Photo Credit: Pexels

Tiba-tiba saja tempo hari salah satu grup saya yang berisi beberapa orang bloger membahas topik mengenai e-book bajakan. Pembahasan mengenai e-book bajakan ini bermula ketika seorang penulis yang cukup terkenal misuh-misuh tentang pembajakan –kemudian warganet menyerangnya kembali dengan sebuah tweet lamanya yang ketika itu sedang-ingin-belanja-kaset-bajakan.

Di Instagram ada banyak banget!

Seperti yang kita tahu, warganet kita memiliki ketajaman komentar yang sulit dibantah. Dan dengan cepat, tema itu merambah grup-grup chat yang saya ikuti. Kebetulan, salah satunya kemudian membahas e-book bajakan. Yang paling menyakitkan selain karya dibajak, barangkali adalah harga jual e-book bajakan itu sendiri. Sungguh harganya di luar nalar. Sebuah buku cetak yang asli bisa dijual Rp 50.000,- ke atas. Biasanya, harga jual buku asli versi cetak dan versi digital takkan jauh berbeda. Barangkali hal inilah yang menyebabkan banyak orang mau membeli e-book bajakan.

Terlebih, bisnis e-book bajakan tampak seperti jaringan mafia kecil-kecilan yang sudah mendarah daging di negara ini. Yang saya tahu, 1 admin toko online penjual e-book bajakan itu tak pernah sendiri. Mereka punya bandar –mari kita sebut saja begitu, yang biasa mereka panggil sebagai ‘pusat’. Bandar atau pusat inilah yang menyediakan data-data e-book bajakan untuk mereka jual kepada pembeli –plus iming-iming bisa dibayar menggunakan pulsa, jika tidak memiliki rekening bank.

Berbekal rasa penasaran, saya kemudian menelusuri toko-toko online di Instagram yang menjual e-book bajakan dan mendapatkan beberapa fakta agak mengejutkan.

  1. Penjual e-book bajakan rata-rata masih muda, bahkan remaja

This slideshow requires JavaScript.

Bagaimana saya menelusuri bisnis terlarang ini? Ya, mau nggak mau saya terjun sendiri berpura-pura sebagai pelanggan yang ingin membeli. Saya mengontak dua toko sekaligus. Anehnya, keduanya memberikan respon yang jauh berbeda. Mari saya jabarkan satu-satu.

Di toko pertama saya membeli 1 judul buku milik Bernard Batubara –Luka dalam Bara. Mulanya sang admin cukup ramah, saya tidak tahu dia lelaki atau perempuan, kan. Dan saya penasaran dia usia berapa. Saya DM dia di Instagram, kemudian dia membalas. Mau tak mau juga, saya mengorbankan uang Rp 15.000,- dalam bentuk pulsa Telkomsel untuk membeli e-book bajakan yang ia jajakan demi bisa berkomunikasi dengannya langsung.

Setelah saya mengirimkan pulsa, si admin add ID LINE saya sesuai kesepakatan dan mengirimkan link yang menurutnya harus saya buka dan di sanalah saya bisa mengunduh e-book bajakan pesanan saya. 1 link untuk 1 judul buku, sebab database mereka rapi. Semua judul memiliki nomornya sendiri. Dan saya melihat langsung foto adminnya, saya berani bertaruh usianya bahkan masih lebih muda daripada adik saya yang sedang kuliah. 

Tetapi kebetulan waktu itu ternyata database-nya error dan data di link itu hilang. Kebetulannya lagi hari yang sama, seorang kawan saya yang bekerja di penerbitan mayor menghebohkan isu e-book bajakan dan toko yang saya tuju itu termasuk yang disebarkan ke khalayak –bahwa ia menjual buku bajakan, blablabla. Barangkali juga karena faktor ‘ketahuan sama penerbit’ inilah, bandar e-book bajakan menjadi panik dan beberapa toko buru-buru mengunci akun Instagram mereka. Toko yang saya tuju ini pun termasuk salah satunya.

This slideshow requires JavaScript.

Database error, adminnya meminta saya mengganti pesanan ke judul lain, tetapi sialnya judul lain pun tak bisa diunduh dengan sukses. Saya menuntut uang saya dikembalikan, tapi tidak ada respon lagi dari adminnya. Bahkan ia berubah ketus. Kasus e-book bajakan ini kemudian perlahan berubah jadi kasus hit & run alias transaksi penipuan.

Di toko kedua, saya merasa adminnya lebih jujur –meski saya tidak bisa memungkiri bahwa ia tetap salah dengan menjual e-book bajakan. Ia berkata jujur bahwa database dari pusat itu eror jadi saya tidak bisa membeli. Saya tanyakan harga reseller padanya, dan alasan mengapa tiap toko e-book bajakan mematok harga reseller yang berbeda-beda.

Yap, tiap toko e-book bajakan di Instagram itu BUKA RESELLER! Mereka menjual kembali segepok database tersebut kepada orang lain yang juga ingin melakoni bisnis haram tersebut.

Menurut admin toko kedua ini, harga reseller bisa berbeda karena kadang faktor pusatnya juga beda. Saya kurang percaya bagian ini, sebab menurut saya ada 1 bandar besar yang mengepalai mereka semua. Sebab ternyata password data e-book bajakan mereka sama semua. Yap! Again! Mereka menggunakan 1 password yang sama, uhlala~

  1. Mereka bahkan mungkin tidak tahu bahwa bisnis mereka terlarang. Kalau pun tahu, mereka tak peduli dan tidak tahu bahwa risikonya besar!

Karena perlakuan sopan si admin toko kedua, saya tiba-tiba merasa kasihan pada mereka yang melakoni bisnis e-book bajakan. Mereka rata-rata masih muda dan apakah mereka tahu bahwa ini salah?

Mungkin sebagian besar tahu, tetapi memilih menjadi bebal seperti admin toko pertama. Bahkan ketika transaksi gagal pun, ia jadi kabur dan tidak mengembalikan pulsa yang saya kirimkan di awal.

Tetapi yang paling membuat saya sedih, apakah mereka tahu bahwa menjual e-book bajakan itu sangat berisiko? Pelanggaran hak cipta punya aturan yang bisa menjerat pelakunya ke dalam bui hingga kewajiban membayar denda yang nominalnya tak sedikit. Camkan itu, anak muda!

  1. Mereka memiliki seorang bandar besar yang mereka sebut sebagai ‘pusat’

Berhubungan dengan poin 1, setelah saya telusuri, mereka memang memiliki atasan yang sama. Meski mungkin jaringannya sudah melebar dan mereka bahkan tidak tahu siapa ‘bandar besar’ alias ‘pusat’ yang sebenarnya memulai bisnis ini di awal.

  1. E-book bajakan disimpan dalam satu database besar, passwordnya sama

Database-nya sama! Ketika satu toko mengeluh database mereka error, di toko lain pun kamu takkan bisa membeli e-book bajakan, sebab database-nya pun otomatis akan error. Kesimpulannya? Yap, mereka berada dalam satu naungan yang sama –entah mereka sadar atau tidak.

  1. Selain pembajakan karya dan pelanggaran hak cipta, ada indikasi penipuan (hit & run) di salah satu toko yang saya telusuri

Masih berhubungan dengan poin 1, tidak semua admin penjual e-book bajakan ini jujur. Kalau udah gini,  kesalahannya jadi berkali-kali lipat. Udah melanggar hak cipta orang, jualnnya juga nggak bener dan melarikan uang pembeli. Duh, saya kasihan. Seharusnya ada banyak cara halal lain untuk menjalankan usaha dan mencari rezeki.

Photo credit: Pexels

Overall, tahukah kalian bahwa dari tiap e-book yang kalian bajak, kalian merugikan penulis buku tersebut? Royalti mereka berkurang sebab orang bisa membaca karya mereka dalam versi bajakan alih-alih membeli yang aslinya. Selain itu, jika ingin berbisnis dan mencoba mencari rezeki selagi muda –setidaknya tidak dengan cara merebut rezeki orang lain juga, kan, wahai penjual e-book bajakan?

(Visited 39 times, 2 visits today)

4 Thoughts to “Bisnis E-book Bajakan, Salah Satu Alasan Pentingnya Mengajarkan Tentang Hak Cipta Pada Generasi Muda”

  1. ..di satu sisi, pembajakan ebook itu salah. Di sisi lain, harga buku masih relatif mahal..

    Dilematis memang

    Solusi terbaik mungkin dari kita sendiri untuk tidak tergoda membelinya

    Kalo saya masih nyaman baca buku fisik daripada ebook, nikmatnya beda, makanya skarang lebih seneng beli buku2 bekas tapi yg aseli, lha kalo ga hati2 buku bajakan macam di Kwitang dulu juga masih banyak beredar hehe

    1. Ada alasan juga mengapa buku cetak harganya semakin mahal, selain itu toko buku nomor satu di negara kita ternyata kejam sama penerbit meski anaknya sendiri. Semuanya masalah bisnis, om. Bahkan mereka juga lagi kelimpungan, nggak menggunakan nama ‘toko buku’ lagi di depan nama mereka setelah re-branding beberapa waktu kemarin, hanya menggunakan titel ‘toko’ saja. Kata temanku yang kerja di bawah perusahaan raksasa itu sih, ada kemungkinan mereka akan beralih lebih banyak menjual benda lain seperti tas ransel, notebook, alat olahraga, dan hal lainlah pokoknya selain buku. Kalau dulu kan benda lain hanya penyemarak, buku tetap produk utama. Tapi sekarang bisnis buku memang lagi turun. Apalagi buku cetak.

      Makanya, dengan pembajakan gini, malah lebih menurunkan bisnis buku cetak.
      Alangkah lebih baik menabung dan membeli yang asli, atau beli bekas asal asli pun lebih tak apa.
      Membajak kan sama dengan mencuri. Terus gimana kita mau memajukan literasi Indonesia, kalau karya anak bangsa masih terus dicuri 🙂 Sementara harga produksi buku malah semakin mahal. Dua kali tekanan untuk pihak penerbit dan toko buku dr sisi produsen.

  2. kesalahan utama para penerbit buku tuh, harga buku asli dijual sama dengan harga ebooknya. harusnya ebook lebih murah.

    Klo mau beli ebook resmi ya harus di toko resmi, jangan di sosmed atau toko umum lainnya yang tidak mencantumkan lisensi agent.

    1. Mungkin semuanya paham ada poin kedua, tapi masalah ini ada ya karena poin pertama. Perkara harga, sih. Rata-rata juga yang beli mungkin anak sekolahan yang memang jajannya nggak sebanyak itu, tapi buku baru kan ada terus. Pilihannya ya akhirnya ke e-book bajakan –meski sebenarnya nggak boleh.

      Tapi setuju banget dengan poin pertama. Harganya kurang lebih sama, padahal harusnya bisa jauh berbeda. Coba kalau murahnya jauh –maksimal setengah harga cetak aja deh, orang akan tetap beli e-book resmi dan nggak membajak sana-sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *