IMG_0647

Hari berikutnya! Setelah memutuskan untuk tidak ke Batu –karena pertimbangan bahwa ini adalah long weekend dan jalanan ke Batu itu sedang parah-parahnya, akhirnya saya kesampaian main ke Jodipan. Jalanan ke Batu sebelas dua belas dengan jalanan ke puncak dari Jakarta ketika long weekend. Agak-agak mengerikan membayangkannya, jadi saya memutuskan untuk keliling Malang kota saja. Paginya, sebelum mampir ke destinasi yang direncanakan hari itu, saya dan Kak Ayu sempat sarapan di sebuah toko kue kecil di Jl. Cipto. Namanya Toko Kue Sara. Yang menarik perhatian saya adalah warna bangunannya, tapi kata Kak Ayu kuenya juga lumayan. Akhirnya kami mampir ke sana dan menikmati masing-masing dua potong kue. Lumayan enak, dan masih jadi kenangan yang yummy dalam otak saya sampai hari ini. Hahaha.

Kebetulan lagi, untuk destinasi Malang kota, Jodipan alias Kampung Warna-warni dan Kampung Tridi yang ada di sebelahnya, masih termasuk area Malang kota dan tidak sulit dijangkau. Saya melewati perkampungan ini ketika hendak masuk Stasiun Malang. Dan hari itu kamu memutuskan hendak ke sana. Katanya bagus untuk motret, baik dari atas jembatan maupun dari dalam kampungnya sendiri! Usut punya usut, ternyata Kampung Jodipan adalah proyek CSR sebuah produk cat. Ceritanya, kampong ini merupakan perkampungan kumuh dulunya –beberapa tahun lalu, sebelum berubah warna. Seorang warna kemudian berinisiatif mengubah warna cat rumahnya menjadi lebih cerah. Kemudian, Kampung Jodipan ditawari proyek oleh produk cat, sehingga terciptakan Kampung Jodipan dan Kampung Tridi yang sekarang. Katanya juga, jika dilihat dari atas menggunakan drone, Kampung Jodipan akan membentuk sebuah bulatan matahari.

Untuk masuk ke Kampung Jodipan, masing-masing diwajibkan membayar Rp 2.000,- dan boleh berkeliling ke seluruh tempat tanpa ada batasan waktu. Hanya saja, di Jodipan tidak ada tempat parkir, jadi untuk ke sana mending bawa motor (kalau mobil malah lebih nggak ada space). Parkir motor ada di Kampung Tridi –di samping Jodipan. Mereka memiliki dua pintu masuk yang berbeda dan kedua kampung ini dibatasi sebuah kali. Saya pikir masuk ke Kampung Tridi juga bayar lagi, ternyata tidak. Mungkin karena mereka sudah memungut bayaran untuk parkir, jadi tidak ada pembayaran yang dipungut untuk pribadi.

This slideshow requires JavaScript.

Kalau mau dibandingkan, Kampung Jodipan lebih berwarna ketimbang Kampung Tridi. Meski Kampung Tridi bisa dikatakan mirip dengan 3D Trick Eye Museum di Jogja sana, tapi saya masih jauh lebih suka Kampung Jodipan. Selain itu, Kampung Jodipan lebih rapi. Seluruh jalanan dan tangga –apalagi tangga menuju kali, sudah rapi dan enak dituruni oleh pengunjung. Sedangkan di Kampung Tridi itu, tangganya masih curam dan agak menakutkan untuk menuju ke kali, sehingga saya memilih untuk tidak turun sekalian.

Usai dari Kampung Jodipan dan Tridi, saya tadinya ingin ke Museum Malang Tempoe Doeloe. Dari sana tak jauh, mungkin hanya jalan kaki sekitar 10 menit sudah tiba. Tapi sayangnya, Museum Tempoe Doeloe sedang tutup dalam rangka renovasi dan akan dipindahkan ke daerah yang lain. Saya tidak ingat nama daerahnya –sempat disebutkan oleh bapak tukang parkir di Resto Inggil. Karena nggak tahu mau ke mana, akhirnya kami menghabiskan waktu untuk ngemil-ngemil tahu petis di Resto Inggil sebelum akhirnya menuju Golden Heritage Koffie di Jalan Raya Tidar 36, Malang. Khas dari Golden Heritage adalah flying mie atau mie melayangnya! Sebenarnya saya tahu sih kunci dan trik rahasia menu ini, tapi tidak ada salahnya dicoba. Seporsinya dibanderol seharga Rp 25.000,- dan rasanya cukuplah. Teksturnya agak tebal, ada beberapa potong ayam, udang, bakso, dan wortel. Cukup mengenyangkan perut dan bikin bego siang-siang.

This slideshow requires JavaScript.

Hari itu saya agak sedih, sebab tinggal dua hari lagi trip saya akan berakhir. Saya menyempatkan beli oleh-oleh juga, dan malamnya lebih banyak kamis habiskan untuk duduk-duduk lagi di pinggir jalan. Sungguh, tidak ada kata yang bisa saya tuliskan untuk menggambarkan betapa selow-nya kehidupan saya di Malang. Ini sama sekali bukan liburan yang mengejar-ngejar sesuatu/harus ke mana/harus mendatangi apa, tapi lebih ke liburan yang santai dan menikmati hidup. 😛 saya nggak tahu apakah ini pengaruh bahwa saya ke sana untuk liburan, bukan untuk tinggal, tapi saya pikir Malang masih kota ideal untuk menenangkan diri. Sebab dua kota serupa –Bogor dan Bandung, sudah kelewat penuh manusia.

Daan, malam itu juga saya sepertinya pulang lebih cepat untuk beli Puthu Lanang yang laris manis di Malang. Salah satu putu yang katanya sudah ada sejak tahun jabot dan tiap malam itu rame banget. Kak Ayu harus saingan dengan beberapa ibu-ibu untuk bisa mendapatkan seporsi berupa 10 buah kue (ada putu, cenil, lupis, dan sebagainya) seharga Rp 10.000,- saja. Keesokan harinya, saya akan berangkat untuk one day trip di Surabaya. Malam itu, saya sempat bilang pada Kak Ayu, bahwa saya sedikit takut. Saya selalu ketakutan sebelum memulai sebuah perjalanan jauh. Saya takut pada banyak hal yang belum tentu akan terjadi. Dan sempat saya takut ke Surabaya sendirian. Well…

(Visited 269 times, 1 visits today)

4 Thoughts to “#JawaTimurTrip 4: Keliling Kampung Warna-warni Jodipan, Mengintip Kampung Tridi, hingga Gagal ke Museum Malang Tempoe Doeloe!”

  1. menurutku lebih keren kampung tridi, coba itu seluruh pelosok kampungnya disusuri, asik gambar2nya, dan tangga curamnya ga seseram itu kok

    ohiya itu foto paling bawah kmaren mau foto2 disitu ragu2, untunglah ga jadi, tar kan saingan sama fotomu dan dirimu malu #halagh hahaha

    sepertiya lainkali kalo ke malang lg harus manggil perihujan ya biar afdol aehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *