Ini postingan sedih. Setidaknya jika pembaca nanti tidak sedih saat membacanya, sayalah yang sedih ketika menuliskannya.

Alkisah, dua tahun yang lalu saya masuk ke sebuah lingkungan kerja yang baru. Di kantor sebelumnya, saya belajar bekerja dengan ketat sesuai apa yang diberikan. Saya tentu boleh bercanda termasuk kepada atasan dan bos besar, tapi pekerjaan tetap pekerjaan. Jika saya tidak pintar memilih kawan, saya bisa celaka sendiri. Sebab dunia kerja adalah pertempuran mengenai masa depan –begitulah umumnya.

Saya tumbuh dalam keyakinan itu bahkan sebelum saya hengkang dari kampus. Saya bekerja di perusahaan pertama sejak berstatus mahasiswi tingkat akhir bahkan sidang penulisan ilmiah di sela-sela kesibukan kantor. Saya meyakini itu, membawanya ke sebuah perusahaan baru –kala itu, tempat saya baru saja diterima. Sebutlah ini perusahaan kedua.

This slideshow requires JavaScript.

Tempatnya tak se-wah perusahaan lama saya, yang kalau mau pipis aja harus keluar pintu depan dan masuknya finger print lagi, begitu juga ketika hendak ke bawah membeli kopi, dan whatever apa pun kepentingan karyawan ketika keluar. Saya diajari disiplin. Datang tepat waktu, menyeduh teh atau kopi di pagi hari, jangan lupa bawa kartu karyawan agar tidak dihadang security, makan di pantry kering, mencuci peralatan makan di pantry basah, sarapan, bekerja, pulang ketika jam pulang, jangan lembur kalau tidak teramat penting.

Saya tampak sama dengan kaum urban lainnya. Sama saja.

Hingga kemudian saya masuk ke perusahaan kedua itu. Tak ada pantry kering dan basah, tak ada finger print berulang-ulang ketika hendak ke toilet, tak ada kopi atau teh hangat di pagi hari kecuali saya menyeduh sendiri. Tak ada tik-tok-tik-tok heels nona-nona sosialita. Saya seperti terdampar di dunia baru. Hari pertama bekerja, saya menanyakan di mana pantry kering dan saya merasa  agak bodoh.

Tapi saya memiliki sesuatu yang baru di sana, sesuatu yang mungkin tak semua orang berkesempatan memilikinya. Teman-teman yang solid. Tak ada yang saling menjatuhkan, semuanya seperti teman sepantaran yang asyik bermain di taman sekolah. Tertawa terpingkal-pingkal tak peduli wajahmu jelek, bernyanyi di sela-sela jam kerja, makan sebanyak-banyaknya tanpa sadar pipi jadi lebar, saya melakukan apa saja yang kemudian membahagiakan hidup saya. Saya melakukan banyak hal tak terduga bersama mereka. Saya bukan lagi kaum urban yang ke kantor dengan template manusia urban pada umumnya. Saya menjadi manusia bebas. Saya gadis kecil yang sering tertawa. Saya jadi ‘gila’ dan saya menyukainya.

Dengan mereka, saya bebas berekspresi. Hanya dua tahun, tapi rasanya seperti sudah lama sekali. Mereka menjadi sebuah kebiasaan dalam hidup saya. Dalam tiap pagi, siang, sore, dan malam saya. Seorang kawan berkata, bahwa akan bosan sekali rasanya jika pulang kerja masih jalan-jalan dengan teman sekantor. Seakan seluruh hidupmu hanya untuk menemui teman kantor. Tapi saya sering melakukannya. Saya main dengan mereka dari pagi, sampai malam dan besok paginya bertemu lagi. Bukan karena ‘seakan hidup saya hanya untuk mereka’, tapi karena dalam hidup saya yang fana ini, hanya ada mereka sebagai keluarga yang sebenarnya keluarga.

Saya bertemu banyak orang jahat dalam hidup saya –sebelum bertemu mereka. Tapi di tengah-tengah mereka, saya bisa kembali menjadi anak kecil, mengembalikan jiwa-jiwa saya yang kadang hilang karena terlalu keras menjalani hidup. Anggap saya lebay, tapi tak ada yang tahu kehidupan orang lain, bagaimana kesulitannya, selain orang itu sendiri. Dan saya kira, pun begitu adanya dengan hidup saya. Kantor kemudian menjadi tempat pulang. Ketika saya kesal atau sedih, saya bisa mengembalikan tawa saya hanya dengan berangkat ke kantor. Bahkan ketika di akhir pekan, selama sempat, saya rela menemani teman-teman lembur mengerjakan sesuatu yang sebenarnya bukan tugas utama saya.

Mereka adalah orang-orang terbaik dalam hidup saya, bahkan dalam situasi yang tak baik. Dan belakangan ini suasana sedang kurang baik. Beberapa hal genting kemudian menyebabkan sebagian besar dari mereka harus dirumahkan. Saya pikir, kami semua ada di zona nyaman, dan terlena karenanya. Selama kami memiliki satu sama lain, tak ada yang berniat pergi. Tak ada yang benar-benar pergi. Hingga sekarang semuanya satu per satu harus pergi.

Tempo hari saya pikir ini mimpi. Tapi ternyata saya tidak bermimpi. Seperti di film-film cengeng, suatu siang saya duduk di sebuah tempat makan, di mana kami sering makan siang. Dan saya melihat tempat yang biasa kami tempati beramai-ramai. Saya kemudian sadar tempat itu kosong, dan tak akan ada lagi makan siang-makan siang berikutnya. Sebab semuanya akan berpencar setelah ini. Entah ke mana. Entah menjadi apa.

Kita selalu berharap hal-hal menyenangkan akan tetap tinggal dan membeku selama-lamanya.

Tapi kita juga tahu, bahwa keinginan seperti itu sama sekali tidak mungkin.

Sore tadi saya bertemu seorang kawan, katanya wajah saya kurang cerah.

Saya jadi seperti zombie.

Sebab saya pun tak terlalu ingat kapan terakhir kali saya sepatah-hati ini.

(Visited 25 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *