Photo credit: Pexels

Ini mungkin sebuah postingan yang agak out of topic dari yang biasa saya tulis, tapi sungguh membuat saya penasaran –dan memang baru terpikirkan belakangan ini, sih.

Kalau kalian sebagai perempuan, jalan sama lelaki, siapa yang bayar makan/minum/nonton/ whatever kegiatan kalian seharian itu?

Oh, sebentar, mungkin juga sikonnya berbeda-beda. Kalian boleh posisikan hubungan kalian sekadar kenalan biasa, sahabat, atau pacar. Tetapi tidak bagi yang sudah menikah. Saya nggak mau menyentuh ranah rumah tangga –yang notabene biasanya dianggap sebagai tanggung jawab lelaki sepenuhnya. Satu, karena saya belum sampai di tahap sana. Dua, karena itu mulai berat dan serius pula bahasannya.

Anggaplah pada sebuah kasus, hubungannya kenalan atau teman biasa. Saya pernah jalan dengan lumayan –yaa, lumayan memang (begitulah), banyak laki-laki. Mulai dari yang hanya sekali ketemu, lalu lewat begitu saja karena memang tidak ada keperluan lain lagi, sampai yang ketemunya rajin dan bikin drama. Pernah.

Misalnya, saya pernah ketemu seorang mas-mas baik hati karena ingin riset untuk tulisan. Kebetulan profesi dia sama dengan tokoh novel saya. Sikonnya jelas, saya butuh info. Saya yang butuh dia. Kami lalu janjian di kedai kopi favorit saya di pusat Jakarta. Tetapi ketika selesai chit chat seru seharian, dia berkeras membayar semua pesanan. Saya merasa sangat tidak enak, tapi juga tidak bisa menolak. Kata beberapa orang, sebagian lelaki merasa amat bertanggung jawab dan bisa terluka kalau usahanya untuk bertanggung jawab ‘ditolak’. Katanya, lho…

Meski demikian, sebenarnya apa pun hubungannya, saya lebih suka segala sesuatu yang adil. Misal, waktu sama mantan saya, kalau jalan –baca: dulunya kan pacaran, toh, saya sepakat untuk bayar sendiri-sendiri. Termasuk nonton. Kecuali di saat tertentu salah satu dari kami ketiban rezeki, kami saling traktir. Menurut saya itu paling adil. Tiada yang lain.

Pernah juga saya dekat dengan seorang kawan lelaki karena kami sama-sama suka ngopi dan berburu kafe baru. Kami sering bertemu, dia menjemput saya ke kantor kadang. Dan bayarnya gantian. Misal ketemuan hari ini, dia bayarin semua. Ketemuan berikutnya, saya bayarin semua. Saya merasa kesepakatan kami cukup adil dan menyenangkan. Saya senang dan kenyang, dia juga.

Itu beberapa kasus yang pernah saya alami sendiri. Meski tidak semua lelaki membayar penuh pesanan dan whatever kegiatan kami seharian itu, saya pikir tak masalah. Itu bukan tanggung jawab mereka, meski salah satunya pacar saya sekali pun. Saya pikir tanggung jawab adalah ketika setelah menikah.

Tanggung jawab itu kan harus seimbang dengan kewajiban. Alasan saya tak ingin apa-apa dibayarin pacar juga dulunya, karena saya tak ingin ada kewajiban. Kewajiban mematuhi segala yang ia katakan, yang ia suruh, yang ia inginkan. Saya pikir, pacar tak harus sejauh itu. Ia bukan bapakmu, bukan suamimu, terus mosok kamu harus ngikutin maunya dia hanya karena kamu terlanjur bergantung secara finansial? Setelah saya pikirkan jauh-jauh, saya rasa saya tak ingin jadi perempuan seperti itu. Sebisa mungkin tidak. Meski saya pun tak pernah tahu bagaimana nasib finansial ke depannya dan seterusnya.

Saya pikir, ketika ‘jalan’ sama laki-laki yang penting adalah kebersamaannya. Di luar itu –termasuk masalah uang, masa bodo. Mau dibayarin terserah, bayar masing-masing pun oke karena lebih adil. Kasihan aja kalau semua perempuan maunya dibayarin laki-laki pas jalan bareng, terus di kali lain masih teriak-teriak minta kesetaraan gender. Bagian enaknya, ndak apa ndak setara, tiba bagian gak enaknya, teriak-teriak harus setara. Puyeng, kan?

Kasihan aja sebagian lelaki yang mungkin di luar sana dibebani tanggung jawab besar bahkan sebelum jadi suami. Harus ngasih nafkah keluarga inti, ngasih nafkah pacar yang belum tentu jadi istri pula, ngikutin keinginan-keinginan pacar makan sana-sini, nonton sana-sini. Wealah, walau saya pun bukan perempuan sabar, kayaknya saya juga ndak tega nyiksa lelaki kayak gitu. *elus dada ayam*

Meski dulu-dulu sekali, saya memang sering juga dibayarin terutama kakak kelas saya. Ehe. Soalnya waktu kuliah siapa sih yang nggak bokek? Semua pernah merasakannya, ya kecuali kamu keluarga tajir melintir yang nggak perlu takut kelaparan akhir bulan. Sejak dulu saya selalu berteman sama orang yang lebih tua. Ketika main dengan kakak-kakak ini –yang dulu sebagian besar sudah bekerja, saya selalu ketiban dijadikan dedek dan dibayarin ini-itu. Waktu itu kapasitas saya terbatas, jadi saya nikmati saja.

Berbeda keadaannya jika sekarang saya jalan lagi sama lelaki –entah yang mana (LOH), saya jadi agak kurang enak kalau dibayarin. Saya selalu merasa itu bukan kewajiban mereka, dan ada hasrat pengin ngajak ketemuan lagi lalu ntraktir balik. Nggak ada salahnya, kan? Terlebih kalau menurut saya ia kenalan yang asyik diajak ngobrol atau sharing berbagai hal. Mungkin nasibnya akan seperti kawan dekat yang saya ceritakan di atas –bisa ketemuan kapan saja, asal jadwalnya cocok, lalu ngobrol sampai bantet.

Wah, saya kangen punya kenalan lelaki yang bisa saya ajak ke mana-mana. Kadang lelaki itu lebih sederhana daripada perempuan. Satu hal yang saya suka, makhluk jantan ini sukanya to the point. Mau ke mana ya ke mana, mau makan apa ya makanlah. Ndak ribet, apalagi semena-mena batalin janji h-sekian jam. Nope.

*

Artikel dengan tema sama sudah diposting di Opini ID

(Visited 31 times, 1 visits today)

2 Thoughts to “Perempuan Jalan Sama Laki-laki, Terus Siapa yang Bayar?”

  1. Saat pacaran dulu sih ya gantian aja soal bayar2an ini. Dan ya saya setuju soal tu de poin itu, mau makan misalnya, tinggal tunjuk mau kmana, beres hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *