritakan di postingan setelah postingan ini.
      Noted untuk ayam nelongso hehe.
      Museum Brawijaya juga saya singgahi, tapi belum sempat ditulis sepertinya.

  1. ” Kami bisa saling kenal karena mantan saya berteman dengan mantan Kak Ayu”

    ohh ya ya ya bbaru ngeh sejarah keakraban kalian berdua hihihi

    dan dulu saya kalo ngapelin pacar saya ke Malang biasanya suka makan di ayam goreng Dundee, skarang tempat asalnya deket2 alun2 sudah tutup, katanya masih ada sih di MOG jl Kawi apa ya, tp ga sempet kesana je, jadinya ke Dandee, mirip2 sih, dan lumayan enak

    trus kmaren sempet niat ke toko Oen, untunglah mahal jd ga nyesel ga kesitu eheheheq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *