Coretan

Mengapa Mput Jalannya (Terlalu) Cepat?

Sudah berulang-ulang mendapatkan pertanyaan tersebut di atas, yang terakhir Sabtu kemarin. Saya keluar dari gang tempat saya tinggal, dan hendak menghampiri driver ojek online yang saya minta tunggu di depan gang. Nah, di depan saya ada mas-mas gang sebelah yang juga hendak ke masjid (waktu itu pukul tujuh kurang), kemudian saya masih asyik berjalan sendirian. Kelamaan, jalan saya semakin cepat dan sejajar dengan masnya. Lalu semakin cepat dan hampir mendahului, tapi masnya menyapa, “cepet banget jalannya, Mbak.” Ia tersenyum ramah.

Saya bukan orang yang senang menanggapi obrolan orang nggak dikenal di tengah jalan –terlebih saya tidak mengenai dia secara langsung. Tapi karena nada bicaranya tak terdengar ‘nakal’ atau iseng belaka, jadi saya jawab sambil terkekeh, “iya nih, Mas. Kalau sendirian kan malas jalan lama-lama.” Dia mengangguk, “Saya kira buru-buru banget, Mbak.”

Sebenarnya percakapan pendek itu berakhir ketika driver saya datang. Saya nggak tahu nama masnya, bahkan nggak sempat kenalan juga. Yang saya tahu, ia memang keluar dari gang sebelah. Nggak semua orang gang sebelah juga saya kenal dengan baik –pun tak hapal bagaimana wajah mereka satu per satu. Tapi pertanyaan mas itu bikin saya mikir, apakah jalan saya secepat itu?

Sebab mas gang sebelah itu bukan orang pertama yang mengatakan hal tersebut pada saya. Sebelum ini, beberapa teman sudah pernah mengatakan kepada saya bahwa jalan saya sangat cepat –terlebih untuk ukuran perempuan. Saya nggak tahu dari mana awalnya, tapi saya bukan orang yang senang jalan berlama-lama –kecuali saya sedang bersama kawan-kawan dan harus mengimbangi kecepatan jalan masing-masing dari mereka. Lha, kalau saya sendirian ya ngapain, toh? Saya jalan cepat atau lambat juga tak ada pengaruhnya bagi orang lain, malah menurut saya pribadi berjalan cepat akan membuat saya tak buang-buang waktu; bisa tepat waktu naik angkot dan tiba di kantor misalnya, atau bisa naik kereta pas ketika keretanya tiba di stasiun misalnya, dan bermacam-macam manfaat lain.

Selain itu, saya juga suka memperhatikan bagaimana orang luar negeri berjalan. Saya mungkin bukan orang yang sering liburan ke luar, tapi nonton film dan melihat video klip sementara ini sudah cukup untuk menggambarkan betapa orang sana sangat menghargai waktu. Atau mungkin karena orang luar kebanyakan individualis, dan senang sendiri-sendiri, jadi tak ada yang mereka pertimbangkan ketika jalan kaki. Jalan ya jalan, kemudian tiba di tujuan masing-masing. Satu sama lain mungkin juga takkan ada yang ‘protes’ mengapa jalanmu cepat sekali, buddy!

Tapi memang beda juga, sih, ya. Menjadi pedestrian di sana mungkin lebih ringan selevel ketimbang di negara kita. Di negara orang, jalanannya bagus dan teratur –jelas mana yang buat kendaraan, jelas mana buat manusia yang berjalan kaki. Sedangkan di sini, motor masih pada naik ke trotoar, bahkan menegur jika manusia yang tanpa kendaraan jalannya lama. Padahal trotoar hak siapa? Memalukan sih kadang-kadang.

Saya sering mendiamkan klakson motor di trotoar Kota Tua. Bukan karena saya suka ribut, tapi karena saya tak suka hak saya dilanggar. Kalau mau cepat, gunakan jalan sendiri, jangan rebut jatah jalan orang lain. Kalau merasa jalan raya macet,  naiklah kendaraan umum biar nggak lelah di atas kendaraan pribadi. Kalau ndak mau lelah dan kepanasaran (di angkot, kopaja, dll) atau malas bayar mahal untuk kendaraan umum (semacam taksi), duduk tenang di rumah. Semuanya selalu ada ujung pangkalnya, tapi manusia di negara berkembang suka malas mikir ke mana-mana. Mereka lebih suka cepat, singkat, dan menguntungkan dirinya sendiri. Orang lain sih bodo amat.

Padahal segitu sudah jalan kaki, masih saja diganggu dan dihalangi. Saya kadang tak habis pikir dan tidak tahu lagi bagaimana caranya menghibur diri di antara kerumitan pikiran orang-orang. Warga di luar Jakarta akan melihat ini sebagai, wah Jakarta nyebelin ya, macet, sumpek, panas, blablabla. Padahal macet, sumpek, panas, blablabla itu bisa diminimalisir seandainya warganya tenggangrasa, mau memikirkan sesama, dan nggak egois di jalanan.

Tapi lupakan itu, saya tahu hal tersebut kemungkinan hanya akan jadi khayalan babu. :))

Sebab saya nggak yakin juga bahwa seluruh warga kota bisa bertindak baik dalam tempo waktu singkat. Malahan sekarang semakin banyak yang egois di jalanan. Mbuh, padahal tadi saya hanya bahas jalan kaki, terus ngelantur­-nya udah sampai ke sini. Intinya, saya sebenarnya tipe yang suka jalan kaki tapi tidak menyukai debu. Makanya, saya lebih banyak naik kendaraan umum atau transportasi online jika di Jakarta. Beda kalau saya ‘terdampar’ di Malang atau Jogja, saya bisa jalan kaki cukup jauh karena di sana sesumpek-sumpeknya pun, belum separah Jakarta sini.

Jadi, jangan hakimi orang yang kamu kira tak suka jalan kaki. Siapa tahu ia suka, tapi tak suka sikon di kota tersebut –yang kalau jalan digodain dan di-cat calling tukang bangunan maupun preman kampung yang lewat, diklakson pengendara motor yang seenaknya jalan di trotoar, diklakson mobil yang ambil jalan sampai ke pinggir-pinggir, dan sejuta hal berengsek lainnya.

Jangan salahkan pejalan kaki, jangan salahkan kotanya, tilik kembali manusianya.

(Visited 29 times, 1 visits today)

4 thoughts on “Mengapa Mput Jalannya (Terlalu) Cepat?

  1. Aku juga sebenarnya suka aja jalan kaki, tapi ya gitu bener, kalau di Jakarta mah kibar bendera putih deh, gak sanggup. Malah jadi sakit hati dan juga engap sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *