Beberapa hari belakangan ini media sosial dihebohkan dengan tagar #MakanMayit yang berupa makan malam sekaligus acara seni karya Natasha Gabriella Tontey (27thn). Acara yang berlokasi di Kemang ini seketika menuai komentar netizen tanah air sebab diunggah dalam sebuah akun gosip yang memang anyar dan komentatornya pun nyelekit.

Intinya, pada acara itu para hadirin dihidangkan makanan-makanan bertema bayi. Ada semacam pudding (atau ya semacam itu) yang berbentuk seperti new born baby yang tengah meringkuk telanjang, makanan yang disajikan dalam perut boneka bayi yang dibelek, dan ada pula makanan berbentuk otak (yang benar-benar kayak otak, ini bikin saya sedikit…. geli). Selain itu suasana tempatnya juga di-setting sedemikian rupa sehingga membangun kengerian. Para hadirin berpakaian serba putih, Natasha Gabriella Tontey sendiri berpakaian ala biarawati dan berpose misterius di foto-foto instagram.

Adanya info bahwa makanan ini juga diolah dari ASI asli seorang kawan Natasha Gabriella Tontey, dan ekstrak keringat bayi or whatever itulah yang kemudian memancing kemarahan ibu-ibu setanah air. Bahkan banyak pula anak muda yang mengecam aksi tersebut. Sebenarnya sebelum hal ini dipamerkan di Jakarta, kabarnya sudah sukses di Jepang. Latar belakangnya sebenarnya unik menurut saya. Natasha Gabriella Tontey ingin mengangkat horror yang tak biasa. Gadis yang berpostur imut ini sepertinya suka yang antimainstream, jadi ia mengangkat ketakutan-ketakutan manusia dari sisi yang lain. Inspirasinya datang dari peristiwa G30SPKI yang menjadi sejarah kelam negeri ini, pun dari kanibalisme Sumanto yang menggegerkan Indonesia bertahun yang lalu.

Ketika saya mencari-cari info mengenai #MakanMayit di Instagram, ada sebuah postingan yang panjang lebar berkata bahwa ia tak mengerti di mana benang merahnya Natasha Gabriella Tontey menghubungkan G30SPKI, kanibalisme, dengan bayi-bayi mungil yang dimakan itu. Tapi yang menarik adalah sebuah komentar lain. Kira-kira begini bunyinya..

…jika pameranmu ini sukses besar di Jepang, bukan berarti akan disambut bahagia juga di sini! Kamu tidak tahu berapa banyak perempuan yang terluka karena #MakanMayit ini.

Dan tak sedikit pula yang mengecam dan langsung menghakimi bahwa Natasha Gabriella Tontey adalah pemuja setan, anti Christ, pengikut Lucifer, dan yang lainnya. Tak heran, sih, sebab di Instagramnya juga banyak foto-foto beraroma kelam. Misalnya di salah satu postingan, ia tengah mengucapkan selamat ulang tahun buat ibunya, tapi memposting kue berbentuk peti mati dengan ukiran salib terbalik dan boneka Barbie telanjang tanpa kepala! Hahaha. Bukan saya membela atau berpihak pada Natasha Gabriella Tontey, tapi menurut saya ia punya cara yang unik dalam mengungkapkan sesuatu, bukan? Ia merayakan pengulangan tahun ibunya dengan foto ‘aneh’ mencekam, alih-alih foto riang gembira seperti yang dilakukan orang kebanyakan. Barangkali orang banyak pula mengecamnya gara-gara ini, namun melupakan sebuah pameo bahwa entah mengapa orang-orang merayakan ulang tahun dengan riang gembira, padahal hari itu ia baru saja kehilangan satu tahun lagi sisa umur yang ada.

Selera seni masyarakat kita yang sungguh bagaimana

Sebab semua orang menghujat Natasha Gabriella Tontey, maka ketika ada salah satu postingan yang tampak sedikit saja membela dia, orang-orang beramai-ramai juga menghujat postingan tersebut. Salah satu yang saya lihat adalah public figure Keenan Pearce, memposting hal di bawah ini.

Dalam postingan itu, Keenan Pearce seolah ingin mengatakan ayolah buka pikiran kalian. Tak semua hal dalam seni seperti yang terlihat mata. Kalian kadang harus melihat sesuatu dari berbagai sisi.

Oke, anggap saya aneh, tapi saya sebisa mungkin tak ingin menuliskan hal-hal yang memojokkan Natasha Gabriella Tontey atau pun membela netizen kebanyakan. Saya ingin melihat #MakanMayit dari sudut pandang saya sendiri. Menurut saya, sih, kondisi Jepang dan Indonesia saja jelas berbeda. Adalah hak Natasha Gabriella Tontey –tentu saja, untuk berekspresi dan menuangkan pikirannya, baik yang normal maupun yang paling horror/sakit jiwa, sebab ia pun seorang seniman muda. Tapi, ada tapinya, nih. Indonesia yang merupakan negara berbasis agama tentu tak bisa menerima hal ini begitu saja. Jepang tak terlalu peduli pada hal ini, mungkin karena mereka melihat seni dengan lebih luas. Ayolah, jangan marah-marah pada Mas Keenan yang manis itu sebab ia menyuruh kita melihat sesuatu dengan lebih luas. Poin Keenan ada benarnya, sebab kita terkurung dalam ketentuan agama dan norma yang baik-baik saja, kita akan langsung mengecap hal-hal yang tampak buruk di mata sebagai sesuatu yang penuh cela. Ini masalah perspektif –sekali lagi, ini menurut saya.

Mungkin #MakanMayit memang tak seharusnya ada di Indonesia. Masyarakat kita takkan siap menerimanya sekarang. Entah nanti, mungkin iya mungkin juga tidak selama-lamanya. Kita masih menjunjung tinggi kebaikan dan kebaikan lainnya, kita tak terbiasa dengan yang gothic, kelam, emo, dan hal-hal kurang wajar lainnya.

Terus ada juga yang ‘memarahi’ Natasha Gabriella Tontey sebab ia menggunakan seragam biarawati dan katanya salibnya terbalik. Saya tidak bisa melihat jelas apakah salibnya beneran terbalik atau tidak sebab penerangan fotonya agak kurang. Dalam hal ini mereka menganggap bahwa Natasha Gabriella Tontey telah mencemari agama yang mereka anut, padahal Natasha Gabriella Tontey bukan orang pertama yang mengenakan seragam dan salib terbalik. Sebelumnya, penyanyi kontroversial Lady Gaga pernah mengenakan seragam hitam ala biarawati dengan simbol salib terbalik pada bagian kelaminnya dan makan rosario di video klip Alejandro.

Kemudian siapa yang menciptakan itu? Natasha Gabriella Tontey? Lady Gaga? Kita mau tak mau harus mengakui bahwa hal-hal kelam itu ada. Pemuja setan itu ada, satanic itu ada, segala hal baik dan jahat itu pasti ada di muka bumi. Yin dan Yang. Seimbang. Tapi masalahnya kita di Indonesia kadang tak mau menerima kenyataan bahwa hal itu ada. Natasha Gabriella Tontey menggunakan ini dalam karya seninya, dan semua orang menghujatnya mencemarkan sebuah agama. Kemudian bagaimana kira-kira kalian akan menghujat para penganut satanic yang berada somewhere di sudut bumi ini?

Di sisi lain, menurut saya sedikit ‘kesalahan’ Natasha Gabriella Tontey adalah sebab ia tak bisa menjelaskan karya seninya yang kontroversial dan tak lazim itu. Orang-orang beramai-ramai menghujatnya, kemudian ia menutup akun Instagramnya, dan akhirnya membukanya lagi keesokan hari serta melakukan wawancara dengan beberapa media online terkait hal tersebut. Tak ada alasan yang memuaskan saya selain, ya itulah karya seni menurut saya. Walau saya tahu, imajinasi manusia adalah sebuah kedalaman yang sangat luas. Apa yang ada dalam kepala Natasha Gabriella Tontey belum tentu bisa dijangkau oleh kepala saya, kepala kamu, kepala kita semua. Begitu pula sebaliknya.

Celakanya, Natasha Gabriella Tontey tak bisa pula menjelaskan ini kepada khalayak ketika netizen menuntut pertanggungjawaban atas #MakanMayit

Sejatinya tak pernah ada yang salah dengan imajinasi, dengan karya seni. Saya suka melihat ketrampilan teman-teman seniman yang saya kenal. Saya selalu merasa mereka keren sekali sebab imajinasi mereka seperti punya kedalaman yang tak terhingga dan tak pernah kehabisan bahan untuk menulis, melukis, berbicara, berpikir, melakukan hal-hal lainnya dengan seimbang. Jiwa seni adalah salah satu hal paling berharga dan keren yang mungkin dimiliki anak manusia.

Sederhananya, kita menyalahkan imajinasi liar Natasha Gabriella Tontey sebab tak bisa menerimanya. Padahal imajinasi sejatinya tak pernah salah. Yang membuatnya salah adalah penolakan kita. Tapi sekali lagi, negara yang agamis tak akan pernah sejalan dengan imajinasi-imajinasi berengsek para seniman.

Tak akan pernah.

(Visited 306 times, 1 visits today)

4 Thoughts to “Pesta Jamuan Makan Mayit ala Natasha Gabriella Tontey dan Selera Seni Orang Indonesia yang Sungguh Bagaimana”

  1. Paragraf terakhir itu hmm dirimu malah mempersempit hakikat seni itu sendiri. Seni tak terbatas ikatan, ruang, waktu & definisi. Kalau ada dikotomi seperti itu ya habislah sudah. Mungkin sudut pandang yg harus diperlebar & diperluas. Agar seni tak hanya terbatas pada ide-ide liar saja.

    Masalah makanmayit yg saya baru tau itu, ya namanya juga ide aneh, pangsa pasarnya dan yg punya pikiran seaneh itu tentu juga tak banyak toh. Konsekuensi begitu ya emang harus ada.

    Btw kalo yg dimakan macam itu entahlah saya bisa kemakan apa tidak, ngeri jg euy hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *