Coretan

Mengenai Apa yang Dipikirkan Manusia Tentang Kesendiriannya Sendiri

Photo Credit: di sini

Beberapa hari yang lalu saya membaca kumpulan puisi Aan Mansyur, judulnya Sebelum Sendiri. Bukan yang terbaru, sebab tak lama setelah saya memesan buku tersebut, Aan Mansyur kembali menerbitkan buku barunya lagi. Sebelum Sendiri cenderung tipis –dan agak di luar bayangan saya (mengenai ukurannya, sih). Diksinya masih khas Aan Mansyur banget, yang suka nyeletuk pendek-sederhana-tapi ngena gitu.

Hanya saja, karena ini bukan buku pertama beliau yang saya baca, saya jadi membanding-bandingkannya dengan judul sebelumnya, misalnya Tidak Ada New York Hari Ini. Sejujurnya pula, saya lebih menyukai Tak Ada New York Hari Ini. Emosinya lebih mengena. Mungkin juga karena puisi itu dibuat berdasarkan perasaan (fiksi) seorang lelaki bernama Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta –jadi puisinya jauh lebih hidup.

Oke, skip. Bukan itu poinnya.

Tetapi setelah saya pikir-pikir, saya rasa semua orang punya sisi kesendirian dalam dirinya. Sama seperti kata Aan Mansyur,

Banyak sekali orang di jalanan. tidak ada manusia. di puisi cuma ada kau & mereka yang tidak memiliki nama.
kalau hidup ialah permainan, aku kalah
setiap hari oleh diri
sendiri.

Nah, itulah. Saya sering merasa seperti ini: setiap kali saya pulang dari traveling ke kota yang lebih kecil dan kembali lagi ke Jakarta, saya kerap ingin merasa sendirian saja. Saya malas bertemu dengan banyak teman –apalagi yang bergerombolan sekaligus. Biasanya saya akan keluar sendiri ke tempat yang tidak terlalu ramai, atau bertemu satu orang teman dalam sehari, membeli kopi, ngobrol seharian dengannya, menulis, membaca buku, dan kemudian kembali lagi ke kamar untuk tidur serta menunggu pagi berikutnya terbit.

Saya pikir, semakin sering saya ke kota kecil, saya jadi menyukai kesendirian. Barangkali juga sebab Jakarta sudah terlalu sibuk dan sumpek. Saya tak menyalahkan Jakarta. Kita tak bisa menyalahkan seseorang karena ia terlahir sebagai perempuan atau lelaki, begitu pun kita tak bisa menyalahkan Jakarta sebab ia menjadi ibukota yang ramai dan sumpek. Sepenuhnya bukan salah Jakarta, sebab ia hanya sebuah kota. Manusialah yang menjadikannya ada atau bahkan kelak tiada –siapa yang tahu.

Ini hanya perkara saya dan diri saya sendiri. Tiap kali menyepi di kota kecil, menghirup udara segar, naik becak ke mana-mana, saya merasa jetlag ketika kembali menginjak Jakarta. Saya merasa sesak, orang-orang terlalu banyak, suara-suara terlalu bising, tidak ada celah untuk bernapas. Beberapa minggu ke depannya saya akan terus seperti itu, hingga saya kembali terbiasa dengan hiruk pikuk Jakarta, dan mengulang traveling lagi ke kota kecil lainnya. Hal ini terjadi beberapa kali termasuk ketika saya ke Malang dan Cirebon tempo lalu.

Dan karena saya tak ingin menyimpan kesendirian yang diceritakan Aan Mansyur itu seorang diri, saya ingin membagikannya dengan kalian. Ada 1 buku Aan Mansyur berjudul Sebelum Sendiri, dengan tandatangan penulisnya, akan saya berikan kepada 1 orang yang menjawab pertanyaan singkat saya dengan unik. (ongkos kirim untuk alamat Indonesia saya yang tanggung, tentu). 

Tak perlu panjang, hanya perlu unik, gila, atau ya –entah, berikan saya jawaban yang tak biasa. Saya tak suka pada hal-hal yang terlalu biasa. Hahaha.

Cukup jawab saja 1 pertanyaan ini: Saya percaya bahwa tiap orang pernah sesekali merasa kesepian atau sendirian dalam hidupnya. Lalu, apa yang kamu lakukan untuk mengatasi perasaan tersebut?

Boleh jawab di kolom komentar, atau pun mention saya di Twitter: @kopilovie 🙂 yang penting adalah membagikan link postingan dan info pembagian buku ini di media sosial kalian. Barangkali saja jadi ramai yang ikut, kan? Saya tunggu hingga 1 Juni 2017 nanti.

Follow Twitter saya juga silakan. Follow Instagram random saya juga boleh banget, ada di @mput.99 Atau sesekali sapalah di salah satu foto saya. Tapi berbeda dengan pengguna Instagram lain, saya tidak menjanjikan follow balik karena bukan itu tujuan saya main IG. 😛

Tapi tidak wajib sama sekali follow blog ini. Saya termasuk orang yang merasa ribet follow antar blog –barangkali kalian pengguna blogspot, tumblr, medium, kompasiana, atau whatever, layanan selain WordPress.

Demikian saja. Silakan. Barangkali minggu depan salah satu penjawab yang paling kesepian adalah teman ngopi saya yang baru. Hahaha.

*

Update pemenang:

Halo! Karena saya termasuk orang yang agak malas membuat postingan baru tanpa tema yang jelas, dan kurang suka postingan terlalu pendek, jadi saya akan mengumumkan pemenang kuisnya di sini saja, ya!

Setelah saya membaca semua jawaban yang masuk, saya suka pada jawaban milik Lhona PS, pemilik blog ini. Silakan kirimkan nama, alamat lengkap, kode pos, dan nomor HP aktif ke petronela.putri@live.com atau dm ke Twitter @kopilovie 🙂

Terima kasih untuk semua yang sudah ikutan. Sampai jumpa di kuis nggak penting lainnya.

(Visited 170 times, 1 visits today)

19 thoughts on “Mengenai Apa yang Dipikirkan Manusia Tentang Kesendiriannya Sendiri

  1. Sebagai seorang yang enggak ahli memasak, saya malah mengalihkan kesepian saya ke dapur, bikin kue. Pokoknya kalau sudah bikin adonan fokus saya hanya tertuju di situ. Pikiran yang awalnya kelabu jadi dipenuhi pertanyaan: Sudah cukup ngembang gak sih? Gulanya berapa sendok? Ini kok warnanya beda sama di buku? Dan setelah jadi, entah enak atau enggak ada kepuasan tersendiri, karena saya tahu kalau saya sudah berusaha. Di saat itulah saya merasa bahwa kesepian bukan tentang enggak adanya teman, tapi kurangnya saya menghargai diri sendiri.

  2. Untuk mengatasi rasa kesepian, saya malah akan bepergian sendiri, mengelilingi kota dgn sepeda motor & menikmati alam (di tempat saya ada sebuah danau yg bisa dikunjungi) menikmati gemericik air yg menyentuh kaki, menikmati makanan yg dibawa sendiri, menikmati kegiatan org2 sekitar yg pastinya tdk sendirian sprti aku saat ini.
    ya! benar2 sendirian tpi tak akan lagi merasa kesepian karena alam memiliki cara sendiri untuk merangkul jiwa ini.

  3. Saya mengamini kesendirian dan kesepian dengan cara menikmatinya. Menangis, mendengarkan lagu yang saya sukai, membaca buku yang sama berulang kali, dan bangun lebih pagi. Klise sih, tapi menurut saya kesendirian itu seringnya dinikmati saja tidak usah dilawan. Kalau dilawan sakit kak ? lemesin aja

  4. Seperti kata Bung Karno, “Ada saatnya dalam hidupmu, engkau ingin sendiri saja bersama angin, menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata.”

    Jadi, jawaban gue untuk menghilangkan kesepian dan kesendirian, ya dengan menangis, Hm, iya nangis. Nggak salah baca, kok. Kalau udah ngerasa betul-betul nggak kuat, bantal dan guling yang akan menjadi saksi bisu betapa lemahnya seorang manusia. Kadang sajadah juga bisa, sih. Subhanallah~

    Selain dengan menangis itu, (ya lagian sekarang udah susah juga buat nangis) palingan yang bisa gue lakukan adalah menulis dan membaca. Menulis atau membaca bersama angin (maksud gue nulis/baca di kamar pakai kipas angin, biar gak gerah). Seringnya saat melakukan dua hal itu ditambah dengan mendengarkan lagu folk.

    Dengan begitu, gue merasa gak sepi ataupun sendiri lagi. Gue pun jadi merasa ramai, sebab gue ditemani suara-suara di kepala, suara kipas angin yang muter, suara tuts keyboard yang ditekan, dan tentunya suara musik yang mengalun merdu~

  5. Saya ngapain ya kalo ngerasa sendirian? Sepertinya kmaren2 itu nyari makan yg enak-enak (lah malah mikirin makan? Jawaban ndak mutu huehehe)

  6. Nah.. Ini unik. Merasa sendirian atau kesepiannya bagaimana dulu, kak?

    Kalau memang dalam kondisi enggk ada siapa-siapa, malah saya kadang suka, kak. Biasanya saya akan lebih leluasa berekspresi. Mau nyanyi selepas-lepasnya, mau bikin diary video sebebas-bebasnya (tanpa ada yang komen aneh-aneh di belakang), mau begadang sepagi-paginya buat nulis (tanpa ada yang rusuh nyuruh matiin lampu karena mau bobo’), dan kegiatan kece lainnya yang biasanya sering terbatas dikarenakan adanya orang kedua..ketiga..dan seterusnya.

    Namun kalau merasa sendirian atau kesepiannya dalam kondisi di tengah-tengah khalayak ramai, ya..saya biasanya merasa sedikit kikuk, kak. Kadang itu bisa ngancurin mood juga, kak. Biasanya saya langsung sok sibuk sama HP, buku, kalau enggak ambil kertas sama pensil…coret-coret..bikin tulisan kalau engga sketsa. Karena saya biasanya lebih dapet feel nulisnya kalau lagi bete.

    Yang penting itu kak, waktunya kita jangan sampe terbuang percuma hanya karena perasaan kesepian itu tadi, kak. Gitu aja sih, kak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *