#JawaTimurTrip 3: Main ke Candi Badut, Museum Brawijaya, dan Duduk-duduk di Pinggir Jalan Idjen

IMG_0592

Entah kenapa, trip Malang berbeda dengan trip-trip saya sebelumnya. Jika sebelumnya saya memang menargetkan akan ke mana, ketika di Malang saya seperti mengikuti arus. Ke mana saja kaki membawa, saya ikut. Ralat, ke mana saja kaki Kak Ayu membawa, kaki saya ikut. Hari itu, masih ada satu candi yang belum kami datangi, namanya Candi Badut. Tempatnya tidak sejauh Singosari dan Sumberawan, tapi masih termasuk pinggir kota. Saya ke sana bersama Kak Ayu dengan menumpang angkot, kali ini tidak bersama Zahra.

Sama seperti Singosari, Candi Badut juga terletak di kawasan perumahan penduduk dan tidak banyak orang sepertinya tahu bahwa candi tersebut ada di sana. Terlebih, orang di luar kota Malang alias pendatang. Kak Ayu sebelumnya sudah pernah ke sini, sehingga kami tak begitu kesulitan mencari tempatnya. Kemudian, saya sempat mengambil gambar beberapa kali, bahkan membuat vlog pendek di sini, membicarakan tirta atau mata air yang ada di kawasan komplek candi. Untuk kelas candi, tamannya Candi Badut cukup bagus dan terawat. Berbeda dengan Singosari, Candi Badut tampak lebih asri (bagian tamannya ya, kalau candinya kurang lebih sama, hanya satu candi saja di kawasan itu).

This slideshow requires JavaScript.

Konon, Candi Badut sendiri merupakan salah satu gaya bangunan klasik, tepatnya peralihan dari Tengah ke Timur-nya Jawa. Di dalam ruang-ruang candi ini juga ada simbol Siwa yaitu Lingga dan simbol Parwati yaitu Yoni. Biar nggak bingung, sedikit informasi, bahwa Candi Badut merupakan candi Hindu. Bagian sisi luar Candi Badut terdapat ruang-ruang kecil berisi arca. Salah satu arca yang masih tersisa di sini namanya arca Durga Mahisasuramardini. Buat kamu yang pengin tahu lebih banyak, silakan langsung datang dan lihat sendiri gimana penampakan candi ini. Candinya memang nggak terlalu besar, tapi kalau cuaca cerah dan tidak banyak pengunjung, jadinya cukup bagus difoto.

Hari ketika kami berkunjung, bahkan ada yang akan piknik di lokasi tersebut. Sepertinya satu keluarga besar, sudah bersiap-siap membawa makanan dan alas. Saya dan Kak Ayu akhirnya menghindari spot tempat mereka duduk agar tidak tertangkap lensa kamera ketika vlog direkam. Kurang lebih 1.5 jam waktu yang kami habiskan selama di sana, sebelum akhirnya kembali ke jalan besar dan beralih ke Museum Brawijaya, Malang. Awalnya, saya mengira Museum Brawijaya ada hubungannya dengan Universitas Brawijaya, ternyata nggak :p museum ini sebenarnya bisa dibilang museum militer, sih. Di dalamnya ada banyak jenis senjata, peninggalan uang kuno, kliping koran lama mengenai kisah-kisah pembantaian PKI, hingga sebuah gerbong maut yang menewaskan puluhan orang ketika Agresi Militer Belanda II pada 1947.

Tidak banyak memang hal yang menarik hati di Museum Brawijaya, tapi cukuplah untuk menuntaskan rasa penasaran dan setidaknya bisa foto di atas tank yang ada di halaman museum. Hahaha. Selain itu juga, museum ini punya rooftop yang luas dan nyaman. Bahkan, menurut Kak Ayu, salah satu yang menarik dari museum ini malah memang rooftop-nya itu. Sempat juga ada potongan vlog yang saya rekam di sini, tapi tidak begitu panjang durasi yang saya upload sebab ingin lebih menonjolkan kondisi dalam museumnya.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah selesai dari Museum Brawijaya, kami ingin melipir ke Perpustakaan Daerah Malang, tapi sayangnya karena itu tanggal 26 Desember, maka perpustakaan sedang tidak beroperasi. Ya, namanya juga perpus daerah. Hari libur dan hari Minggu sudah pasti tutup. Nah, kemudian, kami makan siang di salah satu resto Jepang (lokal) yang terletak tak jauh dari Museum. Menunya lumayan, sih. Dan harganya tentu tidak semahal restoran Jepang di Jakarta. Saya dan Kak Ayu kemudian ngalor-ngidul nggak tahu mau ke mana dan memutuskan muter-muter di Jalan Idjen. Kata Kak Ayu, jalan ini sering dikatakan mirip Jalan Braga di Bandung. Bentuk kotanya memang mirip Bogor atau Bandung juga.

Saya sendiri sebagai anak Jakarta, melihat Idjen serupa Menteng. Banyak rumah-rumah mewah, dan katanya memang perumahan di sini pun tergolong perumahan mewah di Malang. Tuh, kan, sama banget dengan Menteng! Kami duduk-duduk di sana menikmati angin siang (jelang sore) sambil mendiskusikan berbagai macam hal –dari yang berkelas hingga yang receh, tertawa seolah hidup tak ada beban, seolah tak ada yang akan dikerjakan esok hari.

Mungkin saya lebay, tapi menikmati Idjen buat saya adalah menikmati hidup. Baru kali itu saya duduk-duduk di pinggir jalan besar tapi tak terlalu ramai, wajah ditiup angin, dan tertawa mendiskusikan hal receh bersama kawan. Saya mungkin pernah juga duduk di jalanan depan Bank Mandiri Sarinah, Thamrin, Jakarta, tapi asap knalpot Kopaja membuat kepala saya pusing dan napas jadi bengek. Maka semenjak itu saya memutuskan bahwa pinggir Jalan Idjen adalah salah satu cara sederhana menikmati hidup.

Kak Ayu sebagai teman jalan mungkin sudah bosan mendengar saya mengatakan hal di atas. Tapi biasanya ia hanya tertawa dan mengiyakan. Seperti sore itu, ketika saya nyeletuk, bahwa duduk-duduk di Idjen membuat saya lupa bahwa saya masih punya sisa cicilan sedikit lagi. Tak ada salahnya saya melupakan itu barang satu-dua jam saja, bukan? Hahaha.

Setelah puas duduk di Idjen –yang hingga hari ini berhasil membuat saya rindu itu, kamu kemudian kembali naik angkot. Awalnya ingin pulang ke penginapan, tapi belum terlalu sore, sehingga kami memutuskan untuk beralih ke Taman Trunojoyo yang lokasinya tepat di seberang Stasiun Malang Kota Baru –stasiun yang sama tempat Kak Ayu menjemput saya beberapa hari lalu. Oh, sedikit bocoran, di sini ada tukang jual sempol (makanan khas Malang) yang rasanya lumayan enak, lebih enak daripada yang ada di depan Kantor Pos Malang. Satu tusuknya dihargai Rp 500,- sedangkan yang di depan Kantor Pos satunya dihargai Rp 1.000,-.

Bicara kuliner, Malang nggak ada matinya. Sebenarnya meski kecil, justru kota ini lebih baik dijadikan tempat wisata kuliner ketimbang wisata city tour. Tak jauh dari sana misalnya, ada juga Surabi Imut. Di sini, dengan membawa uang Rp 10.000,- saja, kamu bisa mendapatkan 1 potong surabi dan 1 minuman –yang jelas bukan air putih atau teh tawar, kok! Dan masih mendapatkan kembalian sektiar Rp 500,- atau Rp 1.000,- :p tuh, duit sekecil itu saja nggak akan bisa dihabiskan sekali makan di sini! Makanya nggak heran ada banyak orang pacaran di sini. Kalau jokes saya dan Kak Ayu, sih, mungkin tempatnya murah meriah jadi asyik untuk pacaran lama dan nambah makanan 😛 ya kali aja, kan!

Setelah dari sana, barulah kami pulang ke penginapan dan akhirnya mandi. Rencana awal malam itu adalah ke Legi Pait, tapi ternyata hingga kepulangan saya ke Jakarta, Legi Pait tak sempat didatangi. Malam itu kami melipir makan di kawasan Soekarno Hatta atau yang dikenal sebagai SuHat oleh arek-arek Malang. Setelah menghabiskan seporsi Panties Pizza dengan keju Mozarella berdua saja, Kak ayu mengajak saya mencicipi Tahu Lontong –yang kalau menurut saya agak mirip ketoprak di Jakarta (psst, di Malang nggak ada Ketoprak ternyata! Saya juga baru tahu dan agak kaget. Sebab, saya pikir Ketoprak ada di hampir seluruh daerah di Pulau Jawa).

Tahu Lontong kuah kacang juga bisa jadi alternatif makan malam jika kamu ingin makan malam yang murah meriah dan tidak tahu harus makan apa/di mana. Nyum!

(Visited 64 times, 1 visits today)

Silakan baca juga...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *