Tempo hari saya main ke pulau. Tidak jauh, hanya salah satu bagian dari Kepulauan Seribu, masih di sini-sininya Jakarta juga. Di sana –seperti layaknya pulau yang lain, tentu kiri kanan lautan luas. Saya mendapati diri saya sudah duduk di atas perahu kecil sekitar pukul 1 siang, bersiap ikut jadwal snorkling. Bukan snorkling yang menarik perhatian saya, tapi justru lautan luas di kiri dan kanan.

Saya duduk di atas perahu, melihat gelombang air laut menari-nari, siap menelan siapa saja yang terjatuh –terlebih yang skill berenangnya amatiran seperti saya. Awan di langit mulai hitam. Saya sedikit cemas, kalau-kalau mendadak hujan. Tetapi saya melihat tour guide rombongan saya santai saja. Ia seolah sudah terlatih hidup di lautan, seperti punya antisipasi untuk segala situasi.

Tak lama, ternyata benar saja.. hujan mulai turun dan menjadi deras. Perahu kami berbelok ke sebuah pulau kecil. Di sana orang-orang berteduh, ada beberapa vila tak berpenghuni yang sudah tua dimakan zaman, tapi tak ada yang tahu pemiliknya. Pulau itu kalau tak salah namanya Pulau Perak, mungkin hanya digunakan para tour guide dari pulau lain untuk membawa rombongan berteduh jika hujan di tengah laut. Karena memang sedang musim liburan, pulau sepi itu menjadi ramai. Ada 1 warung buka dan dipadati pengunjung.

Saya dan beberapa kawan sempat membeli gorengan, mie instan, kopi, dan teh. Kami berteduh dan makan meski di sana tidak cukup nyaman. Warung yang sekecil itu digunakan untuk berteduh beramai-ramai. Karena tak muat, banyak yang makan sambil berdiri –termasuk saya dan teman-teman  saya juga. Mau bagaimana lagi, hujannya deras. Kalau makan mie instan cup di bawah hujan seperti itu, yang ada kuahnya bertambah.

Setelah reda, kami kemudian snorkling dan melihat bawah laut yang kurang menarik. Saya melihat ikan, tapi tak ada warna-warni bawah laut seperti yang dulu ayah saya perlihatkan di salah satu channel televisi luar negeri.  Bawah laut Jakarta memang tidak bisa dibilang bagus untuk mereka yang memang penggila snorkling. Tetapi karena saya anak baru dalam dunia sejenis ini, saya terima aja. Berenang aja masih terombang-ambing. Tetapi dengan menekan sedikit ketakutan, saya berhasil difoto di sana –di tengah laut. Saya merasa sebesar kutu yang tak terlihat ketika ada di sana.

Tiba-tiba terlintas gambaran kehidupan orang-orang laut di dalam kepala saya. Saya termasuk anak kota, yang manja akan koneksi internet. Masuk pulau dan koneksi non 4G adalah sebuah kemunduran buat saya –tanpa bermaksud jemawa. Ini dalam artian yang sesungguhnya. Saya merasa kecil, sebab terbiasa hidup dengan banyak kenyamanan –meski juga berisik, di sini, di Jakarta. Bagaimana kira-kira kondisi kehidupan sehari-hari mereka di sana? Yang rumahnya di tengah pulau kecil di atas lautan luas?

Tiba-tiba lagi, saya merasa air laut seperti nyanyian nina bobo yang menenangkan. Suara riuh mesin perahu seperti hilang terhalang debur air di laut. Saya membayangkan seseorang –entah siapa, yang hidup menyepi di tengah laut. Ada rumah kayu sederhana di pulau tak berpenghuni, ia menulis catatan hidupnya setiap hari, gantungan dari berbagai ukuran kerang berdenting-denting di jendela dan depan teras rumahnya, debur ombak sesekali membuatnya sadar bahwa hidup tak selamanya.

Tiba-tiba lagi, saya sadar itu sebagian dari sebuah bagian film Ruang yang pernah saya tonton beberapa tahun lalu. Waktu saya masih berpikir bahwa kehidupan seperti itu membosankan. Waktu saya belum rajin keluar dari Jakarta untuk mencari tempat yang lebih sepi –dan mengistirahatkan hati, pikiran, tenaga. Uhm, mungkin juga waktu saya kuliah, waktu masalah hidup hanya sebatas paper yang belum selesai atau uang kuliah yang menunggak karena belum waktunya menarik royalti tulisan. Entah, saya lupa. Pokoknya sudah lama.

Detik itu –dia atas perahu, tiba-tiba saja saya merasa sesekali perlu mencobanya. Pergi ke pulau yang agak private, melihat laut seharian sampai saya mengantuk, mungkin meditasi menjelang malam atau pagi-pagi sekali. Membaca buku dua jam, kemudian menjilati es krim 2 scoop dalam 1 cone tanpa takut merasa gemuk, menyeruput kopi dingin, bernyanyi, berenang walau skil berenang saya payah sekali. Melihat orang asing di sebelah kamar melakukan hal yang sama kemudian menertawakan diri kami masing-masing atas  kesepian yang kami cari-cari sendiri. Mungkin juga bergumam, “dasar anak kota!”

Saya pikir sesekali saya perlu mencobanya. Air laut menyadarkan saya bahwa Jakarta memang masih terlalu riuh. Dan ketika saya sadar bahwa seluruh kata-kata saya atas tulisan ini sudah selesai ditumpahkan, saya ‘terbangun’ di sebuah kedai kopi di tengah Jakarta.

Suara-suara pelayan dan tamu lain menyeruak masuk kembali di telinga. Meski Koffie Soesoe Indotjina kemudian menyelamatkan saya dari keributan yang mengganggu.

Ternyata saya sudah di rumah (yang berisik ini lagi).

(Visited 28 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *