Photo Credit: Pexels

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan bertemu dengan seorang kawan SMA. Saya pikir, saya sudah pernah menceritakan mengenai beliau sedikit di blog pribadi ini –entah, sudah lama sekali mungkin. Intinya, kawan saya itu merupakan salah satu karib saya semasa SMP bahkan hingga kuliah masih berinteraksi beberapa kali. Sempat terjadi drama dalam pertemanan kami, sebab ia introvert sejati dan saya intro-ekstrovert tergantung kebutuhan. Terkadang ada sedikit masalah kecil ketika saya didekati teman baru dan lebih cepat membaur bersama mereka. Tapi, tak apa, meski begitu, saya senang berteman dengannya.

Ia mengajak saya mencoba menulis cerpen pertama kali, dan saya pikir terima kasih yang seharusnya saya ucapkan padanya melebihi ucapan terima kasih di lembaran buku. Karena menulis saya mendapatkan banyak hal –teman baru, komunitas, materi, bahkan royalti untuk menyelamatkan sisa-sisa semester kuliah saya dulu. Saya belum sempat mengucapkannya langsung, sebab rencananya saya ingin memberikannya salah satu buku terbaru yang akan saya tulis entah kapan.

Kemarin, kami bertemu lagi setelah kurang lebih 4 tahun dari pertemuan terakhir. Waktu itu saya pulang ke Padang karena ayah saya sakit (dan kemudian beliau juga berpulang beberapa waktu sesudahnya). Sebelum hari itu, kami tak bertemu kurang lebih 2 tahun –sejak 2011, kelulusan sekolah. Kalau mau ditotal, pertemuan kami sejak 2011 hampir tak ada. Hanya satu dua jam pertemuan saja. Padahal, ada banyak sekali yang mungkin sama-sama ingin kami bagikan. Bagi saya ia teman yang asyik. Ia menemani saya sejak saya kucel dulu, hahaha. Meski agak tomboi, tapi ia pernah jatuh cinta bertahun-tahun pada lelaki yang sama.

Sekarang, ketika kami bertemu lagi, hal pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “aku nggak betah di kota ini.” –merujuk pada Jakarta. Ia kala itu baru terbang dari Jepang usai merampungkan sebuah program yang didanai kampusnya, kemudian singgah ke Jakarta karena ingin bertemu beberapa orang termasuk menunaikan janji kami untuk ketemu lagi. Kami haha-hehe sebentar untuk membahas betapa sumpeknya Jakarta dan perbedaannya dengan kota-kota kecil, termasuk kota kelahiran kami. Nah ini, terkadang jika melihat biodata teman lain yang lahirnya di Jakarta bahkan New York, saya suka sedikit iri dan berpikir seandainya di akta kelahiran saya tulisannya Amsterdam, misalnya. Tapi ketika saya telaah lagi, saya bangga juga pada kota Padang di sebelah Baratnya Sumatera itu. Saya pikir itulah bucket sempurna dalam hidup saya; sebuah tanah kelahiran yang kaya budayanya, kulinernya, alamnya, dan tentu saja kaya kenangan masa kecil yang saya simpan baik-baik dalam memori kepala. Sejak itu saya tak lagi menyesali New York, Jakarta, bahkan Amsterdam. Hahaha.

Ia –kawan saya itu, juga bercerita mengenai Jepang. Ia bilang, lebih menyukai Kagoshima –alih-alih Tokyo. Kagoshima adalah sebuah sudut kecil Jepang, tempatnya masih adem tapi jauh lebih teratur tentu saja daripada kota-kota kecil di negara kita. Katanya, Tokyo itu seperti Jakarta –hari berlalu terlalu cepat tanpa kita sadar sudah berbuat apa saja hari ini, umur terlalu cepat habis terkikis. Pada dasarnya, saya setuju dengan pendapat teman saya itu sepenuhnya. Tapi Jawa juga tak jelek, meski kami asli Sumatera dan saya selalu rindu Padang. Saya bilang, kamu baru lihat Jakarta, pergilah ke Jawa yang lain. Lihat Malang, Blitar, Kediri, Lasem, saya selalu datang dan selalu ingin datang ke kota kecil tiap kali saya merasa hidup saya sudah jenuh. Dan itu menenangkan.

Kepalanya mengangguk, mengiyakan, suatu hari kita akan traveling bersama –katanya, dan saya senang dengan pernyataan itu. Kemudian, kami tiba juga pada pertanyaan yang seharusnya ditanyakan oleh perempuan yang reuni (baca: baru bertemu lagi) di usia pertengahan 20-an. “Kapan nikah?”

Kami sama-sama tertawa. Saya tahu ia sedang ingin menyelesaikan tesis S2-nya, kemudian mengajar entah di mana. Dari percakapan sore itu pula, saya tahu lebih banyak, bahwa ia tak ingin mengajar di kota besar melainkan di daerah terpencil, atau tempat yang baru mendapatkan akses universitas/sekolah tinggi. Aku ingin ke Jambi, ada STIKES baru dibuka di sana. Nggak ada kepikiran untuk mengajar di Jakarta, tapi tidak juga di Padang. Ah, di kota sudah terlalu banyak teknologi, anak-anaknya sudah lebih cerdas, dan dosen hanya fasilitator. Aku ingin menjadi lebih dari itu. Aku ingin sesuatu yang lebih bermanfaat bagi orang lain.

Saya mendengarkan dengan seksama sambil menyeruput cokelat yang kami pesan sore jelang magrib itu –di sebuah mal kecil pinggiran Timur Jakarta. Kemudian ia melanjutkan, Aku dan adik ingin punya tanah di desa, bertani saja. Menanam apa yang bisa ditanam, sepertinya akan menarik. Aku tak punya impian muluk-muluk, sederhana dan bahagia saja.

Seketika itu saya merasa kagum padanya. Saya, teman sebayanya, meski di ibukota tak hidup kaya raya, tapi masih belum bisa jauh sedikit saja dari teknologi. Saya bahkan belum melanjutkan studi setinggi dia. Saya punya segudang ambisi lain; ingin kuliah di jurusan yang saya sukai, ingin menjadi bagian dari perusahaan yang saya incar, ingin keliling Indonesia, entah nanti akan ingin apalagi.

“Wah, ambisimu masih banyak rupanya.” Ia tertawa. “Apa kamu juga punya keinginan yang sama dengan orang-orang kota besar pada umumnya? Punya rumah besar, naik turun mobil?”

Ganti saya yang tertawa. “Hidup bahagia menurutku adalah merdeka, bukan kaya raya. Justru merdeka dan menjadi diri sendiri seutuhnya yang susah, kan?”

Ia mengangguk-angguk paham. Kami sama-sama paham, apa keinginan kami ke depannya, tapi mengabaikan pertanyaan yang pertama sama-sama kami ajukan, kapan nikah ?

“Kalau udah ada jodohnya, aku nikah.” Kilahnya cepat.

“Kalau begitu, sebelum nikah dan sibuk di rumah, temani aku ke Kerinci.”

“Sip. Kalau aku jadi menetap di Jambi apalagi, pasti kita traveling bareng nanti”

Sore itu saya merasa ada yang lepas dari diri saya. Entah kangen, entah beban apa, entah yang lain. Saya kurang paham, tapi rasanya santai sekali. Sebab saya baru saya bercerita dan mengeluarkan unek-unek saya kepada seorang sahabat lama. Dan meski fisik kami menua dibandingkan masa SMP 10 tahun lalu, tapi saya tahu bahwa jiwa kami masih jiwa yang sama. Ia masih sahabat yang pertama kali mengajak saya menulis cerpen di atas kertas binder seperti dahulu kala.

Ia masih orang yang sama, dan saya senang masih bisa menjalin komunikasi yang baik.

Sungguh memiliki teman-teman yang baik membuat diri kita menjadi lebih hidup, bahkan ketika kita sudah menjadi perempuan berusia pertengahan 20an.

(Visited 31 times, 1 visits today)

4 Thoughts to “Hal-hal yang Dipikirkan Perempuan Pada Usia 20 Pertengahan”

  1. Put, saya senang membaca tulisan panjangmu ini. Senang juga membaca ttg temanmu & impian sederhananya. Jenius sekali.

    Temenmu keren, kalian anak2 muda yg keren. Salut. Smoga smua mimpi2 kalian tercapai ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *