Jadi beberapa malam yang lalu entah kenapa saya sedang ingin nonton film, tapi nggak ada film yang menarik perhatian saya. Alih-alih buka laptop dan mencari film di folder, saya malah buka Youtube dan mencari film horror. Dari sekian banyak film horror yang nganu terutama film Indonesia khususnya –akhirnya saya ketemu sebuah film judulnya Tarot. Judulnya menarik? Lumayan. Sampai ketika saya tahu bahwa film ini semacam ingin menyama-nyamai film horror Thailand berjudul Alone yang seremnya sialan itu. Karena sebelumnya suka dan berkali-kali menonton Alone, saya tidak asing dengan premisnya –sepasang anak perempuan kembar yang mencintai satu orang lelaki, yang jahat ingin menyingkirkan yang baik, kemudian menguasai lelaki tersebut.

Pertanyaan besar saya yang pertama,

Mengapa orang-orang kebanyakan lebih suka menyama-nyamai, meniru, ketimbang terinspirasi dari hasil karya orang lain?

Okelah, kita tidak bisa bilang bahwa jalan cerita Tarot sama persis dengan Alone, tapi ketika kamu biasa menulis cerita atau membaca buku atau menonton film, kamu akan tahu yang namanya benang merah, satu hal yang membuat kedua cerita menjadi terlihat sama. Dan itulah yang bisa saya tangkap dari Tarot.

Singkat saja, tanpa spoiler berlebih, Tarot berkisah mengenai dua orang saudari kembar Julie dan Sophia. Julie perempuan yang cantik dan menarik, sementara Sophia sebaliknya, bahkan ia tak punya semangat hidup. Ia benci Julie dalam segala hal, sebab merasa orang-orang lebih memperhatikan Julie dan mengidolakan saudarinya itu. Sampai ketika ia mencintai lelaki bernama Tristan pun, Tristan memilih Julie. Selanjutnya tonton sendiri. Ini entah mengapa (kebetulan?) bisa sama dengan premis Alone, ketika seorang saudari kembar siam yang menolak berpisah raga dari saudarinya sebab tak ingin saudarinya menikah dengan seorang lelaki yang sama-sama mereka cintai. Ia tak ingin saudarinya memenangkan lelaki itu, sebab ia tahu lelaki itu sudah menunggu untuk melamar saudarinya.

 

Meski kemudian terdapat perbedaan sedikit, tapi film ini mengarah kepada ending yang sama. Pada pertengaha film Tarot dikisahkan yang hidup adalah Julie, sosok protagonis. Sedangkan di film Alone sebaliknya. Tapi kemudian entah gimana-gimana kejadiannya, si lelaki sama-sama dalam keadaan terpojok dan marah, marah sebab kembaran sang istri mencoba menipu mereka.

 

Oke, saya lelah menceritakannya panjang-panjang. Jadi, intinya apa yang ingin Mput protes dari film Tarot? BANYAK.

Pertama, nih, ya, pertama.. saya merasa tarotnya hanya sebagai tempelan, bahkan kesannya maksa. Okelah Julie dan Tristan diperingatkan mengenai kejadian yang akan menimpa mereka lewat sebuah pembacaan kartu tarot. Tapi ‘peramal’ (di film ini namanya peramal, padahal harusnya biasa pembaca tarot disebut tarot reader) menegaskan bahwa ramalannya tak pernah salah. Saya ulangi, tak pernah salah dan tak pernah meleset! Sampai di bagian ini saya agak emosi dibuatnya. Sebab setahu saya, selama belajar menebar tarot, tarot sama sekali bukan ramalan, tarot itu membaca kehidupan. Seorang kawan yang juga mentor saya selalu bilang, jangan percaya bahwa apa yang baik akan tetap baik pada akhirnya, pun yang buruk. Sebab dalam kehidupan manusia ada proses, dan jika manusia bergerak lebih baik, hasil tarot yang awalnya jelek bisa menjadi baik, dan sebaliknya lagi. Kemudian peramal tarot di film ini bilang bahwa hati-hati kalian, ramalan saya tak pernah meleset! seolah ia adalah tangan kanan tuhan di bumi.

Apa yang ingin kamu katakan?

Saya ingin ngacak-ngacak mejanya.

Kedua, ketika Tristan menelpon dan meminta diramal sebab ia ragu akan sesuatu, Tristan bilang apa saya harus ke tempat Tante sekarang ?

Dan ‘peramal tarot’ itu bilang, nggak Tristan, kita sama-sama peramal tarot, saya bica membaca kamu meski dari jauh.

Sebenarnya ya mbak, banyak sekali tarot reader bisa membacakan tarot dari jauh meski kliennya ada di jarak jauh dan meski si klien sama sekali bukan pembaca tarot seperti mereka. Jarak jauh dan status atau titel tarot reader tak ada hubungannya sama sekali, entah kalau ‘peramal tarot’ seperti yang dimaksudkan film ini. Intinya, film Tarot seperti ingin menegaskan kepada penonton awamnya bahwa tarot adalah ramalan. Memang, rata-rata awam sudah berpikiran demikian semenjak zaman batu, seolah tarot adalah ilmu dukun yang bisa menebak masa depan dan kehidupan mereka berikutnya, padahal menurut saya nggak juga.

Berkali-kali juga saya menolak membacakan kawan yang excited karena merasa tarot bisa meramalkan masa depannya, atau memperingatkan kawan yang sudah ‘dibaca’ agar tidak membawa hasil bacaan sebagai sugesti. Buat saya, orang boleh tahu hasil bacaan, tapi mereka harus menjalani kehidupan seperti biasa. Tidak ada sugesti atau apa pun. Dan bagi saya, tarot sama sekali bukan ramalan. Entha zodiak ya, soalnya itu bukan zona saya sama sekali.

Kemudian, yang paling menyebalkan dari film Tarot adalah ketika saya tahu bahwa perjalanan endingnya tak ada beda dengan Alone. Saya seperti menonton film yang sama dalam buatan dua negara yang berbeda, padahal saya lebih senang menonton film yang idenya orisinil. Oke, sampah banget Mput, nggak ada ide yang baru di dunia ini. Fine, tapi setidaknya cobalah lebih kreatif sedikit dalam mengolah ide-ide yang nggak asli itu, ye, kan?

Mengangkat tarot sebagai inti film sebenarnya bahkan menarik banget, dan bisa membuat film ini berbeda dari yang lain andai saja film ini tidak meniru-niru konsep dan benang merah film Alone produksi Thailand itu. Juga jika film ini tidak salah kaprah dalam menjelaskan/menggambarkan tarot yang sesungguhnya.

Well, saya bahkan tak punya kata penutup untuk postingan ini.

Demikian.

(Visited 77 times, 1 visits today)

6 Thoughts to “Nonton Tarot: Mengapa Orang-orang Lebih Mudah Meniru Ketimbang Terinspirasi?”

    1. Hahaha, aku belum pro, om. Sejujurnya aku sering takut bacain juga. Apalagi kalau orang yang ingin dibacain terlanjur penasaran tingkat tinggi. Aku nggak mau orang berharap/justru takut dengan apa yang dikatakan kartu. Selalu aku tegaskan bahwa apa yang keluar belum tentu akan terjadi. Tapi, kalau dirimu mau, apalagi hanya untuk bersenang-senang, ayo kita coba~ hehe.

        1. Caranya, om tinggal milih aja mau dibacakan soal apa. Ada 2 cara biasanya: lewat cerita atau tanpa cerita. Kadang teman-temanku suka curhat dulu, baru kemudian dibacain, atau ada yang hanya sekadar iseng, ya pengin tahu aja, gak perlu cerita apa pun (masalah/kebingungan,etc).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *