Coretan

Semua Hal Memiliki Waktunya Sendiri

Photo credit: dari sini

Beberapa hari ini saya pikir banyak cerita sedih. Selain dengan ulang tahun dan beberapa kado, Mei saya lewati bersama sakit, puluhan butir obat yang menyebalkan, lelah, dan beberapa cerita tak enak dari kawan-kawan. Well, begitulah. Tema utamanya adalah: mengapa sahabat kita ‘pergi’ setelah mereka memiliki pasangan? Meski mungkin tidak semuanya begini, tetapi cerita-cerita yang saya terima temanya begini.

Saya pikir, sebagai manusia, kita akan melewati banyak hal. Banyak hal, pada waktunya masing-masing. Sahabat dan teman pergi atau tidak punya waktu main lagi untuk kita setelah punya pasangan -bahkan calon istri/suami, itu sungguh manusiawi. Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Memangnya siapa yang mau mengorbankan masa depannya demi orang lain –meski kamu temannya sejak kuliah sekalipun? Ada, tapi tidak banyak. Terlebih jika pasangan temanmu tidak mengenalmu dengan baik. Jarak akan datang pada waktunya.

Saya mendengar beberapa cerita serupa, kalimat-kalimat kecewa dan sedih. Tapi saya tidak bisa memberikan penghiburan apa-apa. Saya bilang pada seorang kawan yang sedih ditinggal ‘sahabat’-nya setelah punya suami: ada masanya, semua ada masanya. Kita nggak bisa menyalahkan siapa-siapa. Time flies and people changes. 

Sebab saya juga pernah beberapa kali merasakan hal yang sama dan saya merasa harus realistis untuk tidak menjadikannya sebuah drama. Buat apa? Hidup saya sudah banyak urusan, kalau saya kehilangan satu teman dan dia pergi bukan karena salah saya, untuk apa dipikirkan. Saya tinggal mencari kawan baru untuk main bareng. Saya terbiasa menerima bahwa dengan siapa pun kita dekat, mereka bisa pergi sewaktu-waktu -entah karena diambil orang lain, maupun diambil maut. Entahlah itu orangtua, sahabat, pacar, teman satu geng. Dan tidak ada yang bisa kita lakukan. Dan drama bukan opsi saya.

Mungkin juga karena saya anak tunggal, saya terbiasa sendiri. Sama seperti manusia normal lain, saya tentu punya sahabat. Tapi saya tidak menjadikan itu patokan. Saya pikir, ya sudahlah. Tiap orang punya prioritasnya masing-masing. Dan ketika sudah datang prioritas baru, kita tidak bisa protes atau mengganggu kehidupan mereka. Tepatnya, kita tak punya hak untuk itu. Teman tak punya hak sejauh itu 🙂

Cerita-cerita serupa terus datang. Umumnya karena cekcok antara pasangan si teman, tidak cocok, larangan untuk main bareng, dan lain sebagainya. Dan saya cuma bisa bilang, ya sudah, semua ada waktunya. Kamu pun tak sendirian. Ada sahabat yang lain, teman yang lain, adik/kakakmu, teman kantormu, semuanya.

(Visited 33 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *