IMG_0926

Tadinya, saya berencana ke Malang saja. Kemudian, suatu hari ada seorang kawan –Om Warm, begitu saya memanggilnya, yang meng-update tentang Museum Santet atau Museum Kesehatan Dr. Adhyatma, MPH yang ada di Surabaya. Beliau yang sempat bertemu saya di Jogja itu mengatakan, bahwa lokasi museum ini dulu adalah ruang kelasnya, dan yang mendirikan museum tersebut adalah dosennya sendiri. Museum Kesehatan –atau yang memang jauh lebih dikenal dengan nama Museum Santet ini memang bukan sesuatu yang baru, tapi sungguh saya penasaran. Dan saya belum pernah ke Surabaya! Jadi, saya pikir mungkin inilah momennya.

Kemudian, yang harus saya pikirkan adalah, apa saya bisa merapel kedua trip tersebut? Saking penasaran, saya bertanya pada Desi –seorang kawan penulis, anak Surabaya. Menurut dia, saya bisa ke Surabaya dengan menumpang kereta atau bus dari malang. Kereta pun hanya Rp 40.000,- saja. Cukup murah, kan? Sayangnya, nggak ada jadwal yang cocok untuk saya. Sebab kereta Surabaya untuk tanggal-tanggal sekian itu baru berangkat pukul 2 siang dari Malang, sedangkan saya mengincar one day trip saja. Tiba dari pagi saja belum tentu puas, apalagi tiba menjelang sore !

Akhirnya Desi bilang, nggak usah beli tiket kereta. Dari Malang kamu naik bus di Terminal Arjosari, ada banyak. Turun di Terminal Purabaya, aku jemput !

Nah, angin segar! Muahahaha. Berhubung saya suka ngebolang juga –meski seringkali saya merasa takut sendiri, maka saya menerima tantangan itu. Saya mengosongkan tanggal 27 untuk trip ke Surabaya. Saya sama sekali tidak tahu jalan baik di Malang maupun Surabaya, pun tidak bisa berbahasa Jawa. Pagi itu, Kak Ayu yang mengantarkan saya ke terminal. Kami menumpang angkot, dan ada kejadian lucu yang membuat saya merasa bodoh. Saya duduk di depan dan terpisah dengan Kak Ayu (yang duduk di belakang) sebab kursi belakang tidak cukup. Di perjalanan, bapak sopir angkot berkelakar dalam bahasa Jawa. Saya tidak mengerti artinya, tapi saya tertawa saja karena melihat ia menertawai jokes-nya sendiri. Di belakang, saya tahu Kak Ayu nahan ketawa, tapi ya sudahlah. Di sana saya merasa bahwa saya bisa lucu juga, meski lebih ke arah lucu-lucu bodoh. *gimana?* 🙁

Perkiraan Desi benar, dalam 2 jam saya sudah tiba di Purabaya. Ia datang menjemput dan kami langsung ke Kantor Pos Surabaya untuk mengirimkan beberapa kartu pos, yang sayangnya sampai postingan ini naik, kartu posnya belum tiba satu pun di tangan teman-teman saya. Padahal sebelumnya, saya mengirimkan kartu pos dari Kantor Pos Malang dan semuanya tiba dengan selamat. Huhu. Saya sedih, bukan apa-apa, harga kartu pos di Surabaya tergolong lebih mahal daripada di Malang. *minang banget deh sedihnya*

Setelah dari Kantor Pos, kami ke Museum Santet. Tempatnya lebih tampak seperti bekas rumah sakit ketimbang bekas ruang kuliah. Ada lorong-lorong sepi, dan hari itu pengunjungnya hanya dua rombongan. Saya dan Desi, beserta 3 orang lainnya yang tergabung dalam 1 rombongan. Kami hanya diberi tiket seharga Rp 1.500,- dan ditunjukkan arah mana yang harus kami masuki. Ada 3 ruang di Museum Kesehatan/Museum Santet ini. Pertama, kita akan dibawa pada sejarah medis. Di sana, kita bisa melihat bagaimana peralatan yang digunakan pekerja medis pada zaman dulu. Ada peralatan yang cukup lengkap dan keterangan yang menjawab rasa penasaran pengunjung. Mungkin itu sebabnya juga museum tersebut hanya memiliki satu penjaga, mungkin mereka berpikir bahwa tak banyak lagi yang harus dijelaskan secara lisan.

This slideshow requires JavaScript.

Tapi sebenarnya ada yang membuat saya penasaran, yaitu ruang yang bertuliskan Dunia lain di pintunya, ada di perbatasan antara ruang pertama dengan ruang kedua. Dari berita yang saya baca di portal online, konon pernah ada kru stasiun TV yang memaksa masuk ke sana karena harus liputan, dan pulangnya ditempelin sosok penunggu ruang tersebut bahkan sampai tiba di Jakarta. Entah, tapi menurut portal itu, dalam ruang Dunia Lain ada banyak sekali penunggunya. Seolah memang itu adalah portal pemisah mereka dengan dunia nyata (bagian lain museum). Saya sempat mengambil gambarnya, meski tidak berniat masuk ke dalam (niat nggak niat, sih. Sebenarnya pengin nanya banyak sama Mas penjaganya, namun urung karena keterbatasan waktu dan sepertinya masnya pun tidak aktif melayani pertanyaan dari pengunjung).

This slideshow requires JavaScript.

Kemudian, bagian kedua adalah ruang yang berisi pajangan replika hewan-hewan; mulai dari musang, kucing, tikus, kupu-kupu, dan sebagainya. Hanya sebuah ruang kecil panjang yang tidak terlalu menarik buat saya. Justru yang saya tunggu-tunggu adalah ruang ketiganya (agak terpisah sendiri dari ruang yang lain). Di ruang ketiga itu berisi benda-benda magis yang didapatkan dari hasil penyembuhan orang yang terkena santet katanya. Menurut Om Warm, dulu dosennya ingin meneliti mengenai santet, sehingga mempelajari ilmu-ilmu tertentu dan konon sekarang bisa menyembuhkan santet pula. Nah, isi ruang 3 adalah hal-hal aneh yang keluar dari tubuh korban santet seperti paku, serabut, dan benda-benda tak wajar lain. Selain itu, juga ada boneka Jailangkung, Nini Thowok, papan Ouija, dan replika tuyul! Wow! Hahaha. Walau tidak terlalu lama ada di museum ini, untuknya saya berhasil mengabadikan beberapa benda di vlog, yang bisa kalian klik pada bagian bawah postingan ini. Setidaknya, untuk sekarang, itu lebih dari cukup.

Kemudian, kami bergeser ke House of Sampoerna, sebab Desi bilang sudah mendaftarkan kami untuk tur siang itu. Aduh, saya lupa siapa nama tour guide-nya. Tapi menurut Kak Ayu, Mas satu itu manis-manis lucu. Menurut saya sih ndak cakep-cakep amat, ya. Iya sih, rata-rata lelaki jawa itu ndak bisa dibilang ganteng, tapi lebih ke manis atau lucu. Ya, bolehlah. Jokes Masnya memang bikin seisi bus seringkali tertawa.

This slideshow requires JavaScript.

Destinasi pertama kami siang itu adalah Klenteng Hok An Kiong. Tempatnya tidak terlalu luas, juga tidak di pinggir jalan besar. Hanya ada jalanan kecil di depannya. Kami semua turun dan mendengarkan penjelasan Mas tour guide yang katanya manis itu, dan juga diberikan waktu untuk foto-foto atau bertanya jika masih ada hal yang belum dimengerti. Di dalam Klenteng itu ada simbol dewa yang berkuasa di sana, lengkap dengan naga dan segala macamnya. Ada arti-arti tertentu di dalam simbol tersebut. Saya tidak bisa menghapalnya satu per satu, sebab saya kurang tertarik dengan sejarah Klenteng sebenarnya. Lebih tertarik dengan candi-candi.

Enaknya juga, selama tur dan ada di dalam bus, kami juga diajak membahas sejarah kota Surabaya. Tema khusus hari itu adalah Surabaya sebagai kota niaga atau kota perdagangan. Kami juga sempat melewati perkampungan arab ketika pulang dari sana, dan katanya nih di sana juga menjual barang atau oleh-oleh haji. Kalau nggak sempat bawain oleh-oleh sepulang dari Mekkah, bisa beli di Tanah Abang (Jakarta) atau di pasar itu! 😛

This slideshow requires JavaScript.

Destinasi kedua kami adalah Museum Bank Mandiri. Sekali lagi, museumnya juga tidak terlalu besar, tapi cukuplah untuk tur singkat beberapa belas menit. Karena total tur adalah satu jam dengan 2 destinasi, jadi kami harus berlomba dengan waktu. Dan bisa ditebak –belum waktu yang diperlukan di perjalanan, sehingga waktu untuk eksplor tempat tidak terlalu panjang. Mungkin hanya 15 menit – 20 menit saja. Museum Bank Mandiri Surabaya isinya sedikit, hanya dua petak ruangan kecil yang dipisahkan dinding dan pintu kecil pula. Di sana ada uang-uang kuno, dan data-data perbankan, hingga contoh absen karyawan dan mesin tik zaman dulu kala. Buat kamu yang memang suka sejarah perbankan, nggak ada salahnya mampir ke Museum-museum Mandiri (ada di banyak kota, kok –termasuk Jakarta, tak hanya di Surabaya. Bahkan yang di Jakarta lebih besar dan punya satu gedung museum sendiri).

This slideshow requires JavaScript.

Usai dari sana, kami hanya berkeliling Museum House of Sampoerna, sebab tidak bisa lagi ikut bus untuk jam 3. Dalam sehari, kita hanya boleh ikut 1 trip/rute saja, tujuannya agar bisa gentian dengan peserta lain yang juga tertarik ikut tur. Setelah puas mengambil beberapa foto, saya dan Desi melipir makan di Warung SS sambil ngobrol random. Kami membahas tulisan, teman, dan kota Surabaya sendiri. Menurut Desi, Surabaya sebenarnya punya beberapa sudut kota tua tapi kurang terawat. Ia bertanya apakah Jakarta sama panasnya dengan Surabaya. Wow, jujur ketika saya menginjakkan kaki pertama kali di Surabaya dan melihat isi kotanya, saya langsung terpikir bahwa kota itu mirip sekali dengan Jakarta. Panasnya, keramaiannya, bahkan mal-mal besarnya yang… sudahlah, saya enggan bahas mal dalam postingan liburan. Hahaha.

Di Malang, kota tuanya masih terawat bahkan bagus buat difoto –setidaknya menurut saya pribadi. Sedangkan di Surabaya, kota tuanya tampak sama aja dengan sudut-sudut kota biasa, digunakan untuk toko dan tempat perdagangan sehari-hari. Bisa dibilang, ya tidak terlalu menarik untuk difoto, sih. Tapi mungkin saya harus eksplor sekali lagi, agar bisa lebih puas melihat seisi kotanya. Hihi.

Karena cuacanya mendung, akhirnya Desi mengantarkan saya sore itu ke Terminal Purabaya untuk pulang kembali ke Malang. Kebetulan hari itu hujan juga, jadi telat sedikit saja bisa bikin basah kuyup. Dan terlebih, saya tidak ada persiapan bawa payung, jaket, atau jas hujan. Hiks.

(Visited 124 times, 1 visits today)

8 Thoughts to “#JawaTimurTrip 5: Perjalanan Sehari Ke Surabaya: Melihat Koleksi Museum Santet, Gerbang Dunia Lain, dan Tur Bareng Bus Sampoerna!”

  1. Agak horror juga ya hawanya hehe. Beberapa hari lalu sempet denger Museum Santet ini dari temen… kirain isinya apa… Tapi tetap kelihatan serem serem sedep sih ya

    1. Bisa dibilang, Museum Santet adalah museum yang paling spooky yang pernah saya datangi. Saya sering ke Fatahillah – Jakarta, di sana ada banyak cerita dan bekas penjara bawah tanah pada zaman Belanda, tapi saya tidak pernah merasa seserem itu. Hahaha. Atau mungkin karena faktor sepi juga. Hanya ada 3 orang selain saya yang kebetulan mampir hari itu. Museumnya tidak terlalu ramai pengunjung, entah karena hari kerja, saya tidak paham. Tapi cukup senang pernah ke sana, setidaknya selagi museum itu ada, saya sudah pernah mampir 😛 Tapi semoga akan terus ada 😀

  2. ahh akhirnya melihat tempat kuliah dan gedumng tempat saya konsultasi thesis dulu, tar saya mau mampir kesitu jg kalo mau ke surabaya, lama ga ketemu dosen saya

    eh btw itu ada nama saya kok ga dikasih link ke blog saya gitu, biar saya ikutan ngetop disini haghaghag

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *