Coretan

Mengenai Apa yang Saya Lihat Usai Pilkada DKI Minggu Ini

Photo credit: dari sini

Dari mana harus saya mulai tulisan ini? Sebenarnya saya sedang tidak ingin menuliskan apa pun juga, tapi beberapa hal terlalu menggelitik untuk didiamkan begitu saja. Hari Rabu kemarin, Pilkada DKI dilaksanakan, dan seperti yang bisa ditebak sebagian orang, Pak Ahok kalah. Yang menang adalah paslon 3. Mari kesampingkan mengapa mereka menang, mengapa yang lain kalah, adanya isu sembako, tuduhan penistaan agama yang menurut beberapa pihak berlebihan, dan hal-hal anu lainnya.

Pak Ahok kalah dan banyak yang bersedih karenanya. Mungkin beliau adalah sejarah seorang gubernur yang ketika harus turun malah ditangisi rakyat. Beliau gubernur yang saya lihat membuka teras ‘rumah’-nya sebagai tempat untuk rakyat mengadu. Satu-satunya yang saya tahu sepanjang hidup saya yang mungkin belum terlalu lama ini. Entah dulu.

Pencalonan dan blablabla Pak Ahok dalam Pilkada DKI kali ini diwarnai banyak hal. Tak hanya celotehan orang luar DKI yang menunding-nunding beliau, tapi juga beragam atribut beliau yang dihina-hina dan otomatis juga menghina sebagian kaum. Teriakan cina, kafir, tuduhan antek komunis, ramai didebatkan di media sosial.

Photo credit: di sini

Sebagian orang bilang, saya khawatir ingin punya anak di tengah kondisi negara seperti ini. Saya tidak mau membesarkan anak di tengah-tengah carut-marut ketidak-akuran antar etnis begini. Sebagian, lho, ya. Ada juga yang bilang, anak itu kan tergantung didikan orangtuanya.

Meski saya yakin perkembangan mental seseorang juga dipengaruhi lingkungan dan banyak hal lain, tapi mari kita iyakan saja biar cepat.

Kemudian saya sampai pada sebuah tweet, di mana seseorang ‘mengabarkan’ bahwa jika makan di food court Changi Airport Singapura, makanan akan dipisah berdasarkan halal haramnya. Mangkuk A untuk halal, mangkuk B untuk yang haram –misalnya. Kemudian seorang warganet yang lain menjawab, susah kalau negara dikuasai cina.

Hei, kalau saya sedang galak, akan saya campuri tweet itu dengan kalimat, justru negara yang dikuasai cina itu peduli pada kepentinganmu sebagai seorang muslim makanya mereka membuat tanda agar kamu tidak salah makan. Kemudian kamu bersikap sinis begitu pada mereka? Seperti tak tahu terima kasih.

Tapi untungnya saya lagi ngantuk tadi pagi, setelah pulang pagi kemarinnya. *hyak* jadi saya pikir saya tidak perlu terpancing komentar warganet yang mungkin kurang piknik dan ikut kelihatan kurang piknik. Saya sadar beberapa hal hanya perlu ditertawakan. Cuma ya sebagian orang yang suka sembarangan kayaknya nggak mempan kalau cuma ditertawakan.

Entah, saya pikir sejak Pak Ahok menjadi Gubernur DKI dan menjalankan peraturan keras, sinisme orang-orang bertambah. Orang semakin tidak toleran. Membawa-bawa embel-embel non pribumi, kafir, cina, (fitnah dan tuduhan) komunis, dan apa saja yang bisa mereka makikan pada Pak Ahok. Mungkin karena Pak Ahok terlalu ‘jahat’ pada korupsi dan tindak kejahatan bawahan, mungkin karena Pak Ahok non pribumi, mungkin karena Pak Ahok bukan muslim. Saya tidak tahu apa sebab pastinya.

Tapi jika ingin dirunutkan, mungkin begini: sebagian orang tidak menyukai atasan yang tak korup, jadi mereka mencari celah untuk menyalahkan Pak Ahok. Hingga kemudian menjadi cina dan kafir salah, padahal menurut Undang-undang memeluk kepercayaan tertentu adalah sebagian dari HAM. Sebelum hari mencoblos kemarin, nyata-nyata sebuah seruan dari masjid dekat tempat tinggal saya meneriakkan, jangan pilih pemimpin kafir. Apakah bukan muslim menjadikan seseorang sehina itu di negara yang katanya menjunjung pluralisme?

Saya cukup ngeri dengan perkembangan Jakarta belakangan ini. Sebagai warga, saya merasa toleransi semakin berkurang. Apa yang akan mereka ajarkan kepada anak-anak mereka kelak? Membenci suku lain? Merendahkan agama orang lain? Dengan begitu saya maklum sebagian orang muda malas untuk punya anak dalam kondisi seperti ini.

Kemudian masih dari negara yang sama, Singapura, saya melihat tweet orang lain lagi –orang Indonesia, yang sepertinya tinggal di sana. Ia sedang keliling kota sambil menikmati kopi paginya. Sungguh sepertinya hidup di negara yang adem dan tidak terus menerus dikacaukan isu SARA sepertinya menarik. Entah karena rumput tetangga selalu lebih hijau, atau karena memang tempat saya berpijak sekarang sudah sangat mengkhawatirkan tingkat toleransinya.

(Visited 20 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *