Dok. pribadi (Taman Sari, Jogja)

Hari ini masyarakat dunia –termasuk Indonesia, beramai-ramai merayakan hari perempuan internasional. Pada kesempatan ini pula aktivis feminisme beramai-ramai menyerukan suara dan tuntutan mereka. Setelah membaca mengenai kegiatan Women March tempo hari itu, ditambah dengan artikel 10 hal yang salah kaprah mengenai Feminisme yang sudah saya baca di sebuah portal feminis, membuat saya merasa tak ada salahnya untuk ikut menyerukan sesuatu. Saya bukan aktivis, pun tak ingin mengaku-ngaku feminis, tapi anggaplah apa pun yang kerap saya tulis mengenai perempuan khususnya di Indonesia, merupakan wujud nyata suara saya sebagai seorang perempuan saja.

Jika ada yang menganggap saya feminis atau anti patriarki, akan saya anggap sebagai kehormatan tersendiri nantinya.

Well, sejujurnya tak ada yang bisa saya harapkan di Hari Perempuan Internasional 2017 ini selain sebuah tempat yang ramah pada perempuan. Seperti yang kita semua tahu, perjuangan untuk menuntut kesetaraan dan kelayakan bagi perempuan sama sekali belum selesai. Bahkan saya tak yakin ini sudah separuh jalan. Beberapa data menyebutkan bahwa masih banyak perempuan yang menjadi korban KDRT, kekerasan dalam pacaran, perkosaan, pelecehan seksual di tempat umum, bahkan yang (dianggap orang) paling ‘sederhana’, bernama cat calling.

Pertanyaan besarnya, apakah perempuan Indonesia sejatinya sudah hidup nyaman?
Tidak.

Apa perempuan Indonesia merasa sangat aman keluar rumah bahkan di malam hari?
Fu*king NO.

Apa perempuan Indonesia sudah mendapatkan hak yang layak bagi kenyamanan dirinya?
Males jawabnya.

Sejatinya, perempuan Indonesia masih sangat terkurung dalam norma-norma yang merugikan dirinya, baik norma yang diatur lingkungan sekitar atau bahkan orang terdekat seperti keluarga, suami, saudara, dll. Ibu saya pernah mengatakan pada saya, jangan pulang malam, nanti kamu dikira lonte sama orang-orang. Tak apa ya kata lonte tak saya beri tanda bintang atau sensor? Saya sejujurnya muak dengan anggapan kuno seperti ini. Pertama saya orang media, saya terbiasa pulang malam, pulang pagi, bahkan tak pulang jika diperlukan. Siapa yang peduli dengan anggapan lonte? Mereka tak membayar apa yang saya makan, tak tahu apa yang saya kerjakan di kantor. Kedua, ini Jakarta, kota besar di mana segalanya berpusat. Transportasi online ada 24 jam –kapan saja saya ingin pulang. Ketiga, saya sebenarnya sempat agak surprise sebab hal serupa itu keluar dari mulut ibu saya sendiri, tapi saya tak begitu peduli, sih. Keempat, saya ingin sekali menertawakannya keras-keras. Kelima, sekalian aja –saya merasa miris.

Perempuan di Indonesia itu, kalau pulang malam, suka jadi bahan bisikan tetangga katanya. Tapi lelaki tidak. Mereka bebas keluyuran ke sana ke mari sesuka mereka bahkan jika itu bukan untuk bekerja! Siapa peduli jika anak bujang pulang pagi? Malah orang-orang akan berpikir ia pekerja keras, entah jika ia baru saja dari tempat prostitusi. Tak ada yang tahu sama sekali. Tapi perempuan akan dianggap lonte oleh kebanyakan orang jika kedapatan pulang pagi apalagi jika diantar teman lelaki –meski si lelaki adalah rekan sekantor baik hati yang tak tega membiarkannya pulang sendirian malam hari.

Lihat betapa kejamnya masyarakat kita memperlakukan makhluk bernama perempuan. Sebagai perempuan, saya sering sakit hati dengan kenyataan menyebalkan ini. Ditambah lagi lelaki-lelaki iseng yang setiap hari melakukan cat calling di pinggiran jalan, yang mengira itu hanya keisengan biasa dan tidak menimbulkan efek negatif. Mereka mungkin mengira itu sah-sah saja demi kesenangan pribadi.

Masih banyak pula yang menganggap lebih baik perempuan tak usah bersekolah tinggi-tinggi, nanti juga endingnya menikah kemudian menghabiskan keseharian mereka di dapur, mengurus anak dan suami. Padahal untuk mengurus anak dan menjaga diri agar tidak dibodohi lelaki meski berstatus suami dibutuhkan kecerdasan tersendiri –dan lulusan sebuah kampus masih sangat lebih baik ketimbang lulusan Sekolah Dasar. Ironinya, pandangan ini seringkali datang dari keluarga inti, seolah tak ingin nasib anak perempuannya berubah dan menjadi sukses. Banyak keluarga berlomba-lomba mengirim anak lelakinya studi jauh-jauh, tapi kerap melarang anak perempuannya keluar bahkan ke kota seberang, bahkan sejengkal dari rumah. Melepaskan perempuan yang ‘terkurung’ dogma serupa ini saya pikir bisa dijadikan wishlist di Hari Perempuan Internasional.

Kemudian setelah anak perempuan beranjak dewasa, lingkungan dan keluarganya sendiri akan memaksanya menikah segera –sebab takut dicap perawan tua. Ini kekejaman lainnya. Bahkan ketika mereka belum ingin menikah, orang beramai-ramai menyodorkan lelaki-lelaki yang dianggap mapan dan rupawan serta baik budinya. Tak peduli si perempuan suka atau tidak, sodorin terus!

Setelah itu perempuan akan ditanyai mengapa belum kunjung hamil, kapan rencana punya anak? Dan siklus menyedihkan ini terus terulang dan terulang lagi dalam sejarah hidup manusia. Semuanya seperti lingkaran setan. Jika Soe Hok Gie masih hidup, mungkin beliau akan berkelakar, ini adalah lingkaran setan yang tak satu setan pun tahu. Hahaha.

Tapi kemudian, ketika perempuan menyuarakan hak-hak kaum mereka, orang-orang akan beramai-ramai lagi berkata, wah feminis! Kerjanya nuntut mulu! Feminis itu ateis, feminis itu berpakaian seenaknya bahkan telanjang! Feminis itu urakan! Mintanya setara sama laki-laki, emang mau disuruh kerja kasar?

Bahkan perempuan lagi-lagi salah ketika sedang membela sesamanya.

Tapi apa masyarakat awam tahu, bahwa banyak juga lelaki yang menjadi feminis? Mereka adalah orang-orang yang mengerti, bahwa feminis bukan sekumpulan perempuan ateis doyan telanjang yang banyak maunya. Mereka adalah lelaki-lelaki yang mengerti, untuk memanusiakan perempuan dan mengembalikan hak yang seharusnya didapatkan. Dan apakah masyarakat kita tahu bahwa feminis tak pernah ingin menyaingi kekuatan lelaki? Bahwa feminis kerap kali hanya berbicara tentang kenyataan-kenyataan yang ada.

Masyarakat kita sudah terlanjur menyembah budaya patriarki, padahal menjadi feminis tidak sama dengan menolak patriarki. Hanya saja, pada sikon-sikon tertentu, sebagai manusia setidaknya, perempuan selayaknya mendapatkan kenyamanan dan keamanan bagi dirinya sendiri di atas tanah kelahirannya sendiri dari orang-orang terdekatnya sendiri; tidak dilecehkan, tidak direndahkan, tidak dicap negatif bahkan tanpa penjelasan berarti, jalan malam tanpa khawatir, tidak dikatai jika belum menikah usia 30 tahun/ke atas, tidak diteror masalah kapan punya anak,  tidak dituntut harus selalu di dapur/sumur, tidak dibatasi pendidikannya. Meski entah kapan cita-cita para aktivis itu akan kesampaian.

Entah.

Tapi Selamat Hari Perempuan Internasional 2016, perempuan-perempuan Indonesia. Perjuangan puluhan tahun ini, semoga berakhir baik suatu hari nanti.

Jika bukan kita yang merangkul sesama kita, memangnya siapa lagi?

*

Rabu, 8 Maret 2017
Malam di mana Pandai Besi mulai menguarkan nyanyiannya

Siapa yang berani bernyanyi akan dikebiri
Siapa yang berani menari kan dieksekusi
Karena mereka beda misi, mereka paling suci
Lalu mereka bilang, bilang kami jalang~

(Visited 16 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *