Karena nggak tahu mau menghabiskan waktu ke mana, akhirnya saya dan beberapa teman memutuskan jalan ke Kepulauan Seribu pada lebaran kemarin. Salah satu alasan memilih wisata laut adalah menghindari macet. Meski wisata laut nggak bisa dibilang sepi sebab dek kapal masih seperti isi kaleng sarden, setidaknya lebih cepat tiba di tujuan sebab lautan berbeda kondisi dengan tol Jagorawi.

Saya dan 3 teman berangkat dari Jakarta –tepatnya Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, pukul 8 pagi. Tiba di Pulau Harapan –yang letaknya nggak jauh dan nggak terlalu dekat itu, sekitar pukul 11. Kami langsung diantarkan ke homestay dan diberi jatah makan siang. Setelahnya, ada waktu untuk bersiap sebentar sebelum akhirnya langsung turun ke laut untuk snorkling.

Acara snorkling kami sempat agak drama karena di tengah perjalanan laut itu hujan badai turun. Akhirnya menepi di salah satu pulau sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Untungnya, 2 sesi snorkling nggak batal, tetap dilakukan sampai sore. Sebagai newbie dalam dunia snorkling, saya berkali-kali keselek air laut, tapi gilanya saya sempat ketawa ngakak di tengah laut karena ada 1 perahu yang berhenti di samping perahu rombongan saya –isinya sekelompok laki-laki bertelanjang dada yang snorkling sambil nyetel musik dangdut. Saya jadi sempat lupa bahwa saya takut tenggelam (ya, maklum, namanya juga pemula. Udah pakai rompi tetap takut tenggelam) dan ketawa ngakak sampai harus buka selang & kacamata, keselek air asin, baru lanjut snorkling lagi.

Hanya saja, pulangnya juga kembali diserang hujan sampai badan saya berasa seperti nugget beku. Di tengah laut hujan-hujan, anginnya kencang, disiram air,  mengigil. Tapi ya tetap jadi pengalaman yang asyik, sih. Jarang-jarang juga liburan ke laut. (Saya anak darat, sih, sebenarnya. Karena nggak suka bawa pulang baju kotor dalam keadaan basah).

This slideshow requires JavaScript.

Dan agaknya kami kebagian travel agent yang kurang aktif pula. Makan malam telat diantar, kelaparan usai snorkling tidak bisa langsung diganjal makanan. Tidak ada pemberitahuan apa pun, teman serumah saya menelepon berkali-kali ke PIC tapi panggilan ditolak atau dialihkan. Saya merasa ini kurang sopan. Ralat, nggak sopan. Kami berhak tahu mengapa makanan kami tidak diantar pada waktunya, semasuk akal atau setidak masuk akal apa pun alasannya!

Dan lagi, saya mendapat rumah yang kecil dengan 2 kamar sementara kami ada 10 orang. Rumah tersebut dianggap 3 kamar oleh pihak travel agent karena ruang TV juga diberi kasur –tapi tanpa sprei dan tanpa bantal dan tanpa AC. Dan kasur-kasur besar itu tidak bisa digabungkan dalam  1 kamar. Harga tripnya juga nggak bisa dibilang murah meriah, harusnya harga standar untuk trip ke Pulau Seribu. Saya pernah ikut trip ke Dieng dengan travel agent yang berbeda, mendapat harga yang lebih murah daripada travel agent lain, tapi tetap diberi homestay yang bagus, plus makan yang nggak telat dari itin-nya.

Kalau ke sana cuma sendiri atau berdua, mungkin saya udah ngamuk parah. Tapi karena beramai-ramai –ditambah ada kenalan teman baru yang kebetulan serumah dan orangnya ramai pula, kemarahan saya bisa diredam. Saya galak kalau lapar. Rawr!

Keesokan paginya, di jadwal harusnya ada jam mengejar matahari terbit alias sunrise. Tetapi tour guide bahkan tidak menyambangi kami di rumah. Kami tidak tahu kontak tour guide kami sendiri –karena dia juga hampir nggak pernah kelihatan pegang ponsel, dan kami tidak tahu di mana rumahnya. Alhasil, kami jalan sendiri berburu sunrise, untung masih kebur dan nggak telat bangun.

Benar-benar banyak yang kecolongan dari trip kemarin, tapi karena beramai-ramai (diulang) jadinya tetap asyik. Kami menghabiskan pagi dengan berburu matahari terbit plus foto yoga di pelabuhan. Setidaknya saya puas karena pemandangan dari pelabuhan cukup bagus. Tour guide sampai harus menunggu di gerbang pulau karena kami nggak pulang-pulang, hahaha. Akhirnya sekitar pukul 9 pagi diajak ke pulau Bira Kecil, tak jauh dari sana, untuk cuci mata.

Dan sama seperti ketika saya di tempat lain, hal pertama yang saya cari di pulau adalah ayunan. Whoa, I love ayunan. Hahaha. Pulau Harapan bisa dibilang nggak punya banyak hal menarik, termasuk ayunan. Ada satu dua ayunan kecil tapi bukan di tepi pantai. Sedangkan pulau lain di sekitarnya punya ayunan pohon, besar, dan banyak. Makanya saya malah berburu ayunan di pulau lain, alih-alih di tempat saya menginap.

Menurut teman lain, lebih bagus Tidung dan Pari. Sekali lagi, karena bukan anak laut, saya hanya mencerna diam-diam. Mungkin kapan-kapan saya harus mencoba pulau lain juga. Sebelumnya, mungkin saya harus membeli tas kamera yang anti air. Perjalanan di laut sangat berbahaya bagi kamera manja sepeti kamera saya. Apalagi, bukan tipe action cam. Tapi saya tetap senang membawa kamera itu ke mana-mana dan memang selalu dibawa tiap kali liburan. Dan rumitnya, saya tidak pandai menyimpan/memanfaatkan barang sejenis yang jumlahnya lebih dari 1, maka saya memutuskan tidak membeli Go-Pro atau jenis kamera action cam lain. Takut mubazir. Pilihan saya cuma satu: beli tas kamera anti air. Setidaknya harganya tidak semahal sebuah action cam baru juga.

Makanan yang dihidangkan di pulau itu pun biasa saja, menurut lidah saya, sih. Makanan sederhana sehari-hari yang dimasak sendiri, dalam jumlah yang pas untuk dimakan serumah. (kecuali cumi goreng tepungnya yang kurang banyak). Nilai plusnya, mereka tak lupa menyertakan buah dalam jatah makan, nah saya suka bagian ini.

Sisanya apalagi ya. Harga makanan di warung-warung tengah pulau juga sama dengan harga makanan di Jakarta. (Indomie, nasi goreng, soto, dan minuman seperti kopi atau teh). Tak ada yang berbeda, dan kalau kalian jajan sewajarnya, tidak terlalu banyak pengeluaran di sana sebab semua sudah dicover biaya trip. Cuma mungkin yang membedakan adalah pelayanan travel agent yang kalian pilih.

Tour guide saya ramah dan baik, dan asyik. Sayangnya pelayanan travel agentnya sedikit elek. Pasif juga. Jadi ya begitulah perjalanan kami kemarin.

(Visited 33 times, 1 visits today)

2 Thoughts to “Trip Edisi Lebaran: Pulau Harapan”

  1. uh, pulau harapan.. terakhir desember lalu mainnya ke pulau tidung sih, kalau pulau harapan banyak yang bilang oke bingits tapi saya belum pernah ke situ. Kalau travel agent pulau seribu pasif emang gak seru, serunya mah yang bisa memecah suasana.. jadi lebih friendly aja kesannya yak

    1. Menurut teman saya malah bagusan Tidung sebab semua ada. Di Harapan bahkan nggak ada sepeda, lho 🙂 Tidung dan Pari kabarnya ada. Harapan ini hanya sekadar pulau. Wisatawan harus dibawa ke singgah pulau-pulau lain tiap kali keluar, cuma buat cuci mata. Bahkan guyonan teman saya, pulau Harapan benar-benar memberikan segudang harapan palsu :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *