img_0320

Hari kedua! Pagi itu saya lebih awal dan lumayan kaget dengan dinginnya air di Malang, padahal itu sudah pukul enam atau tujuh pagi. Hihi. Saya belum biasa dengan hawanya, meski nanti di akhir trip ini, saya malah jatuh cinta dengan kota Malang. Pagi itu, Kak Ayu datang ke penginapan dan menjemput, kemudian kami sama-sama menumpang angkot ke arah Arjosari. Kami berdua turun di flyover Arjosari, di sana Zahra menunggu. Kemudian dari sana kami menyambung angkot lain menuju Pasar Singosari.

Singosari di Malang itu daerah pasar! Iya, pasar beneran! Hahaha. Kami bahkan turun di pinggir jalan, kemudian masih harus jalan ke arah dalam (jalanan kecil sih, bukan gang juga) sekitar 200 meter versi orang Jawa (yang katanya seringkali lebih jauh dari perkiraan manusia-manusia Jakarta) untuk mencapai kawasan Candi Singosari. Itulah kali pertama saya tiba di candi kecil. Sejujurnya, kompleks candi terkecil dalam bayangan saya adalah Candi Arjuna di kawasan Dieng. Itu juga candinya ada beberapa, dan arjunya sesungguhnya adalah sebuah kompleks atau kumpulan candi.

Meski, saya tahu tidak menutup kemungkinan ada candi-candi kecil bahkan di tengah sawah sekalipun. Muara Takus di Sumatera termasuk candi yang tidak terlalu besar juga, saya tahu itu. Tapi saya tak membayangkan Singosari hanya sebuah lahan tak terlalu besar dengan sebuah candi mini di tengahnya. Ya, hanya itulah candinya, nanti di Sumberawan malah hanya satu stupa saja, ujar bapak penjaga Singosari. Kami bahkan sempat berbincang dengan beliau, menanyakan arah ke Sumberawan. Lumayan, 6km dari lokasi tempat kami singgah itu, tapi sementara, Bapak itu menyuruh kami menikmati Singosari terlebih dulu. Gampang, nanti bisa saya panggilkan ojek teman-teman saya jika mbak-mbak mau, katanya. Menurut saya, bapak ini termasuk ramah dan tidak sungkan untuk repot-repot membantu, hihi.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah selesai dari Singosari, bapak penjaga candi itu mengatakan tak jauh dari sini dan lurus saja, kami akan menemukan dua buah arca yang berseberangan. Masing-masing terletak di sebuah lahan kosong. Karena tertarik, kami memutuskan ke sana untuk menengok sejenak, sebelum mengejar lokasi Sumberawan. Ternyata memang arcanya besar, tapi hanya satu di masing-masing lahan yang besarnya tidak imbang dengan besar arca. Kami duduk-duduk di dekat salah satu arca, ada pohon rindang dan batu-batu besar –seperti batu yang melambangkan meja di atas Situs Megalitikum Gunung Padang, tempat Prabu Siliwangi pernah bertahta. Sambil duduk di atas batu, kami mengobrol dan harus saya akui anginnya enak sekali –meski saat itu matahari sedang panas di langit Malang. Gimana ya, panasnya Malang itu beda dengan Jakarta dan Surabaya, beberapa orang pun mengatakan hal yang sama.

This slideshow requires JavaScript.

Waktu itu pukul sebelas lewat, Kak Ayu yang awalnya semangat menghasut kami untuk makan bakso mercon di dekat Singosari. Tanpa diduga, lokasi bakso itu ada di perumahan tepat di belakang lapangan tersebut. Bahkan saya bisa melihat plang warung baksonya dari sana. Kami kemudian saling lirik dan mengerti, kami bertiga lapar. Akhirnya, kami beranjak dan makan bakso yang harga seporsinya (berisi mie putih, dua buah bakso rawit, siomay, pangsit basah, dan pangsit goreng) hanya Rp 14.500,- itu. Harga yang membuat saya tercengang. Ini warungnya lumayan bagus seperti pujasera di komplek perumahan elit di Jakarta. Bahkan ada WIFI-nya segala. Saya sudah bersiap membayar minimal Rp 30.000,- untuk seporsi yang saya makan sendiri, tapi ternyata kami makan bertiga nggak sampai kena Rp 50.000,- dan saya takjub. 😛

Kak Ayu menertawakan saya, katanya di Malang memang itulah harga yang wajar. Saya masih terbengong-bengong ketika kami meninggalkan warung, kemudian berkelakar apa saya harus pindah ke Malang aja biar hidup hemat dan nggak foya-foya lagi seperti di Jakarta. Zahra yang paling kalem hanya ikut tertawa. Daan, masalahnya masih sama, kami belum tahu ingin naik apa ke Sumberawan. Sempat terlintas jalan pintas; kembali ke Singosari dan minta dipanggilkan ojek oleh bapak penjaga candi, tapi Kak Ayu ingin mencoba dokar.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah menunggu sekian lamanya, tidak ada dokar kosong yang lewat, jadi akhirnya kami naik bentor (becak motor). Bertiga dibanderol Rp 35.000,- untuk perjalanan sampai ke puncak. Agak bersyukur batal naik dokar, karena medannya sama sekali tidak bersahabat untuk kendaraan non mesin. Percayalah, Sumberawan itu jalanannya setengah hutan! Orang-orang ke sana dengan mengendarai mobil atau minimal motor. Bentor yang kami tumpangi tidak sanggup mendaki hingga lokasi, sampai kami akhirnya kasihan pada si bapak, dan turun beberapa ratus meter dari lokasi kemudian jalan kaki.

Kalau saya boleh jujur, Sumberawan hanya sebuah stupa, tapi di sekitarnya ada telaga dan ada mata air yang mitosnya bisa bikin enteng jodoh dan awet muda. Jika bicara worth it, sebagai pengejar candi mungkin saya akan berpikir ini tidak worth it sama sekali. Tapi karena momen dan pengalamannya seru, saya pikir saya tidak menyesal ikut mengejar Sumberawan hari itu. Sempat juga kami mencoba mata air awet muda tersebut :p kalau saya sih tujuannya biar terus awet muda, kalau Kak Ayu pengin nikah 2017 :p sementara Zahra bengong di antara kami berdua, dan hanya tertawa ketika saya bilang semoga ia menemukan jodoh usai menyelesaikan skripsi nanti.

c02hooiucaejj8e

Yang tidak kalah bodoh adalah ketika kami hendak turun dari Sumberawan. Tadinya, kami mengira memang akan ada angkot yang lewat, tapi setelah berjalan sejauh beberapa ratus meter ke bawah –hingga daerah hutannya terlewati dan berganti dengan perkampungan warga, kami sadar bahwa kami keliru.

“Ya kadang cuma lewat (naik ke atas) mbak, tapi ndak balik lagi (untuk turun ke bawah).” Celetuk seorang ibu penjaga warung tempat kami mengaso.

Kami panik, tidak ada akses ke bawah. Tidak mungkin berjalan sejauh 6km dengan medan yang kurang ramah dan berkelok-kelok. Saya menuliskan kejadian ini di salah satu media sosial saya dan teman saya sampai khawatir saya akan hilang di Sumberawan, hahaha! Sementara Kak Ayu sampai mengontak anak-anak bloger Malang, siapa tahu bisa menolong dan menjemput kami di atas.

Untungnya lagi, di tengah kebingungan itu, si Ibu kembali nyeletuk, “ojek warga aja mau, mbak? Bisa saya bantu panggilkan.”

Rasanya seperti sedang kepanasan terus disiram jus jeruk dingin. Akhirnya dengan menumpang ojek (dan membayar Rp 10.000,- per orang) kami berhasil turun kembali ke Pasar Singosari, kemudian menumpang angkot dan kembali ke Malang kota. Hari itu lebih melelahkan ketimbang seharian keliling Malang Kota, tapi tak apa, sebab pengalamannya justru seru dan bikin kami tertawa ketika mengingatnya lagi.

Jadi, jangan takut ke Singosari, Sumberawan, atau bahkan candi kecil dan pelosok desa lainnya di Indonesia. Aksesnya mungkin tidak bersahabat sama sekali, tapi selalu ada keberuntungan di tengah jalan, dan mungkin setimpal dengan pemandangan atau pengalaman yang didapat.

Sebab saya selalu percaya apa yang sudah dimulai pasti bisa diakhiri. Maka selamat bertualang!

Oleh-oleh dari Sumberawan: kembang pohon pinus, katanya~
Oleh-oleh dari Sumberawan: kembang pohon pinus, katanya~

 

(Visited 62 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *