IMG_0456

Ketika saya pulang dari trip akhir tahun kemarin, banyak yang bertanya,

Sempat ke Batu atau Bromo, nggak, nih? Terus apa enaknya ke Malang tanpa mengunjungi minimal salah 1 dari 2 tempat tersebut? 

Orang-orang kerap mengidentikkan Malang sepaket dengan Batu atau Bromo. Seorang kawan saya pun sampai bilang, sayang banget lo kalau ke Malang tapi nggak ke Bromo. Belum pernah ke Bromo, kan?

Saya menghargai pendapatnya, sama seperti orang-orang yang bilang, sayang banget lo nggak nonton film anu, soalnya box office, meledak di 10 negara! Misalnya, sedangkan saya inginnya nonton sebuah film Indonesia yang meledak di 1 bioskop saja tidak. Nah, saya adalah Taurus keras kepala yang lebih senang melakukan apa yang saya mau ketimbang apa yang disukai orang lain. Saya hidup dengan cara saya sendiri, bukan dari keinginan orang lain. Makanya, sifat ini terbawa-bawa dalam keseharian dan dalam semua hal yang saya lakukan, salah satunya ketika liburan.

Saya pernah kok liburan mainstream –datang ke tempat-tempat yang ramai dikunjungi wisatawan, sering malah. Ketika ke Dieng, ke Jogja, ke Puncak. Tapi ketika ke Malang, saya liburan saat kepala saya mumet parah dan saya hanya ingin liburan untuk menenangkan isi otak. Kak Ayu bilang, kali ini kamu liburan selow aja. Kita jalan-jalan keliling kota. Sebenarnya, apa menariknya keliling kota kecil, kan? Hampir tak ada. Tapi saya berpikir, mungkin saya harus belajar melihat hidup dengan lebih selow, setidaknya 7 hari saja selama trip itu.

Akhirnya saya mengiyakan, dan kami pun mencoret Batu dari daftar tempat yang hendak dikunjungi. Jadi, selain alasan long weekend dan Batu memang penuh sekali saat itu (ditambah jalanan macet parah), saya memang sedang tertarik untuk liburan selow. Bromo memang sejak awal tidak saya masukkan ke dalam daftar, sebab saya sedang tidak ingin menahan dingin, ke gunung, whatever. Saya hanya sedang ingin liburan santai, melihat sekeliling, menikmati angin Malang, dan melupakan bahwa saya masih punya deadline kerjaan atau cicilan bulanan. Dapat poinnya, kan? Saya hanya ingin mengademkan kepala.

Lalu, mungkin orang-orang penasaran, ngapain saya liburan jauh-jauh dari Jakarta ke bagian Timurnya Pulau Jawa, kalau saya nggak mendatangi tempat-tempat indahnya. Saya bingung juga kalau disuruh sebutkan alasan yang bagus, sebab saya tak punya alasan ketika melakukan itu. Saya hanya ingin liburan, saya ingin tenang, saya ingin motret, dan saya ingin datang ke tempat ke mana kaki saya membawa.

Jadi, kebanyakan destinasi saya di Malang selain candi adalah kuliner. Wisata kuliner, nggak juga. Nggak bisa dibilang wiskul, sebab saya tidak khusus mengincar tempat-tempat makanan khas Malang. Saya hanya mendengarkan rekomendasi orang-orang Malang atau yang pernah ke Malang (jangan tanya siapa, googling aja. Untuk itulah mesin pencari diciptakan orang-orang cerdas di muka bumi ini).

Salah satu tempat yang saya suka namanya Illy’s Kafe. Tempatnya nempel ke salah satu pusat perbelanjaan yang tidak terlalu besar di tengah kota Malang, namanya Lai-lai. Tempatnya seperti Superindo atau Foodhall kalau di Jakarta, pusat perbelanjaan sehari-hari, kemudian di sampingnya nempel tempat makan –itulah Illy’s. Harganya jangan ditanya, kamu bawa gajimu dari Jakarta kemudian makan di Malang, pulang-pulang bisa jadi Baymax. Bahkan untuk rate sebuah kafe, harga makanan dan minumannya tergolong murah. Separuh dari harga makanan di kafe Jakarta. Saya membandingkannya dengan Kedai Kita (yang berlokasi di Meruya, dekat kantor saya itu), harga menu Illy’s separuhnya untuk makanan yang serupa. Menu mereka serupa, harga yang tak sama.

This slideshow requires JavaScript.

Tapi itu wajar, mengingat kota kecil memang tingkat penghasilannya tentu berbeda dengan kota besar apalagi ibukota. Selain itu, saya juga mampir ke HoutenHand, sebuah kafe bar kecil yang baru buka sore hari dan nemplok di sebuah gedung yang jauh lebih tinggi daripada dirinya sendiri. Di sana orang-orang ngebir, dan rata-rata juga yang main ke sini cowok. Semakin malam semakin tidak ada cewek yang nongkrong –kecuali datangnya sama cowok. Saya merasa tertantang ketika Kak Ayu menanyakan apa saya mau masuk ke sana malam itu. Ya maulah, saya nggak takut masuk ke kafe cowok. Saya hanya berpikir, mungkin ini sama seperti Coffee Bar di Margonda, Depok. Penuh kepulan asap rokok. Tapi ternyata tidak juga. HoutenHand menyenangkan, cokelatnya juga enak. Nyum!

Lha, terus Mput nggak ngebir pas udah jauh-jauh ke sana? Ya ndak, ngebir bisa di mana aja. Cokelat enak itu belum tentu ada di kota lain. Hahaha.

Terus saya juga sempat makan Surabi Imut, tak jauh dari Stasiun Malang Kota Baru. Masih sederetan, dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Di sanalah yang saya bilang bawa Rp 10.000,- perak juga nggak bakalan habis, masih cukup untuk beli seporsi surabi beserta minum dan dapat kembalian Rp 1.000,- atau gopek untuk beli bonbon. (((bonbon)))

Ada pula kisah mengenai tahu lontong dan Puthu Lanang yang legend di Malang. Tahu lontong menurut saya sih lumayan, agak mirip ketoprak tapi ada sedikit perbedaan isi. Tapi so far, enak dan bikin kenyang. Sedangkan Puthu Lanang itu enak banget. Saya jadi nggak heran mengapa banyak orang bela-belain antre di sana kayak antrean Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih di Jakarta. Antrean yang tiada habisnya –kecuali makanannya yang habis. Dengan harga murah dan rasa yang enak, saya beneran nggak heran. Wajib dicicip kalau mampir ke Malang.

Ketika mau pulang ke Jakarta, sambil nunggu kereta sore, saya juga mampir ke salah satu kafe buku tak jauh dari kos-kosan tempat saya menginap. Di sana agak sepi tapi saya cukup suka makanan dan suasananya. Harganya pun tak terlalu mahal. Saya agak surprise ternyata Malang juga punya kafe buku. Bukan menyepelekan kota kecil, tapi mengingat di kota besar saja jarang ada kafe buku yang bisa eksis, makanya saya pikir di Malang tidak ada kafe serupa ini! Tapi menarik untuk dicoba 😀

Intinya, makan di Malang itu menyenangkan. Rasa enak, harga murah, ada di mana-mana. Lalu mengapa saya harus merasa rugi ke Malang tanpa ke Batu atau ke Bromo? Oke, mungkin saya memang aneh, tapi saya tidak merasa rugi selama saya senang dengan liburan tersebut. Makan dan duduk-duduk mengamati orang dari pinggir jalan merupakan kegiatan rutin saya di Malang, dan saya merasa senang karenanya. Tidak ada masalah.

Mungkin suatu hari saya memang akan ke Bromo atau ke Batu seperti orang-orang pada umumnya, tapi nanti ketika saya ingin, bukan ketika orang-orang menyarankan saya ke sana. Eh, tapi saya sedang ingin ke Semarang, Lasem, atau Banyuwangi dulu sih, tahun ini. Mbuh, saya tidak punya gambaran. Kalau tercapai maka ya jalani, kalau tidak, tunda jadi resolusi trip tahun depan.

Sesederhana itu saja.

*

Alamat dan Kontak:

  1. HoutendHand:
    Jl. Jenderal Basuki Rahmat No.56, Kauman, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65119
    (0341) 362526
  2. Surabi Imut:
    Jl. Cokroaminoto, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65111
    (0341) 358450
  3. Illy’s Kafe:
    Lai Lai Market Buah, Jl. Semeru, Kauman, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65119
    (0341) 339069
  4. Library Cafe:
    Jl. JA. Suprapto 40-A2, (Ruk Malang)
    (0341) 352313
(Visited 70 times, 1 visits today)

2 Thoughts to “#JawaTimurTrip 6: Apa Enaknya ke Malang Tanpa Ke Batu atau Bromo?”

  1. ayo ke bromo!
    rugi emang kalo belum ke bromo, dan saya salah satu orang yg rugi itu hihihi

    daaan, bawa gaji ke malang pulang2 jd baymax haghaghaghag

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *